Mengikut Yesus keputusanku: Ketika tidak ada jalan untuk kembali

Selasa, 25 Agustus 2026 - 05:22 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SAYA mau ikut Yesus, saya mau ikut Yesus. Tak mau kembali, tak mau kembali.”

 

ADA lagu rohani yang sederhana, tetapi setiap kali dinyanyikan terasa seperti sebuah pernyataan iman yang sangat dalam.

Saya mau ikut Yesus. Tak mau kembali.
Bukan sekadar lirik. Bukan pula sekadar lagu yang dinyanyikan ketika ibadah berlangsung.

Kalimat itu adalah sebuah keputusan: ketika seseorang memilih Kristus, ia memilih untuk tetap berjalan bersama-Nya, bahkan ketika jalan itu tidak selalu mudah.

Salah satu lagu yang sangat dikenal dengan pesan tersebut adalah “I Have Decided to Follow Jesus”, yang dalam bahasa Indonesia dikenal dengan berbagai judul, termasuk “Saya Mau Ikut Yesus” atau “Mengikut Yesus Keputusanku.”

Lagu ini berasal dari kawasan Assam di India dan kemudian menyebar luas ke berbagai negara.

Penelitian himnologi modern mengaitkan teks dan melodinya dengan Simon K. Marak, seorang pendeta, guru dan penginjil dari komunitas Garo di wilayah Jorhat, Assam.

Namun di balik lagu ini terdapat sebuah kisah iman yang sangat terkenal tentang seorang pria Garo bernama Nokseng.

Nokseng dan keputusan untuk tetap mengikut Yesus

Dalam tradisi yang berkembang mengenai asal-usul lagu ini, Nokseng dikisahkan sebagai seorang pria Garo yang menerima Injil pada abad ke-19.

Keputusan Nokseng untuk percaya kepada Kristus ternyata tidak diterima semua orang.

Ia dan keluarganya menghadapi tekanan untuk meninggalkan iman mereka.

Dalam kisah yang diwariskan turun-temurun, ketika diminta menyangkal Yesus, Nokseng tetap bertahan pada keputusannya: Aku sudah memutuskan untuk mengikut Yesus.

Ketika tekanan semakin berat, ia tetap tidak mundur.

Bahkan ketika tidak ada seorang pun yang bersedia berjalan bersamanya, keputusan itu tetap sama:
Sekalipun tidak ada yang mengikutiku, aku akan tetap mengikut Yesus.”

Kisah tersebut kemudian menjadi salah satu tradisi yang paling kuat yang dikaitkan dengan lagu ini.

Namun kita perlu jujur secara sejarah.

Para peneliti modern belum menemukan dokumentasi independen yang cukup untuk memastikan seluruh kisah kemartiran Nokseng sebagaimana yang populer diceritakan.

Karena itu, kisah Nokseng sebaiknya kita sampaikan sebagai tradisi yang menginspirasi lagu, bukan sebagai fakta sejarah yang sudah terbukti secara mutlak.

Simon K. Marak: Mengubah keputusan iman menjadi nyanyian

Di sinilah sosok Simon K. Marak menjadi penting.

Simon Kara Marak dikenal sebagai pendeta, guru dan misionaris Garo di Jorhat, Assam.

Penelitian yang dirangkum oleh United Methodist Discipleship Ministries menyebut bahwa bukti yang paling kuat menunjuk Marak sebagai pencipta lagu tersebut.

Lagu itu diperkirakan ditulis pada sekitar dekade 1930-an atau 1940-an, jauh setelah kisah Nokseng yang secara tradisional ditempatkan pada abad ke-19.

Artinya, ada perbedaan penting yang perlu kita pahami.

Nokseng bukanlah tokoh yang secara historis terbukti sebagai penulis lagu tersebut.

Sementara Simon K. Marak adalah tokoh yang oleh penelitian modern paling kuat dikaitkan dengan penciptaan lagu “I Have Decided to Follow Jesus.”

Marak bukan hanya menulis lagu. Ia juga melayani sebagai pendeta, guru dan penginjil.

Lagu itu kemudian menjadi semacam tema bagi kehidupan dan pelayanannya.

Dari pelayanan dan komunitas Garo, lagu tersebut terus menyebar hingga akhirnya dikenal oleh umat Kristen di berbagai belahan dunia.

Mengikut Yesus bukan keputusan sesaat

Di sinilah lagu ini berbicara kepada kita hari ini.

Kita sering mudah berkata:
“Saya mau mengikut Yesus.”

Tetapi apakah kita tetap mengikut Yesus ketika doa belum terjawab?

Apakah kita tetap mengikut Yesus ketika kehidupan sedang sulit? Tetap percaya ketika orang lain memilih meninggalkan iman? Terus berjalan ketika tidak ada seorang pun yang memberi tepuk tangan?

Mengikut Yesus bukan berarti hidup kita bebas dari masalah.

Justru Yesus mengingatkan bahwa mengikut Dia berarti bersedia memikul salib.

