NILAI rupiah boleh saja melemah dan terperosok hingga menyentuh titik terendah.
Grafik ekonomi dapat bergerak naik turun, pasar dapat bergejolak, dan berbagai angka dapat menimbulkan kecemasan.
Namun kehidupan tidak pernah berhenti menunggu keadaan menjadi sempurna. Hidup harus tetap dijalani, langkah demi langkah, hari demi hari.
Di tengah tekanan ekonomi yang semakin terasa, ada satu hal yang tidak boleh ikut jatuh bersama nilai mata uang: harapan.
Sebab bagi orang percaya, kekuatan hidup tidak ditentukan semata-mata oleh kondisi ekonomi, melainkan oleh keyakinan bahwa Tuhan tetap memegang kendali atas kehidupan.
Ketika manusia mulai dihimpit oleh kekhawatiran, firman Tuhan mengingatkan:
“Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.” (1 Petrus 5: 7)
Beban hidup memang terasa lebih berat ketika harga kebutuhan meningkat, lapangan pekerjaan semakin sulit, dan masa depan tampak tidak menentu.
Namun Alkitab tidak pernah menjanjikan hidup tanpa beban. Sebaliknya, Tuhan berjanji menyertai umat-Nya saat memikul beban itu.
“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” (Matius 11: 28)
Karena itu, ketika keadaan ekonomi terasa menyesakkan, jangan biarkan hati kehilangan arah.
Tuhan tidak pernah meninggalkan umat-Nya berjalan sendirian. Ia tetap berada di depan, menuntun langkah dan menjaga agar manusia tidak tersesat oleh ketakutan dan keputusasaan.
Di sisi lain, kondisi yang sulit seharusnya menjadi cermin bagi para pemimpin bangsa.
Amanah yang diberikan rakyat bukanlah sarana memperkaya diri sendiri, kelompok, maupun kepentingan politik tertentu.
Kekuasaan sejatinya adalah tanggung jawab untuk menghadirkan kesejahteraan, keadilan, dan perlindungan bagi rakyat.
“Siapa yang setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar.” (Lukas 16: 10)
Kemajuan sebuah bangsa tidak hanya ditentukan oleh kekayaan alam atau besarnya investasi, tetapi juga oleh integritas para pemimpinnya.
Ketika korupsi diberantas dan kepentingan rakyat ditempatkan di atas kepentingan pribadi, bangsa akan memiliki fondasi yang kokoh untuk bertumbuh.
Namun bagi masyarakat yang sedang bergumul menghadapi kerasnya kehidupan, pengharapan tidak boleh bergantung pada kurs mata uang atau kebijakan ekonomi semata. Pengharapan sejati harus berakar kepada Tuhan.
Nabi Yesaya menuliskan:
“Orang-orang yang menanti-nantikan Tuhan mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya.” (Yesaya 40: 31)
Karena itu, mulailah hari dengan doa. Doa bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan nafas pengharapan yang menguatkan jiwa.
Doa adalah cara manusia menyerahkan apa yang tidak mampu ia kendalikan ke dalam tangan Tuhan yang berdaulat.
Rupiah mungkin terpuruk. Ekonomi mungkin bergejolak. Tetapi jangan biarkan iman ikut runtuh.
Sebab selama Tuhan masih memegang tangan kita, selalu ada alasan untuk melangkah, selalu ada kekuatan untuk bertahan, dan selalu ada harapan untuk menyongsong hari esok.
“Tuhan adalah kekuatanku dan perisaiku; kepada-Nya hatiku percaya.” (Mazmur 28: 7)
Penyebar: Shalom.click | Ingot Simangunsong









