LORONG itu panjang. Lantainya dingin. Bau karbol bercampur debu bangku.
Di sanalah mimbar didirikan. Bukan dari kayu jati. Dari kaki seorang anak yang berselonjor.
Di sanalah khotbah pertama diletupkan. Bukan dari Pendeta. Dari tenggorokan garing seorang anak stroke.
10 kata.
“Sabar ya Papa. Hati-hati. Tuhan Yesus yang akan menyembuhkanku.”
Puluhan tahun ia bisikkan ke telingaku. Aku kira itu kaset rusak. Ternyata itu sirine ambulans Surga. Aku yang tuli. Aku yang koma. Aku yang mati.
Empatpuluh enam tahun aku berjalan.
Bukan menuju Kanaan. Menuju Lembah Kekelaman.
Kalenderku robek setiap Hari Minggu. Alasanku satu: kantong kosong.
Aku ajarkan keluargaku teologi baru: “Tuhan hanya buka pintu bagi yang bawa amplop.”
Aku, Nabal, berhasil mengkhotbahkan injil palsu itu di meja makan.
Sampai suatu Minggu, Nabi Kecilku interupsi.
“Papa, ini hari apa?”
“Hari Minggu,” jawabku, datar. Seperti menjawab wartawan.
“Kenapa kita tidak ke Gereja. Sudah lama kita tidak ke Gereja. Rindu juga, Pa.”
Kalimat itu bukan pertanyaan. Itu palu. Itu vonis.
Aku bela diri dengan dalil Nabal:
“Nanti ada saatnya kita ke Gereja. Saat ini, Papa belum dapat menyediakan persembahan.”
Aku kira perkara selesai. Ternyata baru mulai.
Anak itu tidak diam. Ia cecar aku. Bukan dengan ayat. Dengan logika Surga.
“Kita pergi saja ke Gereja, walau tidak bawa persembahan. Kita kan mau nyanyi, dengar firman dan doa,” katanya.
Tajam. Menghunjam. Ulu hatiku diiris-iris. Bukan oleh pisau. Oleh kebenaran polos.
Aku bungkam. Malu jadi tameng. Gengsi jadi benteng.
Anakku mana paham: di gereja, miskin itu aib. Di dunia, dosa itu biasa.
Aku lihat ia menarik napas pendek. Ada kesal yang ia telan. Ada rindu yang ia kubur.
Kami melintasi sebuah Gereja. Jemaat berpakaian rapi melangkah masuk. Sepatu mengkilat. Amplop di tangan.
Ia menatap. Lama. Mungkin ia bertanya dalam diamnya:
“Kenapa karena kertas bernama uang, Bapa di Surga jadi tak bisa dijumpai?”
Lalu tibalah hari itu. Di lorong yang sama. Lantai yang sama.
Ia duduk berselonjor. Di antara barisan bangku kosong.
Tiba-tiba, tangan kanannya terangkat tinggi. Suara garingnya memecah sunyi:
“HALELUYA!”
Duniaku berhenti.
Haleluya itu bukan nyanyian. Itu alarm. Itu gempa.
Haleluya itu sinyal kuat dari Menara Kontrol Surga, menyadarkanku dari tidur 46 tahun di ranjang Nabal.
Haleluya itu menggerakkan alur pikirku ke satu memori yang busuk:
Wajahku. Bermuka tembok. Kulit badak. Saat mengetuk pintu teman-teman.
“Bantu aku. Kami lapar. Kontrakan nunggak.”
Aku sanggup membuang malu. Merendahkan harga diri. Memendam pedih. Demi beras. Demi atap. Demi hidup.
Aku mengemis. Dan aku hidup.
Sebuah pertanyaan menamparku, lebih keras dari Haleluya tadi:
Jika kepada manusia aku berani mengemis agar bisa makan, mengapa kepada Tuhan aku tak berani mengemis agar bisa sujud?
Jika aku sanggup telanjang di depan pintu teman, mengapa aku tak sanggup telanjang di depan pintu Bapa? Ya… mengapa?
Bukankah yang ingin disampaikan anakku sesederhana ini: Di hadapan Tuhan, tak ada VIP. Tak ada tiket. Tak ada kasta amplop.
Semuanya sama. Sama-sama debu. Sama-sama perlu anugerah. Yang Dia tagih bukan isi dompetmu. Tapi isi hatimu.
Yang Dia tunggu di mezbah bukan persembahanmu. Tapi dirimu.
Ibadah sejati bukan tentang apa yang kau bawa di tangan. Tapi tentang menyerahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, kudus, dan berkenan.
Benar kau, anakku. Seribu kali benar.
Maka teruslah angkat tangan kananmu itu, Nak.
Dari lorong ke lorong. Dari Minggu ke Minggu.
Dan biarlah aku, Bapakmu yang baru bangun, mengangkat juga tangan kananku.
Tangan bekas memukul. Tangan bekas mencuri. Tangan bekas Nabal.
Biarlah sekarang jadi tangan Haleluya.
Bersama kita gemakan. Bukan dari mimbar. Dari lantai.
Sebagai tanda: inilah hari kebangkitan kita.
Bukan karena kita hebat. Tapi karena Kasih, Karunia, dan Anugerah-Nya masih hebat.
Tuhan sudah bersabda dari salib, dan anakku mengulanginya dari lorong:
“Akulah jalan.”
Maka kami jawab, dengan sisa suara, dengan sisa hidup:
HALELUYA!!! IMMANUEL!!!
Catatan:
Tulisan ini, karya dari Ingot Simangunsong, penanggungjawab Mediaonline shalom.click, yang akan disajikan bersambung dan jika Tuhan Yesus memberkati, akan diterbitkan dalam bentuk buku saku dengan judul: “Tuhan bersabda: ‘Akulah Jalan’, sebuah catatan tentang aku yang salah jalan”.
Penyebar: shalom.click | Ingot Simangunsong









