SELAMAT siang kawan shalom.click.🙏
Pertanyaan ini sering bikin geleng kepala juga. Kenapa ya, yang punya gelar panjang, jabatan tinggi, akses ilmu… malah kadang paling depan dalam ngeruk SDA.
-
Pengetahuan ≠ Hikmat. Pintar itu soal IQ + skill. Tapi hikmat itu soal hati + takut Tuhan. Amsal 1: 7 bilang “Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan”. Kalau yang dipuja cuma keuntungan, ilmu jadi alat eksploitasi, bukan pemeliharaan.
-
Kuasa bikin buta. Jabatan + modal gede = godaan besar. Yehezkiel 28: 5 soal raja Tirus: “Dengan hikmatmu dan pengertianmu engkau memperoleh kekayaan… dan engkau menjadi tinggi hati karena kekayaanmu”. Makin tinggi, makin ngerasa “berhak”.
-
Sistem yang salah arah. Kalau tolok ukurnya cuma GDP, laba, pertumbuhan tanpa batas… ya SDA dilihat sebagai “komoditas mati”, bukan titipan.
Terus Alkitab nyikapinya gimana?
-
Manusia itu penatalayan, bukan pemilik. Kejadian 2: 15 “TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu”. Kata Ibrani “shamar” = jaga, pelihara. Kita dikasih kuasa, tapi sekalian tanggung jawab.
-
Serakah = berhala. Kolose 3: 5 sebut “keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala”. Ngeruk SDA tanpa batas itu sebenernya nyembah uang/kuasa, bukan Tuhan.
-
Ada konsekuensi. Wahyu 11: 18 ada peringatan buat yang “membinasakan bumi”. Tuhan peduli sama ciptaan-Nya. Roma 8:22 juga bilang seluruh ciptaan “mengeluh” karena dosa manusia.
Jadi Alkitab nggak anti kemajuan atau ilmu. Tapi ingetin: kuasa + ilmu tanpa hati hamba = destruktif. Makanya butuh orang pinter yang juga takut Tuhan duduk di kursi pengambil keputusan.

Rasa miris ngeliatnya…
Hutan gundul, sungai jadi coklat, gunung dikeruk. Padahal dulu waktu sekolah, ekosistem diajarin detail: rantai makanan, siklus air, tanah butuh waktu ratusan tahun buat pulih. Di gereja juga denger khotbah “jaga ciptaan”. Tapi pas duduk di kursi kuasa, semua ilmu itu kayak ke-reset.
Itu namanya “amnesia rohani“. Mazmur 115: 16 ngingetin: “Bumi telah diberikan-Nya kepada anak-anak manusia”. Dikasih = dititipkan. Bukan surat jual beli.
Yang bikin sedih: mereka nggak cuma ngerusak tanah. Mereka ngerusak relasi. Relasi manusia dengan Pencipta, dengan sesama yang hidupnya tergantung alam, sama anak cucu kita nanti.
Padahal Amsal 12: 10 bilang “Orang benar memperhatikan hidup hewannya”. Kalau sama hewan aja disuruh peduli, apalagi sama gunung, sungai, hutan yang Tuhan sebut “baik adanya” di Kejadian 1.
Tapi kawan shalom.click, jangan sampai kecewa ini bikin kita diam. Nuh dulu juga kelihatan “gila” waktu bangun bahtera sendirian. Tapi dia nurut.
Kadang Tuhan panggil orang biasa buat jadi “penjaga taman” di tengah zaman yang lupa diri.
Penyebar: shalom.click | Ebenezer & Kiran









