Bagian I: Dari Sebuah Nazar Hingga Berdirinya Salib Kasih
“KETIKA kabut pagi perlahan terangkat dari Rura Silindung, sebuah salib raksasa tampak berdiri tegak di puncak Dolok Siatas Barita.
Banyak orang datang untuk berfoto, menikmati panorama, atau berdoa.
Namun, tidak semua mengetahui bahwa sebelum salib itu berdiri, tempat ini telah lebih dahulu menjadi saksi sebuah doa yang dipercaya mengubah arah sejarah Tanah Batak.”
DI antara perbukitan yang mengelilingi Rura Silindung, berdiri sebuah monumen salib yang telah menjadi ikon Kabupaten Tapanuli Utara.
Monumen itu dikenal sebagai Salib Kasih, berdiri kokoh di puncak Dolok Siatas Barita, menghadap ke lembah Tarutung yang hijau dan sejuk.
Bagi sebagian orang, Salib Kasih adalah tujuan wisata rohani.
Namun, bagi masyarakat Batak dan banyak orang percaya, tempat ini lebih dari sekadar objek wisata.
Salib Kasih adalah simbol perjalanan Injil, pengorbanan seorang misionaris, dan kasih Tuhan yang mengubah sejarah Tanah Batak.
Kisah Salib Kasih tidak dapat dipisahkan dari nama Dr. Ingwer Ludwig Nommensen, misionaris asal Jerman yang tiba di Tanah Batak pada abad ke-19.
Saat pertama kali memandang hamparan Rura Silindung dari kawasan Siatas Barita, tradisi lisan yang hidup di tengah masyarakat menyebutkan bahwa Nommensen berlutut dan berdoa kepada Tuhan.
Ia menyerahkan hidupnya untuk memberitakan Injil kepada masyarakat Batak, meskipun menyadari bahwa jalan pelayanan itu tidak akan mudah.
Pada masa itu, Tanah Batak masih sangat tertutup bagi orang asing. Perjalanan menuju pedalaman dipenuhi tantangan, baik karena kondisi alam maupun situasi sosial dan budaya.
Namun, Nommensen tetap melangkah dengan keyakinan bahwa kasih Kristus harus diberitakan kepada semua orang.
Doa dan tekad itulah yang kemudian dikenang sebagai salah satu tonggak penting dalam sejarah pekabaran Injil di Tanah Batak.
Karena itu, kawasan Siatas Barita dipandang memiliki nilai sejarah dan spiritual yang sangat tinggi.
Sebagai bentuk penghormatan terhadap jasa Nommensen, pada tahun 1985 HKBP bersama Gereja Nordstrand dari Jerman mendirikan sebuah salib besi di lokasi yang diyakini sebagai tempat doa tersebut.
Salib sederhana itu menjadi penanda awal bahwa tempat tersebut layak dikenang oleh generasi berikutnya sebagai bagian dari sejarah masuknya Injil ke Tanah Batak.
Beberapa tahun kemudian, Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara bersama berbagai unsur masyarakat menggagas pembangunan sebuah monumen yang lebih besar.
Gagasan itu lahir bukan hanya untuk memperindah kawasan, tetapi juga agar nilai-nilai iman, pengorbanan, dan pelayanan yang diwariskan Nommensen tetap hidup dalam ingatan masyarakat.
Pembangunan monumen dimulai pada 30 Oktober 1993 pada masa Bupati Lundu Panjaitan.
Proses pembangunannya berlangsung beberapa tahun hingga akhirnya diselesaikan dan diresmikan pada Minggu Paskah, 30 Maret 1997, pada masa Bupati Tahan Mangaraja Halomoan Sinaga.
Monumen Salib Kasih yang menjulang sekitar 31 meter itu kemudian menjadi salah satu simbol kekristenan paling dikenal di Sumatera Utara.
Dari puncaknya, pengunjung dapat memandang hamparan Rura Silindung yang indah, sekaligus merenungkan bagaimana kasih Tuhan bekerja melalui orang-orang yang rela mengabdikan hidupnya demi melayani sesama.
Salib Kasih bukan dibangun untuk memuliakan seorang manusia.
Monumen ini didirikan sebagai pengingat bahwa Tuhan berkarya melalui orang-orang yang taat kepada panggilan-Nya.
Nommensen hanyalah seorang hamba yang dipakai Tuhan, sedangkan pusat dari seluruh kisah ini tetaplah Yesus Kristus, yang kasih-Nya menjadi dasar pelayanan dan pemberitaan Injil.
Hingga kini, Salib Kasih terus menjadi tempat doa, perenungan, dan ziarah rohani.
Ribuan orang datang setiap tahun, bukan hanya untuk menikmati keindahan alam Tarutung, tetapi juga untuk mengingat bahwa perubahan besar dalam sejarah sering kali berawal dari doa yang dipanjatkan dengan sungguh-sungguh dan kesediaan seseorang menjawab panggilan Tuhan.
“Sebab kasih Kristus yang menguasai kami…” (2 Korintus 5: 14).
Ayat ini seolah merangkum makna Salib Kasih: kasih Kristus yang mendorong seseorang melayani tanpa pamrih, dan kasih yang sama terus menginspirasi generasi demi generasi hingga hari ini.
Penyebar: Shalom.click | Ingot Simangunsong & berbagai sumber









