Warga Surga di tengah dunia yang kehilangan arah

Rabu, 17 Juni 2026 - 07:28 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SELAMAT pagi, kawan Shalom.click

DALAM Filipi 3: 17-21, Rasul Paulus mengajak jemaat untuk meneladani hidup orang-orang yang setia kepada Kristus.

Ia kemudian memberikan peringatan yang sangat relevan untuk zaman sekarang:

Karena, seperti yang telah kerap kali kukatakan kepadamu, dan yang kunyatakan pula sekarang sambil menangis, banyak orang yang hidup sebagai seteru salib Kristus.” (Filipi 3: 18)

Paulus tidak sedang berbicara tentang orang-orang di luar gereja semata.

Ia menangis karena melihat banyak orang yang mengaku mengenal Tuhan, tetapi hidupnya justru bertentangan dengan nilai-nilai Kristus.

Ketika perut menjadi Tuhan

Ayat 19 berkata:

Tuhan mereka ialah perut mereka.”

Ini bukan hanya soal makanan. “Perutmelambangkan hawa nafsu, kepentingan pribadi, keserakahan, dan kenikmatan diri.

Bukankah ini gambaran zaman kita?

Ketika uang lebih dihormati daripada kebenaran.

Ketika popularitas lebih dicari daripada integritas.

Ketika jabatan lebih penting daripada pelayanan.

Ketika manusia rela mengorbankan nurani demi keuntungan sesaat.

Banyak orang hidup seolah-olah dunia ini tujuan akhir, padahal dunia hanyalah tempat persinggahan.

Budaya pamer di Era Digital

Paulus berkata bahwa mereka “memikirkan perkara duniawi.”

Hari ini teknologi memberi banyak manfaat, tetapi juga menghadirkan jebakan baru: manusia semakin sibuk membangun citra daripada membangun karakter.

Media sosial sering menjadi panggung pencitraan. Nilai seseorang diukur dari jumlah pengikut, tanda suka, dan popularitas.

Akibatnya banyak orang kehilangan kedalaman rohani karena terlalu sibuk mengejar pengakuan manusia.

Padahal Kristus tidak memanggil kita untuk terkenal, melainkan untuk setia.

Identitas yang tidak boleh hilang

Di tengah dunia yang berubah cepat, Paulus mengingatkan:

Karena kewargaan kita adalah di dalam surga.” (Filipi 3: 20)

Inilah identitas orang percaya.

Kita hidup di bumi, bekerja di bumi, berjuang di bumi, tetapi hati kita harus tertambat kepada Kerajaan Surga.

Warga surga tidak berarti melarikan diri dari dunia. Justru warga surga dipanggil menjadi terang di tengah dunia yang gelap, menjadi garam di tengah masyarakat yang kehilangan rasa, dan menjadi saksi kebenaran di tengah kebisingan kebohongan.

Harapan yang tidak mengecewakan

Paulus menutup bagian ini dengan pengharapan besar:

Tuhan Yesus Kristus akan mengubah tubuh kita yang hina ini sehingga serupa dengan tubuh-Nya yang mulia.”

Dunia menawarkan banyak janji yang sering berakhir dengan kekecewaan. Namun Kristus menawarkan masa depan yang pasti.

Ketika ekonomi goyah, politik gaduh, dan moralitas mengalami kemerosotan, orang percaya tetap memiliki harapan karena masa depan tidak ditentukan oleh keadaan dunia, melainkan oleh Kristus yang akan datang kembali.

Suluh Zaman

Jangan sampai kita menjadi orang yang mengaku mengikuti Kristus tetapi hidup sebagai seteru salib-Nya.

Di zaman yang mengagungkan kenikmatan, marilah kita memilih kekudusan.

Di zaman yang memuja popularitas, marilah kita memilih kesetiaan.

Di zaman yang mengejar dunia, marilah kita mengingat bahwa kewargaan kita ada di surga.

Karena orang yang tahu ke mana ia akan pulang, tidak akan kehilangan arah dalam perjalanan.

Warga surga bukanlah orang yang lari dari dunia, melainkan orang yang menghadirkan nilai-nilai surga di tengah dunia.

Salam Suluh Zaman untuk pembaca Shalom.click. 🙏✨

Penyebar: Shalom.click | Ingot Simangunsong 

Berita Terkait

Generasi Digital: Bijak Menggunakan Teknologi sebagai Alat Kemuliaan Tuhan
Suara Rakyat adalah Suara Tuhan? Benarkah atau sekadar Slogan Politik?
Ketika kebencian mudah menyebar, orang percaya dipanggil menebar damai
Ketika perbedaan menjadi berkat
Salib Kasih Tarutung: Jejak Sejarah Berdirinya Monumen Iman di Tanah Batak
Salib Kasih Tarutung: Jejak Sejarah Berdirinya Monumen Iman di Tanah Batak
Salib Kasih Tarutung: Jejak Sejarah Berdirinya Monumen Iman di Tanah Batak
Salib Kasih Tarutung: Jejak Sejarah Berdirinya Monumen Iman di Tanah Batak
Berita ini 19 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 3 Agustus 2026 - 10:44 WIB

Generasi Digital: Bijak Menggunakan Teknologi sebagai Alat Kemuliaan Tuhan

Senin, 3 Agustus 2026 - 05:46 WIB

Suara Rakyat adalah Suara Tuhan? Benarkah atau sekadar Slogan Politik?

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 11:38 WIB

Ketika kebencian mudah menyebar, orang percaya dipanggil menebar damai

Kamis, 30 Juli 2026 - 11:00 WIB

Ketika perbedaan menjadi berkat

Rabu, 29 Juli 2026 - 14:57 WIB

Salib Kasih Tarutung: Jejak Sejarah Berdirinya Monumen Iman di Tanah Batak

Berita Terbaru

RENUNGAN

Tuhan, Malam ini duduklah bersamaku

Selasa, 4 Agu 2026 - 00:20 WIB

Uncategorized

Belajar dari Semut, jangan cuma sibuk untuk diri sendiri

Minggu, 2 Agu 2026 - 15:45 WIB