“Setiap hari ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.”
Lukas 9:23

Karena itu, kalimat “tak mau kembali” bukanlah kalimat yang ringan. Itu adalah komitmen.

Aku boleh kehilangan banyak hal, tetapi jangan sampai kehilangan Kristus. Boleh berjalan sendirian untuk sementara, tetapi jangan sampai meninggalkan Yesus.

Bisa saja mengalami kegagalan, tetapi jangan menjadikan kegagalan sebagai alasan untuk berhenti percaya.

Salib di depan, dunia di belakang

Salah satu bagian paling kuat dari lagu ini adalah gambaran:
Salib di depan, dunia di belakang.

Betapa sederhana, tetapi betapa dalam.
Salib di depan berarti arah hidup kita jelas: Kristus.

Dunia di belakang berarti kita tidak lagi menjadikan kesenangan, kekayaan, popularitas, jabatan atau pengakuan manusia sebagai tujuan utama kehidupan.

Bukan berarti orang percaya harus membenci dunia.

Tetapi kita tidak boleh membiarkan dunia menentukan siapa kita.

Kita sudah memilih.

Kristus di depan.

Bagaimana dengan kita?

Mungkin hari ini kita tidak sedang menghadapi ancaman seperti yang diceritakan dalam kisah Nokseng.

Namun setiap hari kita tetap berhadapan dengan pilihan.

Memilih jujur atau berbohong, mengampuni atau menyimpan dendam, melayani atau mencari pujian, tetap percaya atau menyerah, dan berjalan bersama Tuhan atau kembali kepada kehidupan lama.

Karena itu, ketika kita menyanyikan “Saya Mau Ikut Yesus”, jangan hanya menyanyikannya dengan bibir.

Biarlah lagu itu menjadi doa.

Tuhan, aku sudah memilih-Mu.

Ketika keadaan baik, aku mau mengikut-Mu. Saat keadaan sulit, aku juga mau mengikut-Mu. Di saat banyak orang berjalan bersamaku, aku mengikut-Mu.
Ketika aku harus berjalan sendirian, aku tetap mengikut-Mu.

Tak mau kembali.

Renungan hari ini

Mengikut Yesus bukan tentang seberapa keras kita menyanyikan sebuah lagu.

Sesungguhnya, mengikut Yesus adalah tentang seberapa sungguh kita menjalani keputusan itu dalam kehidupan sehari-hari.

Mungkin kita tidak akan pernah mengalami kemartiran seperti yang diceritakan dalam tradisi tentang Nokseng.

Namun kita dipanggil untuk memberikan hidup kita kepada Kristus setiap hari.

Di rumah, tempat kerja, dalam keluarga, dalam pelayanan, dan di tengah masyarakat.

Bahkan ketika tidak ada seorang pun yang melihat.

Kiranya ketika kita mengatakan:
“Saya mau ikut Yesus,” surga melihat bahwa itu bukan sekadar nyanyian.

Itu adalah keputusan hati.

Salib di depan. Dunia di belakang.

Tak mau kembali.

Doa

Tuhan Yesus,
hari ini kami kembali mengingat keputusan kami untuk mengikut Engkau.

Ketika jalan terasa berat, kuatkan kami.

Saat banyak orang meninggalkan-Mu, teguhkan kami.

Ketika kami berjalan sendirian, ingatkan kami bahwa Engkau tidak pernah meninggalkan kami.

Ajarlah kami bukan hanya menyanyikan “Saya Mau Ikut Yesus”, tetapi sungguh-sungguh menjalani hidup sebagai orang yang telah memilih-Mu.

Salib di depan, dunia di belakang.

Tolong kami untuk tetap setia sampai akhir.

Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa.
Amin.

Penyebar: Shalom.click | Ingot Simangunsong 

 

 

 

Berita Terkait

Merdeka bukan berarti semau gue
Belajar dari Semut, jangan cuma sibuk untuk diri sendiri
Berita ini 13 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 25 Agustus 2026 - 05:22 WIB

Mengikut Yesus keputusanku: Ketika tidak ada jalan untuk kembali

Senin, 24 Agustus 2026 - 09:49 WIB

Merdeka bukan berarti semau gue

Minggu, 2 Agustus 2026 - 15:45 WIB

Belajar dari Semut, jangan cuma sibuk untuk diri sendiri

Berita Terbaru

Uncategorized

Mengikut Yesus keputusanku: Ketika tidak ada jalan untuk kembali

Selasa, 25 Agu 2026 - 05:22 WIB

Uncategorized

Merdeka bukan berarti semau gue

Senin, 24 Agu 2026 - 09:49 WIB

RENUNGAN

Di muka Tuhan Yesus, betapa hina diriku

Senin, 24 Agu 2026 - 03:17 WIB

KABAR BAIK HARI INI

Ketika sebuah postingan menjadi tempat seseorang mencari penguatan

Jumat, 21 Agu 2026 - 23:07 WIB

RENUNGAN

Ketika MATA menjadi JENDELA HATI

Jumat, 21 Agu 2026 - 06:29 WIB