“ENJOY, Pa.”
Bukan dari Pendeta. Bukan dari buku renungan. Dari kaca spion.
Dari mata seorang anak yang duduk di boncengan, menatap wajah tua Bapaknya.
Di kaca kecil itu, ia tidak melihat jalan. Ia melihat neraka.
Neraka bernama wajah Bapak yang tidak punya senyum damai.
Empatpuluhenam tahun aku jadi wartawan. Baru hari itu aku diliput. Oleh anakku sendiri.
Judul beritanya: “Bapak belum menikmati jalan Itu“.
Malamnya, pintu kamarku tertutup. Seperti hatiku dulu.
Tapi ada tangan kecil membukanya. Tanpa ketuk. Karena anak punya akses ke kamar Bapak.
“Ibadah kita, Pa.”*
Bukan ajakan. Itu panggilan sidang. Dan Hakimnya anak umur belasan.
Aku mengiyakan. Bukan karena aku rajin. Karena aku tertangkap basah tidak “enjoy”.
Kupersilakan ia duduk. Kuurai Alkitab di samping bantal. Bau kamarku: minyak kayu putih dan penyesalan.
Ia membuka handphone. Playlist Surga sudah ia siapkan. Ia yang jadi Worship Leader. Aku jemaatnya.
Kami bernyanyi. Suaraku fals. Suaranya jujur.
Lalu kami buka Efesus 4: 17-32. Perikopnya: MANUSIA BARU.
Ayat itu menelanjangi aku. Kata demi kata. Seperti Haleluya di lorong minggu lalu.
Usai ibadah, Jaksa Penuntut itu bertanya:
“Apa itu manusia baru, Pa?”
Aku menelan ludah. Dulu aku jawab dengan dalil. Sekarang aku jawab dengan luka.
“Anakku,” kataku, “Manusia baru itu… kita.”
“Ingat handphone Papa yang rusak? Itulah Tuhan hancurkan Nabal.”
“Sabda ‘Akulah jalan’ yang keluar dari mulutmu, itulah Tuhan bangunkan Daud.”
“Manusia baru itu, Nak… Papa yang dulu tinggalkan kamu demi ego, sekarang tinggalkan ego demi kamu.
..Amarah yang dulu jadi sarapan kita, sekarang kita puasakan.
..Jalan sendiri yang dulu kita anggap hebat, sekarang kita sebut sesat.
“Singkatnya: Semua sampah yang Tuhan benci, sudah Dia buang dari hidup kita.
Dan Dia ganti. Bukan dengan yang kita mau. Dengan rancangan-Nya.
“Apa buktinya? Malam ini. Kamu buka pintu. Aku buka Alkitab. Kita buka hati.
Itulah MANUSIA BARU, Nak. Bukan kita yang jadi baik. Tapi kita yang dibiarkan masuk Jalan Itu.

Kami lalu berdoa. Bukan untuk minta beras. Untuk minta kuas.
Karena siang tadi ia menonton video anak-anak berkebutuhan khusus seperti dirinya. Mereka berhasil.
Dan benih itu tumbuh: “Kapan aku bisa melukis, Pa?
Aku tidak janji tanggal. Aku ajari menunggu.
“Semua melalui proses, Nak. Tuhan itu Pelukis. Dia tidak terburu-buru.
Sabar. Teruslah doa. Biar Dia yang tuntun tanganmu.
Lalu ia lipat tangan. Dan dari mulutnya keluar doa paling indah yang pernah kudengar;
“Tuhan Yesus, berkatilah kerinduanku untuk menjadi pelukis firman-Mu.
Kawan… aku merinding.
Ia tidak minta jadi pelukis terkenal. Ia minta jadi pelukis firman.
Tangan kirinya lemah. Tapi doanya menembus langit ketiga.
Kami bersalaman. Bukan salaman basa-basi. Salaman perjanjian.
Kami teguhkan satu kalimat, biar setan dengar:
Firman Tuhan hidup dalam roh kami, dan roh kami hidup dalam firman Tuhan.
Malam itu, di kamar sempit kontrakan, mujizat terjadi.
Bukan anakku yang sembuh. Bapaknya yang sembuh.
Sembuh dari wajah tegang. Sembuh dari ibadah kewajiban. Sembuh dari lupa caranya “enjoy”.
Karena “Enjoy, Pa” dari kaca spion itu ternyata adalah Efesus 4: 17-32 versi jalanan.*
Artinya: “Papa, kalau Papa sudah di Jalan Itu, mukanya jangan kayak di jalan buntu.
Tuhan sudah bersabda: “Akulah jalan.”
Anakku sudah bersabda: “Enjoy, Pa.”
Dan malam ini, kami bersabda bersama: Amin.
Mujizat Tuhan itu nyata. Dan ia tidur di kamar sebelah. Namanya Afthar.
Catatan:
Tulisan ini, karya dari Ingot Simangunsong, penanggungjawab Mediaonline shalom.click, yang akan disajikan bersambung dan jika Tuhan Yesus memberkati, akan diterbitkan dalam bentuk buku saku dengan judul: “Tuhan bersabda: ‘Akulah Jalan’, sebuah catatan tentang aku yang salah jalan”.
Penyebar: shalom.click | Ingot Simangunsong









