Tuhan kasih kami hati Daud

Kamis, 4 Juni 2026 - 21:10 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_131072

Oplus_131072

KASUS “sandiwara hukum” + pergantian pejabat = korupsi baru, itu udah jadi siklus dari zaman dulu.

Raja Ahab & Izebel – 1 Raja-raja 21

Nabot nggak mau jual kebun anggur. Izebel “atur skenario”: cari saksi dusta, vonis Nabot, lalu rampas tanahnya. Ahab? Diem aja, terima hasilnya. Waktu nabi Elia datang menegur, Ahab nangis + puasa. Kelihatan sedih. Tapi sedihnya bukan karena Nabot mati, tapi karena hukumannya berat. 1 Raja 21: 27

“Setelah Ahab mendengar… ia mengoyakkan pakaiannya”. Tuhan masih kasih pengampunan, tapi kerusakan sistemnya udah terjadi.

Pilatus – Matius 27

Dia “basuh tangan” di depan orang banyak. Bilang “Aku tidak bersalah”. Ekspresinya kayak nggak tega. Tapi tetap salibkan Yesus demi jaga kursi gubernur. Sedih? Iya. Tanggung jawab? Nggak.

Pandangan Alkitab soal “pimpinan yang seakan sedih”

Alkitab bedain 2 hal: ratap vs bertobat.

  • Ratap = sedih karena kena dampaknya. Kehilangan muka, kehilangan jabatan, kena sanksi. Itu yang Ahab & Pilatus lakuin.

  • Bertobat = sedih karena Tuhan didukakan + sesama dirugikan. Lalu ada aksi: kembalikan, ganti rugi, bongkar sistem. Contoh Daud setelah dosa dengan Batsyeba. Mazmur 51: “Kasihanilah aku ya Allah… terhadap Engkau saja aku berdosa”. Habis itu dia nggak ulang lagi.

Amsal 29: 2 “Jika orang benar bertambah, bersukacitalah rakyat, tetapi jika orang fasik memerintah, berkeluhkesahlah rakyat”.

Tuhan nggak lihat air mata di depan kamera. Dia lihat: sistem dirubah apa nggak, korban dipulihkan apa nggak.

Nah renungan malamnya bisa ditarik gini kawanku:

Tema: “Air Mata Pilatus“

Ayat kunci: Matius 27: 24 – “Pilatus melihat… ia mengambil air dan membasuh tangannya di hadapan orang banyak”

3 poin renungan:

  1. Sandiwara kesedihan: Gampang nangis di depan publik. Susah nurut di depan Tuhan. Penjaga Taman yang bener itu bukan yang drama, tapi yang berani bersihin taman walau kotor tangannya.

  2. Pergantian ≠ Pertobatan: Ganti kepala doang nggak bikin sistem sembuh. Yehezkiel 34: Tuhan marah ke gembala yang cuma mikirin diri. Solusinya: Gembala Sejati datang.

  3. Tanggung jawab kita: Kita nggak bisa jadi Kejaksaan Agung. Tapi kita bisa jadi “Nabot” yang nggak jual kebun anggurnya. Nggak jual integritas walau ditawarin. Nggak jual meja makan keluarga demi “sukses”.

Doa penutup:

“Tuhan, jangan kasih aku air mata Pilatus yang cuma buat pencitraan. Kasih aku hati Daud yang hancur kalau salah, dan tangan Nabot yang nggak mau jual warisan. Jadikan aku penjaga taman kecilku: rumah, kantor, RT. Amin.”

Penyebar: shalom.click | Ebenezer

Berita Terkait

Yesus, Roti kehidupan sejati
Karena kita telah lebih dahulu dikasihi
Jangan takut, Tuhan ada bersamamu
Ketika Gereja dipanggil hadir di tengah krisis kemanusiaan dunia
BELALANG tidak punya Raja, tapi tahu cara bersatu
Lagi Ikutin Tuhan… atau Cuma Ngikutin Ego?
Harapan di Tengah Tekanan Ekonomi
Ketika Pajak Menjadi Beban: Belajar dari Raja Rehabeam dan Suara Para Nabi
Berita ini 7 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 16 Oktober 2026 - 12:34 WIB

Yesus, Roti kehidupan sejati

Jumat, 2 Oktober 2026 - 07:43 WIB

Karena kita telah lebih dahulu dikasihi

Jumat, 28 Agustus 2026 - 06:58 WIB

Jangan takut, Tuhan ada bersamamu

Rabu, 19 Agustus 2026 - 10:55 WIB

Ketika Gereja dipanggil hadir di tengah krisis kemanusiaan dunia

Selasa, 11 Agustus 2026 - 12:11 WIB

BELALANG tidak punya Raja, tapi tahu cara bersatu

Berita Terbaru

SULUH ZAMAN

Yesus, Roti kehidupan sejati

Jumat, 16 Okt 2026 - 12:34 WIB

SULUH ZAMAN

Karena kita telah lebih dahulu dikasihi

Jumat, 2 Okt 2026 - 07:43 WIB