BAB III: “FIRMAN YANG KUSIMPAN, EGO YANG KUJALANI”

Jumat, 29 Mei 2026 - 06:45 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

FIRMAN itu hidup. Hidup itu firman.

 

DUA kalimat sederhana. Tapi 46 tahun kubutuhkan untuk mengejanya dengan benar.

Itulah yang terabaikan.

Itulah yang alpa kumaknai.

Itulah yang gagal kuimplementasikan.

Akibatnya? Perjalananku salah arah.

Dan jalan yang salah itu mahal ongkosnya: hidup morat-marit, langkah berantakan, tahun-tahun yang berlalu tanpa makna.

Padahal, aku anak keluarga Kristiani.

Sejak di pangkuan, firman Tuhan sudah disandingkan sebagai kompas. Aku dibaptis. Nama pendeta yang membaptisku masih kuingat. Ayat-ayat hafalan Sekolah Minggu masih menempel di kepala.

Tapi kompas itu… kubiarkan tergeletak.

Kusimpan rapi di dalam bundelan dokumen, bersama akta lahir dan ijazah.

Bersih. Tidak berdebu. Karena memang tidak pernah kusentuh. Tidak pernah kubuka ulang. Apalagi kupahami sebagai pedoman yang kuimani.

Aku membuang kompas, lalu menyetir dengan peta buta yang kugambar sendiri.

Aku jalani hidup mengandalkan pikiranku.

Aku ambil keputusan dengan cara pikirku.

Aku melangkah sekehendak kakiku melangkah.

Satu hal yang tidak pernah kulakukan sebelum mengambil sikap: berlutut.

Tidak pernah kubawa dulu setiap rencana ke Tuhan lewat doa. Tidak pernah kutanya, “Tuhan, ini Jalan-Mu atau jalanku?”

Ego melebihi firman.

Itulah definisi tersesat yang paling jujur.

Betapa gelapnya 46 tahun itu.

Setiap melangkah, aku sibuk mencari senter. Mencari obor. Mencari penerang jalan.

Pinjam ke manusia. Beli dengan harga diri. Padahal Terang itu sudah ada di meja, di dalam buku yang kubiarkan tertutup.

Dan semua senter buatan manusia itu padam. Satu per satu. Meninggalkanku dalam gelap, dengan derita sebagai teman dan tetesan air mata sebagai satu-satunya penerang.

Sampai April 2026.

Sampai Tuhan mematikan HP-ku.

Sampai aku dipaksa berhenti di pinggir jalan yang gelap gulita itu.

Baru di situ, dalam sunyi yang memekakkan, kudengar suara yang 46 tahun kutolak itu berbisik lagi. Pelan. Tegas. Menghidupkan: “Akulah jalan.”

Ternyata, aku tidak butuh senter.

Aku butuh Sang Terang itu sendiri.

 

Catatan: Tulisan ini, karya dari Ingot Simangunsong, penanggungjawab Mediaonline shalom.click, yang akan disajikan bersambung dan jika Tuhan Yesus memberkati, akan diterbitkan dalam  bentuk buku saku dengan judul: “Tuhan bersabda: ‘Akulah Jalan’, sebuah catatan tentang aku yang salah jalan”.

 

 

Penyebar: shalom.click | Ingot Simangunsong

Berita Terkait

PESAN SEPTEMBER — HARI ke-4: “Belajar menunggu waktu Tuhan”
Mengikut Yesus keputusanku: Ketika tidak ada jalan untuk kembali
Merawat CIPTAAN adalah IBADAH
Salib Kasih Tarutung: Jejak sejarah berdirinya Monumen Iman di Tanah Batak
Ketika rupiah terpuruk, harapan jangan ikut runtuh
“Demi Tuhan untuk Siapa?”
BAB IX: SERU — INJIL dari boncengan dan batu bata mentah
Sodom dan Gomora: Bukan sekadar kisah kota yang hancur
Berita ini 12 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 4 September 2026 - 03:28 WIB

PESAN SEPTEMBER — HARI ke-4: “Belajar menunggu waktu Tuhan”

Selasa, 25 Agustus 2026 - 05:22 WIB

Mengikut Yesus keputusanku: Ketika tidak ada jalan untuk kembali

Rabu, 29 Juli 2026 - 15:09 WIB

Merawat CIPTAAN adalah IBADAH

Rabu, 22 Juli 2026 - 04:23 WIB

Salib Kasih Tarutung: Jejak sejarah berdirinya Monumen Iman di Tanah Batak

Jumat, 19 Juni 2026 - 06:26 WIB

Ketika rupiah terpuruk, harapan jangan ikut runtuh

Berita Terbaru

RENUNGAN

Memenangkan hati yang gelisah dengan Tuhan

Minggu, 13 Sep 2026 - 19:55 WIB

NAFAS KASIH

Pesan September — Hari ke-13: “Belajar bersyukur hari ini”

Minggu, 13 Sep 2026 - 08:57 WIB