“Demi Tuhan untuk Siapa?”

Rabu, 17 Juni 2026 - 21:39 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

DI dalam Alkitab, Tuhan berkali-kali mengingatkan bahwa pemimpin dipilih bukan untuk mempertahankan kekuasaan, melainkan untuk melayani umat.

Ketika seseorang sangat gigih mempertahankan jabatan, tetapi tidak menunjukkan kegigihan yang sama dalam memperjuangkan kesejahteraan rakyat, maka bisa terjadi pergeseran orientasi hati:

Jabatan berubah menjadi berhala

Alkitab mengajarkan bahwa manusia mudah menjadikan sesuatu lebih penting daripada Tuhan.

Kekuasaan bisa berubah menjadi berhala ketika kehilangan jabatan terasa lebih menakutkan daripada kehilangan integritas.

Raja Saul adalah contoh yang jelas. Ketika Tuhan menolak kepemimpinannya, Saul lebih sibuk menjaga citra dan kedudukannya daripada bertobat.

Ia takut kehilangan takhta lebih daripada kehilangan perkenanan Tuhan (1 Samuel 15).

Pelayanan berubah menjadi kepentingan diri

Yesus berkata: “Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani.” (Markus 10: 45)

Pemimpin yang sehat bertanya: “Apa yang bisa saya korbankan untuk rakyat?”

Pemimpin yang mulai tersesat bertanya: “Apa yang harus saya lakukan agar kekuasaan saya tetap bertahan?”

Perbedaannya terlihat sederhana, tetapi arah hidupnya sangat berbeda.

Nama Tuhan dipakai sebagai legitimasi

Dalam Alkitab, menyebut nama Tuhan bukan sekadar menambah kekuatan retorika.

Tuhan sangat tidak menyukai ketika nama-Nya dipakai untuk membenarkan ambisi pribadi.

Nabi-nabi berkali-kali menegur pemimpin yang berbicara atas nama Tuhan tetapi sesungguhnya sedang memperjuangkan kepentingannya sendiri.

Karena itu, kalimat “Demi Tuhan…” menjadi sangat berat maknanya. Sebab Tuhan akan melihat apakah ucapan itu lahir dari kasih kepada rakyat atau dari ketakutan kehilangan kekuasaan.

Hati manusia cenderung mencintai kuasa

Alkitab realistis mengenai natur manusia. Nabi Yeremia berkata bahwa hati manusia licik dan sulit dipahami (Yeremia 17: 9).

Kadang seseorang memulai perjuangan dengan niat baik. Namun ketika kekuasaan, pujian, fasilitas, dan pengaruh datang, fokusnya perlahan bergeser.

Ia tidak lagi menjaga amanat, tetapi menjaga posisi. Itulah sebabnya Tuhan selalu menuntut kerendahan hati dari para pemimpin.

Renungan untuk zaman Ini

Masyarakat tidak hanya mendengar seberapa keras seorang pemimpin berkata, “Saya tidak akan mundur.”

Yang lebih penting adalah: Mundur dari apa dan bertahan untuk apa? Jika keberanian digunakan untuk membela kebenaran, keadilan, dan kesejahteraan rakyat, itu adalah keberanian yang mulia.

Tetapi jika keberanian hanya muncul ketika kursi kekuasaan terancam, sementara suara yang sama tidak terdengar ketika rakyat menderita, maka kita patut bertanya: apakah yang sedang dipertahankan itu amanat Tuhan atau kepentingan manusia?

Pesan utamanya sederhana:

Tuhan tidak mengukur seorang pemimpin dari seberapa kuat ia mempertahankan jabatannya, tetapi dari seberapa setia ia memperjuangkan orang-orang yang dipercayakan kepadanya.

Penyebar: Shalom.click | Ebenezer & Kiran

Berita Terkait

PESAN SEPTEMBER — HARI ke-4: “Belajar menunggu waktu Tuhan”
Mengikut Yesus keputusanku: Ketika tidak ada jalan untuk kembali
Merawat CIPTAAN adalah IBADAH
Salib Kasih Tarutung: Jejak sejarah berdirinya Monumen Iman di Tanah Batak
Ketika rupiah terpuruk, harapan jangan ikut runtuh
BAB IX: SERU — INJIL dari boncengan dan batu bata mentah
Sodom dan Gomora: Bukan sekadar kisah kota yang hancur
Diberkati untuk menjadi berkat: tata kelola iman dalam mengelola Anugerah Tuhan
Berita ini 23 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 4 September 2026 - 03:28 WIB

PESAN SEPTEMBER — HARI ke-4: “Belajar menunggu waktu Tuhan”

Selasa, 25 Agustus 2026 - 05:22 WIB

Mengikut Yesus keputusanku: Ketika tidak ada jalan untuk kembali

Rabu, 29 Juli 2026 - 15:09 WIB

Merawat CIPTAAN adalah IBADAH

Rabu, 22 Juli 2026 - 04:23 WIB

Salib Kasih Tarutung: Jejak sejarah berdirinya Monumen Iman di Tanah Batak

Jumat, 19 Juni 2026 - 06:26 WIB

Ketika rupiah terpuruk, harapan jangan ikut runtuh

Berita Terbaru

SULUH ZAMAN

Yesus, Roti kehidupan sejati

Jumat, 16 Okt 2026 - 12:34 WIB

SULUH ZAMAN

Karena kita telah lebih dahulu dikasihi

Jumat, 2 Okt 2026 - 07:43 WIB