“Proses hati yang tersesat”

Sabtu, 30 Mei 2026 - 08:56 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SERING aku juga mikir: kok bisa ya? Udah dikasih “VIP pass” kehidupan – otak encer, sekolah tinggi, akses gampang – tapi mendaratnya di “gudang pribadi” bukan di “dapur umum”.

Apa yang sebenarnya terjadi? Alkitab nyebutnya “proses hati yang tersesat”

1. Fasilitas jadi tembok, bukan jembatan  

Awalnya pendidikan itu karunia. Tapi tanpa “SELA” buat nanya “ini buat siapa?”, karunia itu berubah jadi tembok.

Tembok antara “aku yang ngerti” vs “mereka yang nggak ngerti”. Tembok antara “kelompokku” vs “mereka”.

Yakobus 4: 3, Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu.

Pendidikan tinggi tanpa hati yang dibentuk = mesin yang makin canggih, tapi tujuannya tetap buat diri sendiri.

2. “Alpa” itu bukan lupa biasa. Itu sengaja nggak mau lihat.

Alpa = mata ada tapi ditutup. Telinga ada tapi disumbat. Kenapa? Karena kalau lihat saudara yang kekurangan, hati jadi nggak nyaman. Terus ada 2 pilihan: turun tangan, atau matiin rasa.

Sayangnya banyak yang milih matiin rasa. Lebih gampang.

1 Yohanes 3: 17, Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya?

3. Pendidikan tinggi jadi alat menindas = “Menara Babel modern”

Kejadian 11: 4, Mereka berkata: “Marilah kita dirikan bagi kita kota dengan menara yang puncaknya sampai ke langit, dan marilah kita cari nama, supaya kita jangan terserak”

Dulu batako, sekarang data, jaringan, hukum, sumber daya alam. Bahannya beda, hatinya sama: “biar aku yang di atas, biar namaku yang terkenal”.

Pendidikan dipakai buat bikin kontrak yang rumit biar orang kecil nggak ngerti. Buat bikin sistem yang “legal tapi nggak adil”.

Buat nguras alam dengan istilah “efisiensi”.

Pinter, tapi pinter yang nggak dibasuh Kasih.

Jadi apa proses yang sedang terjadi?

Manusia itu dicipta segambar Allah Kejadian 1: 27. Gambar Allah = memberi, memelihara, menamai dengan tanggung jawab.

Tapi dosa bikin “gambar” itu retak. Jadi kita masih kreatif, masih pinter, masih bisa bangun VIP… tapi arahnya ke “aku” bukan ke “Dia dan sesama”.

VIP tanpa salib = penjara emas. Pendidikan tanpa belas kasih = pedang tanpa sarung.

Lalu pengharapan di mana?

Di “SELA” juga. Ada orang-orang berpendidikan tinggi yang diputusin Tuhan: “Berhenti dulu”. Sakit, gagal, kehilangan… terus hatinya dilembutin.

Terus dia balik dan bilang: “Ilmu ini bukan buat naik, tapi buat nurun. Nurun ke bawah, ngangkat yang jatuh”.

Kayak Musa. Dididik istana Firaun = VIP banget. Tapi 40 tahun di padang gurun bikin hatinya jadi gembala. Baru setelah itu dia dipakai Tuhan ngelepasin bangsanya.

 

Penyebar: shalom.click |Kiran Karin

Berita Terkait

Jangan takut, Tuhan ada bersamamu
Ketika Gereja dipanggil hadir di tengah krisis kemanusiaan dunia
BELALANG tidak punya Raja, tapi tahu cara bersatu
Lagi Ikutin Tuhan… atau Cuma Ngikutin Ego?
Harapan di Tengah Tekanan Ekonomi
Ketika Pajak Menjadi Beban: Belajar dari Raja Rehabeam dan Suara Para Nabi
Korupsi berawal dari hati yang tidak pernah puas
Generasi Digital: Bijak Menggunakan Teknologi sebagai Alat Kemuliaan Tuhan
Berita ini 7 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 28 Agustus 2026 - 06:58 WIB

Jangan takut, Tuhan ada bersamamu

Rabu, 19 Agustus 2026 - 10:55 WIB

Ketika Gereja dipanggil hadir di tengah krisis kemanusiaan dunia

Selasa, 11 Agustus 2026 - 12:11 WIB

BELALANG tidak punya Raja, tapi tahu cara bersatu

Rabu, 5 Agustus 2026 - 21:28 WIB

Lagi Ikutin Tuhan… atau Cuma Ngikutin Ego?

Rabu, 5 Agustus 2026 - 10:36 WIB

Harapan di Tengah Tekanan Ekonomi

Berita Terbaru

RENUNGAN

Memenangkan hati yang gelisah dengan Tuhan

Minggu, 13 Sep 2026 - 19:55 WIB

NAFAS KASIH

Pesan September — Hari ke-13: “Belajar bersyukur hari ini”

Minggu, 13 Sep 2026 - 08:57 WIB