DI tengah derasnya perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan berbagai pemikiran baru, tidak sedikit orang yang mulai mempertanyakan bahkan meremehkan keberadaan Tuhan.
Ada yang berkata bahwa Tuhan yang menciptakan Adam adalah “Tuhan yang ketinggalan zaman”, seolah-olah Sang Pencipta harus tunduk pada perubahan zaman yang diciptakan-Nya sendiri.
Namun pertanyaannya, benarkah Tuhan yang menjadi usang? Ataukah manusia yang semakin jauh dari sumber kebenaran?
Alkitab mengingatkan bahwa akan datang masa ketika manusia lebih menyukai ajaran yang sesuai dengan keinginannya daripada kebenaran yang menegur dan membimbingnya (2 Timotius 4: 3-4).
Penyesatan tidak selalu hadir dalam bentuk yang kasar. Kadang ia datang melalui gagasan yang terdengar cerdas, modern, dan meyakinkan, tetapi perlahan mengikis iman dan membuat manusia merasa tidak lagi membutuhkan Tuhan.
Sejak di Taman Eden, strategi yang digunakan tidak banyak berubah: menanamkan keraguan terhadap firman Tuhan.
Ketika manusia mulai menganggap pikirannya lebih tinggi daripada hikmat Allah, saat itulah arah hidup mulai kabur.
Tuhan tidak pernah menjadi ketinggalan zaman. Dia adalah Allah yang sama, dahulu, sekarang, dan sampai selama-lamanya.
Firman-Nya tetap relevan karena berbicara tentang hakikat manusia yang tidak pernah berubah: manusia yang membutuhkan kasih karunia, pengampunan, dan keselamatan.
Karena itu, ketika dunia berkata bahwa Tuhan sudah tidak relevan, orang percaya dipanggil untuk bertanya dengan jujur kepada dirinya sendiri:
“Apakah Tuhan yang ketinggalan zaman, ataukah aku yang mulai kehilangan arah?”
“Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya.” — Ibrani 13: 8
Doa:
Tuhan, jagalah hati dan pikiranku agar tidak mudah diombang-ambingkan oleh berbagai ajaran dan pemikiran yang menjauhkan aku dari-Mu. Berikan hikmat untuk membedakan kebenaran dari penyesatan, serta keberanian untuk tetap berpegang pada firman-Mu di tengah perubahan zaman. Amin.
Salam damai dan berkat untuk pelayanan shalom.click. 🌿✝️🙏
Penyebar: shalom.click | Ebenezer









