MENJADI seseorang yang bermanfaat bukan terutama soal seberapa banyak yang kita miliki, melainkan seberapa banyak yang kita bagikan bagi kebaikan sesama.
Punya pengetahuan tinggi seharusnya membuat seseorang semakin rendah hati.
Pengetahuan bukan untuk merasa lebih hebat, melainkan untuk menerangi jalan orang lain yang masih mencari arah. Pohon yang berbuah lebat justru semakin merunduk.
Diberi berkat berlimpah seharusnya membuat seseorang semakin murah hati.
Berkat bukan hanya tanda kasih Tuhan kepada kita, tetapi juga sarana agar kasih itu mengalir kepada orang lain.
Sungai tetap jernih karena airnya mengalir; demikian pula berkat akan menemukan maknanya ketika dibagikan.
Memiliki jabatan atau pengaruh seharusnya membuat seseorang semakin melayani. Kepemimpinan yang sejati bukan tentang berapa banyak orang melayani kita, melainkan berapa banyak orang yang hidupnya menjadi lebih baik karena kehadiran kita.
Dalam perspektif iman Kristen, Tuhan tidak hanya bertanya, “Apa yang engkau miliki?” tetapi juga, “Apa yang telah engkau lakukan dengan apa yang Aku percayakan kepadamu?”
“Karena setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut.” (Lukas 12: 48)
Karena itu, orang yang berpengetahuan hendaknya menjadi penerang. Orang yang diberkati hendaknya menjadi saluran berkat. Orang yang kuat hendaknya menjadi penopang yang lemah.
Pada akhirnya, nilai hidup seseorang tidak diukur dari seberapa tinggi ia berdiri, tetapi dari seberapa banyak orang yang dapat ia bangkitkan.
Penyebar: shalom.click | Kiran Karin









