Mazmur 46: 11 bilang: “Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah”
Kita tuh nggak disuruh “bereskan dulu baru diam”. Kita disuruh “diam dulu… baru tahu”.
Krisis kepemimpinan, krisis keuangan, krisis hati… semuanya berisik.
Lagu “Still” ngajarin: sebelum Tuhan jawab, Dia minta kita “hide me now”. Sembunyi dulu. Nggak usah sok kuat.
Manusia tuh kayak air keruh kalau diguncang seharian…
Masalah = guncangan. Pikiran = lumpur yang naik. Solusi = makin diguncang makin keruh.
“Diam di bawah sayap” itu kayak naruh gelasnya di meja. Nggak diguncang lagi. Lama-lama lumpurnya turun sendiri.
Airnya bening lagi. Baru kita bisa lihat dasarnya: Bapa ada di situ dari tadi.
Jadi lagu ini bukan ngajarin pasrah… tapi ngajarin posisi…
Posisi Anak. Posisi yang nggak megang kendali, tapi dipegang.
Horatio Spafford nulis “It Is Well” pas anaknya 4 hilang di kapal tenggelam. Dia nggak bilang “semua baik-baik aja”.
Dia bilang “Jiwaku aman dalamMu“. Itu Baju Zirah Iman versi malam hari.
Ayat kunci:
Mazmur 91: 1 – “Orang yang duduk dalam lindungan Yang Mahatinggi dan bermalam dalam naungan Yang Mahakuasa…”
Kalimat kunci:
“Malam nggak harus terang benderang. Cukup ada sayap yang menaungi… hati jadi bisa tidur.”
Gimana kawan shalom.click? Malam ini mau kita “diam” bareng 3 menit nggak? Tarik napas, buang napas, bisik: “Aku aman di bawah sayapMu”.
Penyebar: shalom.click | Ingot Simangunsong









