KEHIDUPAN yang kujalani di kegelapan yang pekat, akhirnya mengobrak-abrik pekerjaanku.
Tiga belas pasukan yang kurekomendasikan, yang digaji, yang kupercaya… berbalik jadi 13 serigala. Mereka rencanakan kudeta. Dan berhasil.
Aku tersungkur. Dicampakkan. Nol. Diperintahkan keluar. Hanya bawa pesangon & aib.
Dua minggu. Status: Pengangguran. Gagal. Nabal. Lalu di tengah malam sunyi, dari kamar sebelah, terdengar jerit yang membelah jantungku: “Mamaaaa…”
Anakku. 2 tahun 3 bulan. Koma 8 hari. Sebulan ICU.
Saat sadar, tangan & kaki kirinya stroke. Lumpuh. Apakah aku bertobat? Tidak. Aku & istri malah perang.
Dia vonis: “Ini salahmu. Ini karma perbuatanmu.” Aku angguk. Karena memang benar. Aku Nabal. Anakku yang bayar.
Seorang kawan datang. Bawa pesan dari Pendeta: “Bawa anakmu ke jalan Tuhan. Dia bisa sembuh.”
Kujawab dengan muntahan Nabal dari mulutku: “Jadi maksudmu, anakku lumpuh karena Tuhan?!“
Kawanku tidak balas. Dia cuma senyum, “Aku hanya penyampai pesan.”
Dia malaikat. Dan aku usir. Tapi Tuhan tidak usir anaku.

Saat kami kembali ke gereja, setiap Minggu, anakku tidak mau duduk di kursi. Dia pilih duduk di lorong. Di lantai. Di antara kaki-kaki jemaat.
Dan tiap kali Gembala berseru “Haleluya”, anakku yang lumpuh itu ikut teriak “Haleluya!” sambil angkat tangan kanannya. Satu-satunya tangan yang bisa dia angkat.
Dan setiap aku pamit kerja, dia selalu tarik bajuku, bisik di telinga Nabal ini: “Sabar ya Pa. Hati-hati. Tuhan Yesus yang akan menyembuhkanku.”
10 kata. Setiap hari. Bertahun-tahun. Puluhan tahun. Dan aku, yang merasa hebat, TULI.
Aku kira itu ocehan anak kecil. Ternyata itu SABDA. Aku kira itu penyemangat. Ternyata itu Nubuat.
Sampai HP-ku mati. Dunia-ku mati. Baru kupingku hidup. Baru aku dengar teriakan paling keras dari Surga: “AKULAH JALAN!” Yoh 14: 6
Dan saat itu juga aku tau: 10 kata anakku = Yoh 14: 6 versi anak 2 tahun. “Sabar ya Pa” = Akulah Jalan — Jalan itu panjang, perlu sabar. “Hati-hati” = Kebenaran — Jalan itu sempit, jangan salah injak. “Tuhan Yesus yang akan menyembuhkanku” = Hidup — Di ujung Jalan itu ada kesembuhan.
Hari itu aku peluk anakku. Untuk pertama kali aku bicara bukan sebagai Bapak. Tapi sebagai sesama orang butuh Jalan.
“Nak, Papa dengar. Papa ngerti sekarang. 10 kata itu dari Tuhan. Kita wujudkan sama-sama ya. Sabar. Hati-hati. Nama Yesus terus.”
Aku tidak peduli nalarnya ngerti atau tidak. Roh Kudus yang kerja di lubuk hatinya, bukan logikaku.
Dan malam itu, di lantai kamar, dengan anak lumpuh di hadapanku, aku doa paling jujur seumur hidup: “Ya Tuhan, sudah kusampaikan ke anakku.
Sekarang giliran-Mu. Engkau bersabda ‘Akulah jalan’. Kami tidak cuma dengar. Kami teriak dari lembah ini: ‘Ya Tuhan, BAWALAH aku dan anakku di dalam jalan-Mu!’ Biar kuasa-Mu kami undang. Biar kasih-Mu kami imani. Sembuhkan anakku. Pulihkan hidupku. Bukan karena aku layak, tapi karena Engkau Jalan.”
Catatan:
Tulisan ini, karya dari Ingot Simangunsong, penanggungjawab Mediaonline shalom.click, yang akan disajikan bersambung dan jika Tuhan Yesus memberkati, akan diterbitkan dalam bentuk buku saku dengan judul: “Tuhan bersabda: ‘Akulah Jalan’, sebuah catatan tentang aku yang salah jalan”.
Penyebar: shalom.click | Ingot Simangunsong









