BAB IX: SERU — INJIL dari boncengan dan batu bata mentah

Jumat, 12 Juni 2026 - 08:24 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SERU.

SATU kata. Dari mulut anakku. Untuk meringkas lima tahun padang gurun yang kami lalui berdua.

Aku kira “seru” itu kata anak muda untuk konser. Ternyata “seru” itu mazmur.

Mazmur tentang lapar yang ditertawakan bersama. Tentang kontrakan yang bocor tapi doa tidak bocor.

Ternyata anakku menikmati kebatinan yang tidak kumengerti: bahwa miskin bersama Tuhan itu lebih seru dari kaya tanpa Dia. Hab 3: 17-18

Lalu ia lempar batu lain ke kolam hatiku:
Aku mau ada perubahan, Pa.”

Aku kaget. Lidahku kelu.
Benarkah itu suara anak stroke? Atau itu suara Gembala Agung yang pinjam mulut domba-Nya untuk menegur gembala upahan yang hampir kabur? Yoh 10: 27

Akulah jalan,” kata Firman itu dulu. “Jangan goyah,” kata anakku sekarang.
Suara mereka sama. Karena memang Sumbernya satu.

Sejak itu, kamar kontrakanku jadi Katedral.

Jamnya tidak tetap. Imamnya tidak digaji. Tapi Imam Besarnya selalu hadir. Ibr 4: 14

“Nanti malam kita ibadah ya, Pa.”
Kalimat itu bukan permintaan. Itu lonceng. Dan aku, mantan Nabal, jadi penjaga lonceng.

Kami bernyanyi. Fals tapi jujur.
Kami baca Firman. Terbata tapi lapar.
Kami berdoa. Pendek tapi tembus langit.

Usai amin, Sidang Gereja Lorong dimulai. Agenda tunggal: di mana kita melabuhkan bahtera?

Ia ingatkan aku tentang persembahan. Aku ingatkan dia tentang penyembahan.
Dan dalam doa, Tuhan tunjuk satu nama: GEREJA.

“Di sini kita akan bergereja, akan beribadah, akan menjadi anggota jemaat, dan bertumbuh dalam iman,” kataku.

Tanganku menunjuk bangunan itu. Tangannya menggenggam tanganku.

Bangunan baru,” katanya.
Ya,” jawabku, menahan air mata.
Seperti gereja yang baru dibangun inilah, iman kita juga akan dibangun. Kita akan bertumbuh bersama dengan gereja.” 1 Ptr 2: 5

Batu bertemu batu. Nabal bertemu Anugerah. Lahirlah Mezbah.

Lalu datang pertanyaan yang merontokkan semua teologiku:
Apakah di gereja ini, banyak orang baik, Pa?

Aku tertegun. Angin sore masuk lewat lubang ventilasi yang belum ditutup semen.

Kucoba jawab dengan suara yang kupungut dari puing-puing hidupku:
Anakku, kita datang ke rumah Tuhan, tidak untuk mencari orang baik atau orang jahat. Kita datang ke gereja, untuk menyampaikan rasa syukur karena sudah diberi kesempatan berjalan di Jalan-Nya.” Maz 100: 4

Karena di Jalan Itu, orang jahat diampuni. Orang baik disadarkan bahwa ia tidak baik-baik amat. Rom 3: 23

Ia diam. Matanya teduh. Menatap dinding luar yang belum diplester. Bata merah terlihat. Lubang segi empat jadi ventilasi.
Gereja itu belum rapi. Seperti kami. Belum selesai. Seperti kami.

Tapi justru di lubang-lubang itulah angin Roh masuk. Dan kami bernapas. Yoh 3: 8

Anakku,” kataku pelan,
Jika Tuhan berkehendak, di Gereja inilah perubahan demi perubahan akan bersama-sama kita alami. Kita pasrah dan menyerahkan semuanya kepada Tuhan, karena Dia yang berkuasa penuh atas apa yang ada dalam kehidupan kita.Ams 3: 5-6

Ia mengangguk. Lalu ia khotbah lagi, dengan satu kalimat dan satu isyarat:
“Baiklah Pa…”
Sembari telunjuknya menyentuh sudut bibirku. Kode. Artinya: “Senyum, Pa.”

Kuhidupkan sepedamotor. Mesin tua itu batuk, lalu nyala. Seperti imanku.

Kami lanjutkan perjalanan. Arah pulang. Tapi sebenarnya arah maju. Karena pulang yang benar adalah maju ke Rumah Bapa. Luk 15: 18

Di boncengan, ia bersandar. Di depan, aku menyetir sambil menggumam:
Bagi Tuhan tidak ada yang mustahil. Bagi Tuhan tidak ada yang tidak mungkin. Luk 1: 37

Mujizat-Nya disediakan-Nya bagi setiap orang yang yakin dan percaya.

Dan malam ini, dua orang percaya itu adalah aku dan anakku.

Naik sepedamotor butut, menuju kontrakan sempit, tapi hati seluas Surga.

Karena kami baru sadar: “SERU” itu bukan tentang keadaan.

SERU” itu tentang Dia yang menyertai di setiap keadaan.

Haleluya!!!.

 

Catatan:

Tulisan ini, karya dari Ingot Simangunsong, penanggungjawab Mediaonline shalom.click, yang disajikan bersambung dan jika Tuhan Yesus memberkati, akan diterbitkan dalam  bentuk buku saku dengan judul: “Tuhan bersabda: ‘Akulah Jalan’, sebuah catatan tentang aku yang salah jalan”.

Penyebar: shalom.click | Ingot Simangunsong 

Berita Terkait

Sodom dan Gomora: Bukan sekadar kisah kota yang hancur
Diberkati untuk menjadi berkat: tata kelola iman dalam mengelola Anugerah Tuhan
Pergantian ≠ Pertobatan, Korupsi sistemik dilawan dengan liturgi meja
BAB VIII: ENJOY, PA — INJIL DARI KACA SPION 
Bab VII: “HALELUYA DARI LORONG”
BAB VI: KETIKA SABDA LAHIR DARI MULUT ANAK 2 TAHUN
BAB V: KETIKA SUNYI LEBIH MEMBUNUH DARIPADA GELAP
Tentang hutan, manusia diberi kuasa bukan semena-mena
Berita ini 12 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 12 Juni 2026 - 08:24 WIB

BAB IX: SERU — INJIL dari boncengan dan batu bata mentah

Kamis, 11 Juni 2026 - 19:08 WIB

Sodom dan Gomora: Bukan sekadar kisah kota yang hancur

Minggu, 7 Juni 2026 - 12:05 WIB

Diberkati untuk menjadi berkat: tata kelola iman dalam mengelola Anugerah Tuhan

Jumat, 5 Juni 2026 - 09:39 WIB

Pergantian ≠ Pertobatan, Korupsi sistemik dilawan dengan liturgi meja

Kamis, 4 Juni 2026 - 09:29 WIB

BAB VIII: ENJOY, PA — INJIL DARI KACA SPION 

Berita Terbaru

SULUH ZAMAN

Warga Surga di tengah dunia yang kehilangan arah

Rabu, 17 Jun 2026 - 07:28 WIB

NAFAS KASIH

Ketika Jiwa dan Roh kembali berpelukan

Selasa, 16 Jun 2026 - 20:42 WIB

SULUH ZAMAN

Saat CACI MAKI mengalahkan HIKMAT

Senin, 15 Jun 2026 - 16:51 WIB

NAFAS KASIH

Tak ada Air Mata yang sia-sia di hadapan Tuhan

Minggu, 14 Jun 2026 - 22:40 WIB