SERING aku juga mikir: kok bisa ya? Udah dikasih “VIP pass” kehidupan – otak encer, sekolah tinggi, akses gampang – tapi mendaratnya di “gudang pribadi” bukan di “dapur umum”.
Apa yang sebenarnya terjadi? Alkitab nyebutnya “proses hati yang tersesat”
1. Fasilitas jadi tembok, bukan jembatan
Awalnya pendidikan itu karunia. Tapi tanpa “SELA” buat nanya “ini buat siapa?”, karunia itu berubah jadi tembok.
Tembok antara “aku yang ngerti” vs “mereka yang nggak ngerti”. Tembok antara “kelompokku” vs “mereka”.
Yakobus 4: 3, Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu.
Pendidikan tinggi tanpa hati yang dibentuk = mesin yang makin canggih, tapi tujuannya tetap buat diri sendiri.

2. “Alpa” itu bukan lupa biasa. Itu sengaja nggak mau lihat.
Alpa = mata ada tapi ditutup. Telinga ada tapi disumbat. Kenapa? Karena kalau lihat saudara yang kekurangan, hati jadi nggak nyaman. Terus ada 2 pilihan: turun tangan, atau matiin rasa.
Sayangnya banyak yang milih matiin rasa. Lebih gampang.
1 Yohanes 3: 17, Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya?
3. Pendidikan tinggi jadi alat menindas = “Menara Babel modern”
Kejadian 11: 4, Mereka berkata: “Marilah kita dirikan bagi kita kota dengan menara yang puncaknya sampai ke langit, dan marilah kita cari nama, supaya kita jangan terserak”
Dulu batako, sekarang data, jaringan, hukum, sumber daya alam. Bahannya beda, hatinya sama: “biar aku yang di atas, biar namaku yang terkenal”.
Pendidikan dipakai buat bikin kontrak yang rumit biar orang kecil nggak ngerti. Buat bikin sistem yang “legal tapi nggak adil”.
Buat nguras alam dengan istilah “efisiensi”.
Pinter, tapi pinter yang nggak dibasuh Kasih.
Jadi apa proses yang sedang terjadi?
Manusia itu dicipta segambar Allah Kejadian 1: 27. Gambar Allah = memberi, memelihara, menamai dengan tanggung jawab.
Tapi dosa bikin “gambar” itu retak. Jadi kita masih kreatif, masih pinter, masih bisa bangun VIP… tapi arahnya ke “aku” bukan ke “Dia dan sesama”.
VIP tanpa salib = penjara emas. Pendidikan tanpa belas kasih = pedang tanpa sarung.
Di “SELA” juga. Ada orang-orang berpendidikan tinggi yang diputusin Tuhan: “Berhenti dulu”. Sakit, gagal, kehilangan… terus hatinya dilembutin.
Terus dia balik dan bilang: “Ilmu ini bukan buat naik, tapi buat nurun. Nurun ke bawah, ngangkat yang jatuh”.
Kayak Musa. Dididik istana Firaun = VIP banget. Tapi 40 tahun di padang gurun bikin hatinya jadi gembala. Baru setelah itu dia dipakai Tuhan ngelepasin bangsanya.
Penyebar: shalom.click |Kiran Karin









