Handphone-ku mati total. Dan karena dompetku juga sekarat, aku tidak bisa menggantinya.
Reaksiku? Aneh. Aku tidak panik. Kenapa? Karena aku sadar: HP itu mati atau hidup, sama saja. Toh, tidak ada yang menghubungiku. Daftar kontakku penuh nama, tapi kosong makna.
Satu-satunya panggilan yang selalu masuk adalah dari anakku yang berkebutuhan khusus.
Stroke tidak merampas kasihnya.
Setiap hari dia bertanya: “Papa di mana? Lagi apa? Sama siapa?” Tiga pertanyaan sederhana. Tapi Tuhan pakai itu untuk merawat imanku.
Yang lebih menampar: Saat aku benar-benar “tidak ada”, tidak ada satu pun teman yang datang mencari. Tidak ada yang mengetuk pintu sekadar bertanya kabar.
Di situ aku belajar hukum rimba dunia: Kamu hanya ada saat kamu berguna. Saat tidak, kamu tidak dianggap ada.

Aku mau marah. Mau protes ke semesta. Tapi kuurungkan. Biar waktu yang menjawab.
Dan waktu menjawab.
Di tengah sepi yang kupeluk itu, Tuhan mengirim satu-satunya notifikasi yang penting. Bukan WhatsApp. Bukan telepon.
Sebuah sabda yang masuk langsung ke ruang batinku: “Akulah jalan.” Yohanes 14: 6
Baru kusadari: 46 tahun aku sibuk membangun jalan sendiri. Jalan ambisi. Jalan nama. Jalan ego.
Tuhan terpaksa merubuhkan semua jalan itu, dengan cara mematikan HP-ku, supaya aku berhenti… dan melihat bahwa Jalan itu sedang berdiri di depanku, menungguku dari tadi.
Hari itu, handphone-ku resmi wafat. Tapi aku, untuk pertama kalinya, benar-benar hidup.
Catatan: Tulisan ini, karya dari Ingot Simangunsong, penanggungjawab Mediaonline shalom.click, yang akan disajikan bersambung dan jika Tuhan Yesus memberkati, akan diterbitkan dalam bentuk buku saku dengan judul: “Tuhan bersabda: ‘Akulah Jalan’, sebuah catatan tentang aku yang salah jalan”.
Penyebar: shalom.click | Ingot Simangunsong









