DALAM pemahaman Kristen, manusia sering dipahami terdiri dari tubuh, jiwa, dan roh (1 Tesalonika 5: 23).
Jiwa berkaitan dengan pikiran, perasaan, dan kehendak, sedangkan roh adalah bagian terdalam manusia yang berhubungan dengan Allah.
Apa yang terjadi jika jiwa dan roh tidak berjalan selaras?
Ketika roh rindu mengikuti kehendak Tuhan, tetapi jiwa dipenuhi ketakutan, ambisi, kemarahan, atau keinginan duniawi, maka terjadilah pergumulan batin.
Gejalanya bisa berupa:
Rajin beribadah tetapi hati terasa kering.
Mengetahui firman Tuhan, tetapi sulit melakukannya.
Mudah cemas meskipun percaya Tuhan memelihara.
Mengaku mengasihi Tuhan, tetapi keputusan hidup lebih dikendalikan ego dan emosi.
Kehilangan damai sejahtera.
Rasul Paulus menggambarkan pergumulan semacam ini dalam Surat Roma ketika ia berkata bahwa ia melakukan apa yang tidak ingin dilakukannya dan gagal melakukan apa yang seharusnya dilakukan.
Dengan kata lain, roh mengarah kepada Allah, tetapi jiwa menarik ke arah lain.
Mengapa hal ini banyak terjadi pada zaman sekarang?
Kehidupan modern membuat jiwa terus dibombardir oleh:
Informasi tanpa henti.
Persaingan hidup.
Kecemasan ekonomi.
Keinginan untuk diakui.
Media sosial yang membentuk citra diri semu.
Akibatnya jiwa menjadi bising, sementara roh membutuhkan keheningan untuk mendengar suara Tuhan.
Karena itu banyak orang Kristen mengalami apa yang bisa disebut “kelelahan jiwa”, meskipun secara lahiriah tetap aktif dalam pelayanan.
Bagaimana mempersatukan jiwa dan roh?
Menempatkan Tuhan sebagai pusat, bukan sekadar pelengkap
Banyak orang meminta Tuhan memberkati rencananya. Orang yang dewasa secara rohani justru bertanya:
“Tuhan, apa kehendak-Mu bagiku?”
Ketika kehendak jiwa tunduk kepada kehendak Roh Allah, keselarasan mulai terbentuk.
Membiasakan saat teduh
Firman Tuhan bukan hanya untuk menambah pengetahuan, tetapi untuk membentuk jiwa.
Ibrani 4: 12 mengatakan bahwa firman Allah sanggup memisahkan jiwa dan roh, sehingga manusia dapat mengenali apa yang berasal dari Tuhan dan apa yang berasal dari dirinya sendiri.
Berdoa dengan jujur
Doa bukan sekadar menyampaikan daftar permintaan.
Doa juga merupakan saat ketika jiwa yang gelisah dibawa masuk ke hadirat Tuhan sampai menemukan ketenangan.
Melatih ketaatan dalam hal-hal kecil
Roh bertumbuh ketika kita taat. Jiwa sering ingin jalan yang mudah, tetapi roh dikuatkan melalui ketaatan yang konsisten.
Menjaga hati dari kepahitan
Kepahitan adalah salah satu tembok terbesar antara jiwa dan roh.
Orang yang menyimpan luka sering kali tetap beribadah, tetapi jiwanya tidak mengalami damai.
Pengampunan menjadi jalan pemulihan.
Gambaran yang sederhana
Bayangkan sebuah perahu.
Roh adalah kompas yang menunjuk ke arah Tuhan.
Jiwa adalah kemudi yang menentukan arah gerak.
Tubuh adalah perahu yang berjalan di lautan kehidupan.
Jika kompas dan kemudi tidak selaras, perahu akan berputar-putar.
Tetapi jika kemudi mengikuti arah kompas, perahu akan sampai ke tujuan meskipun ombak besar menghadang.
Renungan
Sering kali masalah terbesar orang Kristen bukan karena ia kehilangan Tuhan, melainkan karena jiwanya terlalu berisik untuk mendengar suara Roh yang sudah berbicara.
Ketika jiwa belajar tenang di hadapan Tuhan, maka roh dapat memimpin, dan lahirlah damai sejahtera yang tidak tergantung pada keadaan.
Kiranya Tuhan menjaga jiwa dan roh kita tetap menyatu di dalam Kristus, sehingga apa yang kita pikirkan, rasakan, dan lakukan semakin selaras dengan kehendak-Nya. Shalom, kawanku. 🙏🏻✨
Penyebar: shalom.click | Ebenezer









