MENIKAH — usia 27 — di atas altar yang kudus, tapi dengan hati yang najis. Ada noda hitam. Ada kebohongan yang kusembunyikan rapi di balik jas pengantin.
Yang tidak kubuka hari itu: ruang pengampunan. Padahal Firman berkata: “Apa yang dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.” Matius 19: 6
Tapi aku? Aku mempersatukan diriku sendiri. Tanpa bertanya pada Allah. Tanpa minta Dia jadi Saksi. Tanpa minta darah-Nya menutup nodaku.

Kebebalan dibalut ego. Itu yang memerintah 5 tahun pertama.
Aku pikir: “Semua akan lancar. Semua akan baik-baik saja.” Aku pikir pernikahan itu kayak membalik telapak tangan. Sekali “ya”, selesai.
Ternyata tidak. Ketika badai pertama datang, perahuku oleng. Status sosial — yang kubanggakan — berubah jadi sumbu.
Sumbu yang menyulut perseteruan tiap malam di meja makan. Diam. Kupikir diam itu rem. Ternyata diam itu bensin.
Makin kubungkam mulut, makin meninggi volume amarah di kepala. Dan lagi-lagi, satu hal yang tidak pernah kulakukan: Berlutut.
Tidak terlintas membawa badai itu ke dalam doa. Yang kubuka justru ruang pengadilan.
Hakimnya: egoku.
Jaksanya: bisikan iblis.
Vonisnya: “Kau sudah dianggap sampah.” “Harga dirimu diinjak-injak.” “Tinggalkan saja.”
Tapi ada Bisikan lain. Pelan. Hampir tenggelam. “Jangan beranjak. Ada tiga anak yang sudah kau miliki.”
Itu suara kebaikan. Mungkin itu suara Tuhan. Tapi kebebalan Nabal dalam diriku terlalu berisik. Tidak pernah kujadikan bisikan itu kudus.
Tidak pernah kubawa dalam doa: “Tuhan, itu Engkau, bukan?” Aku lebih percaya pada vonis egoku daripada suara anugerah-Nya.
Kalau pun ke gereja, ya sekadar datang. Nyanyi. Dengar khotbah. Pulang. Tapi tidak pernah berdoa bersama. Tidak pernah duduk satu meja dan bertanya: “Kita ini mau dibawa Tuhan ke mana?”
Kami dua orang asing yang tidur seranjang, dayung perahu ke arah berbeda. Lima tahun. Itu umur kebebalanku. Lima tahun mengandalkan amarah yang tidak kudus.
Sampai akhirnya, pikiran jahatku itu naik pangkat jadi Jenderal. Dia perintah aku: Desersi.
“Kebersamaan ini tidak bisa dipertahankan. Harus berpisah. Soal anak-anak? Biar takdir yang urus.”
Kalimat paling Nabal yang pernah keluar dari mulutku. Dan sekali lagi, tidak ada doa.
Yang ada hanya langkahku menuju lembah. Lembah gelap. Lembah sunyi.
Kubangun tembok. Kuputus komunikasi. Dengan istriku. Dengan anakku. Dengan Tuhan.
Catatan: Tulisan ini, karya dari Ingot Simangunsong, penanggungjawab Mediaonline shalom.click, yang akan disajikan bersambung dan jika Tuhan Yesus memberkati, akan diterbitkan dalam bentuk buku saku dengan judul: “Tuhan bersabda: ‘Akulah Jalan’, sebuah catatan tentang aku yang salah jalan”.
Penyebar: shalom.click | Ingot Simangunsong









