Saat CACI MAKI mengalahkan HIKMAT

Senin, 15 Juni 2026 - 16:51 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SELAMAT sore kawan shalom.click.

SERING kali dalam masa sulit justru yang muncul bukan persatuan, melainkan saling menyalahkan.

Ketika keadaan ekonomi memburuk, tekanan hidup meningkat, ketakutan bertambah, dan banyak orang kehilangan harapan.

Dalam situasi seperti itu, orang-orang yang sebenarnya cerdas dan berpendidikan pun dapat terjebak dalam pertengkaran, caci maki, dan saling menjatuhkan.

Dalam perspektif Alkitab, hal itu bukan terutama pertanda krisis ekonomi, melainkan pertanda krisis hati dan krisis hikmat.

Firman Tuhan berkata: “Tetapi hikmat yang dari atas adalah pertama-tama murni, selanjutnya pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik.” (Yakobus 3: 17)

Sebaliknya, ketika manusia dipenuhi iri hati, ambisi pribadi, dan ketakutan, maka lahirlah pertengkaran.

“Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat.” (Yakobus 3: 16)

Kisah-kisah serupa dalam Alkitab

Sahabat-sahabat Ayub yang saling “menyerang” saat penderitaan datang

Dalam kitab Ayub, ketika Ayub mengalami kehancuran ekonomi, kehilangan anak-anak, dan menderita penyakit berat, teman-temannya datang bukan untuk menghibur, melainkan untuk berdebat dan menuduh.

Mereka adalah orang-orang yang dianggap bijaksana pada zamannya.

Namun semakin panjang perdebatan, semakin keras kata-kata yang keluar. Mereka lebih sibuk membuktikan diri benar daripada menunjukkan belas kasihan.

Pelajarannya: penderitaan dapat membuat orang kehilangan empati jika hikmat Tuhan tidak memimpin hati mereka.

Bangsa Israel pada zaman para nabi

Ketika kondisi sosial dan ekonomi memburuk, para nabi berulang kali menggambarkan masyarakat yang dipenuhi pertikaian, fitnah, dan saling menyalahkan.

Nabi Mikha menulis: “Orang saleh sudah hilang dari negeri, dan tidak ada lagi orang jujur di antara manusia.”

Masyarakat mengalami kemerosotan moral bersamaan dengan kesulitan hidup. Orang-orang tidak lagi mencari kehendak Tuhan, tetapi mencari kambing hitam.

Menjelang kehancuran Yerusalem

Nabi Yeremia menyaksikan para pemimpin, imam, dan nabi saling bertentangan.

Mereka merasa paling benar, tetapi tidak mau mendengarkan peringatan Tuhan.

Akibatnya bangsa itu semakin terpecah dan akhirnya mengalami malapetaka.

Jadi pertanda apa?

Jika orang-orang pintar mulai saling caci maki di tengah kesulitan ekonomi, itu bisa menjadi tanda bahwa:

Hikmat mulai dikalahkan oleh ego.

Ketakutan lebih besar daripada iman.

Orang mencari lawan, bukan solusi.

Masyarakat kehilangan kemampuan untuk berdialog dengan kasih.

Krisis moral mulai lebih berbahaya daripada krisis ekonomi itu sendiri.

Orang bijak tidak diukur dari kepandaiannya berbicara, melainkan dari kemampuannya menjaga kata-kata ketika keadaan sedang sulit.

Mungkin karena itu, firman Tuhan mengingatkan: “Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.” (Matius 5: 9)

Ketika banyak orang sibuk saling menyerang, justru saat itulah Tuhan memanggil orang percaya untuk menjadi peneduh, bukan penambah panas; menjadi jembatan, bukan tembok.

Penyebar: shalom.click | Ingot Simangunsong 

Berita Terkait

Yesus, Roti kehidupan sejati
Karena kita telah lebih dahulu dikasihi
Jangan takut, Tuhan ada bersamamu
Ketika Gereja dipanggil hadir di tengah krisis kemanusiaan dunia
BELALANG tidak punya Raja, tapi tahu cara bersatu
Lagi Ikutin Tuhan… atau Cuma Ngikutin Ego?
Harapan di Tengah Tekanan Ekonomi
Ketika Pajak Menjadi Beban: Belajar dari Raja Rehabeam dan Suara Para Nabi
Berita ini 13 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 16 Oktober 2026 - 12:34 WIB

Yesus, Roti kehidupan sejati

Jumat, 2 Oktober 2026 - 07:43 WIB

Karena kita telah lebih dahulu dikasihi

Jumat, 28 Agustus 2026 - 06:58 WIB

Jangan takut, Tuhan ada bersamamu

Rabu, 19 Agustus 2026 - 10:55 WIB

Ketika Gereja dipanggil hadir di tengah krisis kemanusiaan dunia

Selasa, 11 Agustus 2026 - 12:11 WIB

BELALANG tidak punya Raja, tapi tahu cara bersatu

Berita Terbaru

SULUH ZAMAN

Yesus, Roti kehidupan sejati

Jumat, 16 Okt 2026 - 12:34 WIB

SULUH ZAMAN

Karena kita telah lebih dahulu dikasihi

Jumat, 2 Okt 2026 - 07:43 WIB