“Dari Hagar hingga Yesus, Alkitab menunjukkan bahwa setiap tangisan memiliki makna di hadapan Tuhan.”
SELAMAT malam, kawan shalom.click.🌿
AIR MATA dalam Alkitab bukan sekadar tanda kesedihan. Air mata sering menjadi bahasa jiwa yang paling jujur di hadapan Tuhan.
Secara kronologis, kata “menangis” sudah muncul sangat awal dalam kitab pertama Alkitab, yaitu Kejadian.
Salah satu kemunculan awal yang penting terdapat dalam kisah Hagar.
Ketika ia dan anaknya, Ismael, diusir ke padang gurun, Hagar menangis karena merasa tidak berdaya.
Namun Tuhan mendengar tangisan mereka dan menolong mereka (Kejadian 21: 16-19).
Namun jika pertanyaannya adalah “dalam kitab nabi apa air mata mendapat penekanan khusus?”, maka jawabannya sering diarahkan kepada Yeremia.
Ia bahkan dikenal sebagai “Nabi yang Menangis”. Dalam kitab Yeremia dan Ratapan, air mata menjadi simbol kesedihan mendalam atas dosa bangsa dan kehancuran Yerusalem.
Yeremia berkata: “Ah, sekiranya kepalaku penuh air dan mataku menjadi pancuran air mata…” (Yeremia 9: 1)
Di sini air mata bukan tanda kelemahan, melainkan tanda kasih yang terluka karena melihat manusia menjauh dari Tuhan.
Apa pesan Alkitab tentang air mata?
Air mata tidak disembunyikan dari Tuhan Tuhan melihat tangisan yang tidak dilihat manusia. Hagar, Hana, Daud, Yeremia, bahkan Yesus sendiri pernah menangis.
Air mata bisa menjadi doa Kadang seseorang tidak lagi sanggup berkata-kata.
Namun tangisan di hadapan Tuhan pun dipahami-Nya.
Pemazmur berkata: “Sengsaraku Engkaulah yang menghitung-hitung, taruhlah air mataku ke dalam kirbat-Mu.” (Mazmur 56: 9)
Seolah-olah tidak ada setetes pun air mata yang luput dari perhatian Tuhan.
Air mata dapat menjadi jalan pemulihan Banyak tokoh Alkitab mengalami pemulihan justru setelah mereka mencurahkan air mata di hadapan Tuhan.
Tuhan sendiri menangis Dalam Perjanjian Baru, Yesus Kristus menangis ketika melihat kematian Lazarus (Yohanes 11:35). Ini menunjukkan bahwa Tuhan memahami penderitaan manusia, bukan dari kejauhan, melainkan dengan turut merasakannya.
Air mata tidak akan berlangsung selamanya Puncak pengharapan Alkitab terdapat dalam Wahyu: “Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka.” (Wahyu 21: 4)
Artinya, air mata adalah bagian dari perjalanan hidup di dunia yang rusak, tetapi bukan tujuan akhir umat Tuhan.
Benang Merahnya
Alkitab tidak pernah mengajarkan bahwa orang beriman tidak boleh menangis. Justru sebaliknya.
Air mata sering menjadi bukti bahwa hati masih hidup, masih mengasihi, masih berharap, dan masih bersandar kepada Tuhan.
Jika dosa menghasilkan air mata pertobatan, penderitaan menghasilkan air mata ketekunan, maka pengharapan kepada Tuhan pada akhirnya akan menghasilkan air mata sukacita.
Seperti kata pemazmur: “Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai.“
Mungkin itu salah satu pesan terindah Alkitab tentang air mata: Tuhan tidak selalu segera menghentikan tangisan kita, tetapi Dia berjanji bahwa tidak ada air mata yang sia-sia di hadapan-Nya. 🙏🏻🌿
Penyebar: shalom.click | Ingot Simangunsong









