BAB II – “INJIL DARI ANAKKU”

Kamis, 28 Mei 2026 - 05:36 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

“PAPA nggak angkat teleponku hari ini. Biasanya langsung diangkat…”

Kalimat itu meluncur dari mulut anakku, sore itu. Polos. Lugu. Tapi menghantam ulu hatiku.

Dia lupa. Lupa kalau handphone Papa-nya sudah wafat sejak April. Lupa kalau Papa-nya tidak punya uang untuk membeli penggantinya.

Baginya, handphone bukan sekadar benda. Handphone adalah jembatan. Jembatan satu-satunya yang menghubungkan dunianya yang sunyi dengan dunia Papa-nya yang ramai.

Lewat benda pipih itu, dia bisa memastikan tiga hal yang paling penting dalam semestanya: Papa di mana? Lagi apa? Sama siapa?

Aku hanya bisa tersenyum. Senyum yang pahit. Kujelaskan pelan, “HP Papa rusak, Nak.”

Dia diam. Lalu protes kecil itu keluar:

“Pulangnya jangan kemalaman. Aku takut sendirian.”

Delapan kata. Tapi itu khotbah terpanjang yang pernah kudengar.

Aku mengangguk. Pelan. Lalu kuusap rambutnya yang ikal. Kusimpan gemetar di tanganku. Karena di detik itu aku sadar: aku bukan hanya “tidak dihubungi” dunia. Aku nyaris tidak hadir untuk dunia kecil yang paling membutuhkanku.

Itu tentang anakku.

Bagian terkecil dari buku ini, tapi bagian yang paling menghakimiku.

Melalui buku “Sabda Tuhan: Akulah Jalan” ini, aku tidak akan mencari kambing hitam. Tidak akan menunjuk 46 tahun yang lalu, tidak akan menyalahkan keadaan, tidak akan menggugat siapa pun.

Ini murni pengakuan.  

Pengakuan tentang kealpaanku. Alpa membaca pesan-pesan kecil yang Tuhan kirim setiap hari. Alpa menerjemahkan tanda-tanda di tikungan hidupku.

Aku salah memaknai. Maka aku salah jalan.

Dan jalan yang salah itu mahal harganya:  

Hidup tidak teratur. Langkah berantakan. Dada penuh tekanan. Bantal basah oleh air mata yang tidak pernah kuizinkan dunia lihat.

46 tahun aku menyetir di jalan yang kubangun dengan ego.

Sampai Tuhan harus mematikan “GPS”-ku — handphone itu — supaya aku berhenti, menepi, dan mendengar Dia berbisik di tengah sepi:

“Akulah jalan.”

 

 

Catatan: Tulisan ini, karya dari Ingot Simangunsong, penanggungjawab Mediaonline shalom.click, yang akan disajikan bersambung dan jika Tuhan Yesus memberkati, akan diterbitkan dalam  bentuk buku saku dengan judul: “Tuhan bersabda: ‘Akulah Jalan’, sebuah catatan tentang aku yang salah jalan”.

 

 

Penyebar: shalom.click | Ingot Simangunsong

Berita Terkait

PESAN SEPTEMBER — HARI ke-4: “Belajar menunggu waktu Tuhan”
Mengikut Yesus keputusanku: Ketika tidak ada jalan untuk kembali
Merawat CIPTAAN adalah IBADAH
Salib Kasih Tarutung: Jejak sejarah berdirinya Monumen Iman di Tanah Batak
Ketika rupiah terpuruk, harapan jangan ikut runtuh
“Demi Tuhan untuk Siapa?”
BAB IX: SERU — INJIL dari boncengan dan batu bata mentah
Sodom dan Gomora: Bukan sekadar kisah kota yang hancur
Berita ini 35 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 4 September 2026 - 03:28 WIB

PESAN SEPTEMBER — HARI ke-4: “Belajar menunggu waktu Tuhan”

Selasa, 25 Agustus 2026 - 05:22 WIB

Mengikut Yesus keputusanku: Ketika tidak ada jalan untuk kembali

Rabu, 29 Juli 2026 - 15:09 WIB

Merawat CIPTAAN adalah IBADAH

Rabu, 22 Juli 2026 - 04:23 WIB

Salib Kasih Tarutung: Jejak sejarah berdirinya Monumen Iman di Tanah Batak

Jumat, 19 Juni 2026 - 06:26 WIB

Ketika rupiah terpuruk, harapan jangan ikut runtuh

Berita Terbaru

SULUH ZAMAN

Yesus, Roti kehidupan sejati

Jumat, 16 Okt 2026 - 12:34 WIB

SULUH ZAMAN

Karena kita telah lebih dahulu dikasihi

Jumat, 2 Okt 2026 - 07:43 WIB