SELAMAT sore kawan shalom.click.
SERING kali dalam masa sulit justru yang muncul bukan persatuan, melainkan saling menyalahkan.
Ketika keadaan ekonomi memburuk, tekanan hidup meningkat, ketakutan bertambah, dan banyak orang kehilangan harapan.
Dalam situasi seperti itu, orang-orang yang sebenarnya cerdas dan berpendidikan pun dapat terjebak dalam pertengkaran, caci maki, dan saling menjatuhkan.
Dalam perspektif Alkitab, hal itu bukan terutama pertanda krisis ekonomi, melainkan pertanda krisis hati dan krisis hikmat.
Firman Tuhan berkata: “Tetapi hikmat yang dari atas adalah pertama-tama murni, selanjutnya pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik.” (Yakobus 3: 17)
Sebaliknya, ketika manusia dipenuhi iri hati, ambisi pribadi, dan ketakutan, maka lahirlah pertengkaran.
“Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat.” (Yakobus 3: 16)
Kisah-kisah serupa dalam Alkitab
Sahabat-sahabat Ayub yang saling “menyerang” saat penderitaan datang
Dalam kitab Ayub, ketika Ayub mengalami kehancuran ekonomi, kehilangan anak-anak, dan menderita penyakit berat, teman-temannya datang bukan untuk menghibur, melainkan untuk berdebat dan menuduh.
Mereka adalah orang-orang yang dianggap bijaksana pada zamannya.
Namun semakin panjang perdebatan, semakin keras kata-kata yang keluar. Mereka lebih sibuk membuktikan diri benar daripada menunjukkan belas kasihan.
Pelajarannya: penderitaan dapat membuat orang kehilangan empati jika hikmat Tuhan tidak memimpin hati mereka.
Bangsa Israel pada zaman para nabi
Ketika kondisi sosial dan ekonomi memburuk, para nabi berulang kali menggambarkan masyarakat yang dipenuhi pertikaian, fitnah, dan saling menyalahkan.
Nabi Mikha menulis: “Orang saleh sudah hilang dari negeri, dan tidak ada lagi orang jujur di antara manusia.”
Masyarakat mengalami kemerosotan moral bersamaan dengan kesulitan hidup. Orang-orang tidak lagi mencari kehendak Tuhan, tetapi mencari kambing hitam.
Menjelang kehancuran Yerusalem
Nabi Yeremia menyaksikan para pemimpin, imam, dan nabi saling bertentangan.
Mereka merasa paling benar, tetapi tidak mau mendengarkan peringatan Tuhan.
Akibatnya bangsa itu semakin terpecah dan akhirnya mengalami malapetaka.
Jadi pertanda apa?
Jika orang-orang pintar mulai saling caci maki di tengah kesulitan ekonomi, itu bisa menjadi tanda bahwa:
Hikmat mulai dikalahkan oleh ego.
Ketakutan lebih besar daripada iman.
Orang mencari lawan, bukan solusi.
Masyarakat kehilangan kemampuan untuk berdialog dengan kasih.
Krisis moral mulai lebih berbahaya daripada krisis ekonomi itu sendiri.
Orang bijak tidak diukur dari kepandaiannya berbicara, melainkan dari kemampuannya menjaga kata-kata ketika keadaan sedang sulit.
Mungkin karena itu, firman Tuhan mengingatkan: “Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.” (Matius 5: 9)
Ketika banyak orang sibuk saling menyerang, justru saat itulah Tuhan memanggil orang percaya untuk menjadi peneduh, bukan penambah panas; menjadi jembatan, bukan tembok.
Penyebar: shalom.click | Ingot Simangunsong









