Agur bin Yake dan kerinduan akan pemimpin yang tak serakah

Rabu, 10 Juni 2026 - 06:25 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

DALAM Amsal 30: 7-9, Agur bin Yake menyampaikan sebuah doa yang sederhana namun sangat mendalam.

Ia tidak meminta kekuasaan, kemasyhuran, atau kekayaan berlimpah. Sebaliknya, ia memohon agar dijauhkan dari dusta dan kepalsuan, serta diberi kecukupan dalam hidup.

Agur memahami bahwa dua keadaan yang ekstrem sama-sama berbahaya.

Kemiskinan yang sangat berat dapat menggoda seseorang untuk mengambil yang bukan haknya. Sebaliknya, kekayaan yang berlebihan dapat membuat manusia merasa tidak lagi membutuhkan Tuhan.

Karena itu ia berdoa, “jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan, berilah aku makanan yang menjadi bagianku.

Betapa indahnya jika nilai-nilai ini hidup dalam hati para pemimpin bangsa.

Pemimpin yang menjauhi dusta akan menghadirkan kepercayaan publik.

Pemimpin yang merasa cukup tidak akan tergoda menyalahgunakan jabatan untuk memperkaya diri.

Pemimpin yang tetap bergantung kepada Tuhan tidak akan mudah mabuk kuasa.
Banyak persoalan bangsa lahir dari ketidakpuasan manusia.

Ketika jabatan dijadikan alat mengumpulkan kekayaan tanpa batas, ketika kekuasaan dipakai untuk kepentingan kelompok, dan ketika kebenaran dikalahkan oleh kepentingan sesaat, maka rakyatlah yang menanggung akibatnya.

Agur mengajarkan bahwa kecukupan jauh lebih berharga daripada keserakahan.

Andaikan seluruh pemimpin bangsa memahami dan menghidupi doa Agur bin Yake, niscaya bumi kelahiran sebuah bangsa akan dipenuhi damai sejahtera.

Energi para pemimpin tidak lagi dihabiskan untuk mempertahankan kekuasaan atau mengejar keuntungan pribadi, melainkan untuk melayani, mengayomi, dan menghadirkan keadilan bagi seluruh rakyat.

Pesan Agur yang ditulis ribuan tahun lalu tetap menjadi suluh bagi zaman ini: kejujuran, rasa cukup, dan ketergantungan kepada Tuhan adalah fondasi kepemimpinan yang membawa berkat.

Dari hati yang tidak dikuasai dusta dan keserakahan, lahirlah kebijakan yang berpihak kepada kebenaran, dan dari sanalah damai sejahtera sebuah bangsa dapat bertumbuh.

Jauhkanlah dari padaku kecurangan dan kebohongan; jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan, berilah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku.” (Amsal 30: 8)

Suluh Zaman mengingatkan kita bahwa masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan para pemimpinnya, melainkan juga oleh kemurnian hati mereka di hadapan Tuhan.

Penyebar: shalom.click |Ebenezer & Kiran 

Berita Terkait

Jangan takut, Tuhan ada bersamamu
Ketika Gereja dipanggil hadir di tengah krisis kemanusiaan dunia
BELALANG tidak punya Raja, tapi tahu cara bersatu
Lagi Ikutin Tuhan… atau Cuma Ngikutin Ego?
Harapan di Tengah Tekanan Ekonomi
Ketika Pajak Menjadi Beban: Belajar dari Raja Rehabeam dan Suara Para Nabi
Korupsi berawal dari hati yang tidak pernah puas
Generasi Digital: Bijak Menggunakan Teknologi sebagai Alat Kemuliaan Tuhan
Berita ini 13 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 28 Agustus 2026 - 06:58 WIB

Jangan takut, Tuhan ada bersamamu

Rabu, 19 Agustus 2026 - 10:55 WIB

Ketika Gereja dipanggil hadir di tengah krisis kemanusiaan dunia

Selasa, 11 Agustus 2026 - 12:11 WIB

BELALANG tidak punya Raja, tapi tahu cara bersatu

Rabu, 5 Agustus 2026 - 21:28 WIB

Lagi Ikutin Tuhan… atau Cuma Ngikutin Ego?

Rabu, 5 Agustus 2026 - 10:36 WIB

Harapan di Tengah Tekanan Ekonomi

Berita Terbaru

RENUNGAN

Memenangkan hati yang gelisah dengan Tuhan

Minggu, 13 Sep 2026 - 19:55 WIB

NAFAS KASIH

Pesan September — Hari ke-13: “Belajar bersyukur hari ini”

Minggu, 13 Sep 2026 - 08:57 WIB