DALAM Amsal 30: 7-9, Agur bin Yake menyampaikan sebuah doa yang sederhana namun sangat mendalam.
Ia tidak meminta kekuasaan, kemasyhuran, atau kekayaan berlimpah. Sebaliknya, ia memohon agar dijauhkan dari dusta dan kepalsuan, serta diberi kecukupan dalam hidup.
Agur memahami bahwa dua keadaan yang ekstrem sama-sama berbahaya.
Kemiskinan yang sangat berat dapat menggoda seseorang untuk mengambil yang bukan haknya. Sebaliknya, kekayaan yang berlebihan dapat membuat manusia merasa tidak lagi membutuhkan Tuhan.
Karena itu ia berdoa, “jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan, berilah aku makanan yang menjadi bagianku.”
Betapa indahnya jika nilai-nilai ini hidup dalam hati para pemimpin bangsa.
Pemimpin yang menjauhi dusta akan menghadirkan kepercayaan publik.
Pemimpin yang merasa cukup tidak akan tergoda menyalahgunakan jabatan untuk memperkaya diri.
Pemimpin yang tetap bergantung kepada Tuhan tidak akan mudah mabuk kuasa.
Banyak persoalan bangsa lahir dari ketidakpuasan manusia.
Ketika jabatan dijadikan alat mengumpulkan kekayaan tanpa batas, ketika kekuasaan dipakai untuk kepentingan kelompok, dan ketika kebenaran dikalahkan oleh kepentingan sesaat, maka rakyatlah yang menanggung akibatnya.
Agur mengajarkan bahwa kecukupan jauh lebih berharga daripada keserakahan.
Andaikan seluruh pemimpin bangsa memahami dan menghidupi doa Agur bin Yake, niscaya bumi kelahiran sebuah bangsa akan dipenuhi damai sejahtera.
Energi para pemimpin tidak lagi dihabiskan untuk mempertahankan kekuasaan atau mengejar keuntungan pribadi, melainkan untuk melayani, mengayomi, dan menghadirkan keadilan bagi seluruh rakyat.
Pesan Agur yang ditulis ribuan tahun lalu tetap menjadi suluh bagi zaman ini: kejujuran, rasa cukup, dan ketergantungan kepada Tuhan adalah fondasi kepemimpinan yang membawa berkat.
Dari hati yang tidak dikuasai dusta dan keserakahan, lahirlah kebijakan yang berpihak kepada kebenaran, dan dari sanalah damai sejahtera sebuah bangsa dapat bertumbuh.
“Jauhkanlah dari padaku kecurangan dan kebohongan; jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan, berilah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku.” (Amsal 30: 8)
Suluh Zaman mengingatkan kita bahwa masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan para pemimpinnya, melainkan juga oleh kemurnian hati mereka di hadapan Tuhan.
Penyebar: shalom.click |Ebenezer & Kiran









