Ketika zaman “menghakimi” Sang Pencipta

Minggu, 14 Juni 2026 - 09:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SELAMAT pagi, kawan shalom.click.

PERNYATAAN “Tuhan yang menciptakan Adam adalah Tuhan yang ketinggalan zaman” bukanlah berasal dari ajaran agama utama, melainkan dari kritik, sindiran, atau pandangan filosofis tertentu.

Ada beberapa alasan mengapa seseorang bisa mengatakan hal seperti itu:

Mengkritik kisah penciptaan secara harfiah

Sebagian orang yang sangat menekankan sains modern berpendapat bahwa kisah Adam tidak sesuai dengan teori evolusi.

Karena itu mereka menganggap konsep Tuhan yang menciptakan Adam secara langsung adalah gagasan kuno yang berasal dari zaman ketika pengetahuan ilmiah belum berkembang.

Menganggap agama berasal dari masa lampau

Ada yang melihat agama sebagai produk budaya kuno. Dari sudut pandang ini, Tuhan yang digambarkan dalam teks-teks kuno dianggap mencerminkan cara berpikir masyarakat zaman dahulu, sehingga mereka menyebutnya “ketinggalan zaman.”

Menolak nilai-nilai moral tertentu

Beberapa orang merasa sebagian aturan atau pandangan yang mereka kaitkan dengan agama tidak cocok dengan nilai-nilai modern.

Akibatnya, kritik mereka terhadap aturan tersebut meluas menjadi kritik terhadap konsep Tuhan itu sendiri.

Sindiran atau provokasi

Terkadang kalimat seperti itu bukan argumen yang mendalam, melainkan ungkapan provokatif untuk memancing reaksi atau menunjukkan ketidaksetujuan terhadap keyakinan agama.

Namun dari sudut pandang orang beriman, pernyataan itu justru dianggap tidak logis.

Jika Tuhan adalah pencipta alam semesta dan berada di luar waktu, maka Tuhan tidak bisa disebut “ketinggalan zaman” atau “modern.”

Yang bisa disebut kuno atau modern adalah pemahaman manusia, bukan Tuhan sendiri.

Secara filosofis, ada perbedaan penting:

Tuhan (jika benar ada) bersifat tetap dan tidak dibatasi zaman.

Penafsiran manusia tentang Tuhan bisa berubah dan berkembang mengikuti zaman.

Jadi ketika seseorang berkata “Tuhan yang menciptakan Adam adalah Tuhan yang ketinggalan zaman,” pertanyaan lanjutan yang menarik adalah:

Apakah yang Anda maksud Tuhan itu sendiri yang ketinggalan zaman, ataukah pemahaman manusia tentang Tuhan yang berasal dari masa lalu?

Sering kali, setelah ditelusuri, yang mereka kritik sebenarnya adalah tafsir keagamaan tertentu, bukan konsep Tuhan itu sendiri.

Tuhan Yesus sendiri memperingatkan:

Sebab Mesias-mesias palsu dan nabi-nabi palsu akan muncul dan mereka akan mengadakan tanda-tanda yang dahsyat dan mujizat-mujizat, sehingga sekiranya mungkin, mereka menyesatkan orang-orang pilihan juga.” — Matius 24: 24

Demikian juga rasul Paulus mengingatkan:

Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat…” — 2 Timotius 4: 3

Menariknya, Alkitab tidak selalu menggambarkan penyesatan itu dalam bentuk orang yang datang membawa jubah agama atau mengaku nabi.

Kadang-kadang penyesatan muncul dalam bentuk ide, filsafat, pemikiran, atau cara pandang yang perlahan menggeser manusia dari kebenaran Tuhan.

Karena itu, jika ada seseorang yang berkata, “Tuhan yang menciptakan Adam adalah Tuhan yang ketinggalan zaman,” seorang Kristen tidak perlu langsung marah atau tersinggung. Yang perlu dilakukan adalah menguji roh dan menguji ajaran itu.

Pertanyaan yang dapat diajukan misalnya:

Apakah pernyataan itu mendekatkan manusia kepada kebenaran?

Apakah pernyataan itu lahir dari pencarian yang jujur atau sekadar penolakan terhadap Tuhan?

Apakah ada dasar yang kuat di baliknya, atau hanya opini yang terdengar intelektual?

Di sinilah pentingnya membedakan antara berpikir kritis dan menyesatkan. Tidak semua pertanyaan kritis adalah penyesatan.

Banyak tokoh Alkitab juga bertanya kepada Tuhan. Bahkan Tomas meragukan sebelum akhirnya percaya.

Yang perlu diwaspadai adalah ketika suatu pemikiran:

Menempatkan manusia sebagai otoritas tertinggi di atas Tuhan.

Menganggap kebenaran berubah hanya mengikuti zaman.

Menghapus kebutuhan manusia akan pertobatan dan keselamatan.

Mengajarkan bahwa manusia dapat menjadi “allah” bagi dirinya sendiri.

Sesungguhnya, sejak taman Eden, pola godaan tidak banyak berubah. Ular berkata kepada Hawa:

Sekali-kali kamu tidak akan mati… kamu akan menjadi seperti Allah.” (Kejadian 3: 4-5)

Inti godaannya bukan sekadar memakan buah terlarang, melainkan membuat manusia meragukan firman Tuhan dan lebih mempercayai pikirannya sendiri daripada Sang Pencipta.

Maka dalam konteks zaman sekarang, mungkin bentuknya bukan lagi, “Makanlah buah itu,” melainkan:

Firman Tuhan sudah tidak relevan.”

“Kebenaran itu relatif.”

“Manusia tidak membutuhkan Tuhan.”

“Tuhan harus menyesuaikan diri dengan zaman.

Bagi orang beriman, justru pertanyaannya dibalik:

Jika Tuhan adalah Pencipta waktu, bagaimana mungkin Dia menjadi ketinggalan zaman?

Yang bisa menjadi ketinggalan zaman adalah teknologi, budaya, atau sistem manusia. Tetapi kebenaran Tuhan tidak diukur oleh tren suatu generasi.

Penyebar: shalom.click | Ebenezer & Kiran

Berita Terkait

Generasi Digital: Bijak Menggunakan Teknologi sebagai Alat Kemuliaan Tuhan
Suara Rakyat adalah Suara Tuhan? Benarkah atau sekadar Slogan Politik?
Ketika kebencian mudah menyebar, orang percaya dipanggil menebar damai
Ketika perbedaan menjadi berkat
Salib Kasih Tarutung: Jejak Sejarah Berdirinya Monumen Iman di Tanah Batak
Salib Kasih Tarutung: Jejak Sejarah Berdirinya Monumen Iman di Tanah Batak
Salib Kasih Tarutung: Jejak Sejarah Berdirinya Monumen Iman di Tanah Batak
Salib Kasih Tarutung: Jejak Sejarah Berdirinya Monumen Iman di Tanah Batak
Berita ini 8 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 3 Agustus 2026 - 10:44 WIB

Generasi Digital: Bijak Menggunakan Teknologi sebagai Alat Kemuliaan Tuhan

Senin, 3 Agustus 2026 - 05:46 WIB

Suara Rakyat adalah Suara Tuhan? Benarkah atau sekadar Slogan Politik?

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 11:38 WIB

Ketika kebencian mudah menyebar, orang percaya dipanggil menebar damai

Kamis, 30 Juli 2026 - 11:00 WIB

Ketika perbedaan menjadi berkat

Rabu, 29 Juli 2026 - 14:57 WIB

Salib Kasih Tarutung: Jejak Sejarah Berdirinya Monumen Iman di Tanah Batak

Berita Terbaru

RENUNGAN

Tuhan, Malam ini duduklah bersamaku

Selasa, 4 Agu 2026 - 00:20 WIB

Uncategorized

Belajar dari Semut, jangan cuma sibuk untuk diri sendiri

Minggu, 2 Agu 2026 - 15:45 WIB