Uzia megang tongkat kerajaan. Kita megang struk belanjaan…
Dulu Uzia takut tongkatnya diambil. Sekarang kita takut ATM-nya bunyi “saldo tidak cukup”.
Yesaya 46 ngomong ke bangsa Israel yang lagi jadi budak, ekonomi hancur, Tuhan mereka kayak berhala: berat, nggak bisa jalan sendiri.
Tuhan bilang: “Kalau berhala butuh dipikul, Aku malah yang gendong kamu dari kandungan sampai uban.”

Masalah ekonomi nggak bikin Bapa pensiun jadi Bapa.
Kekinian itu kejam: suruh “berjuang”, “berkarya”, “berinovasi”…
Padahal tenaga udah habis. Pikiran udah buntu. Hati udah tawar.
Yesaya 46: 4 nggak bilang “gendong dirimu sendiri”. Dia bilang “AKU yang gendong”.
Gendongan Bapa itu bukan ngilangin masalah. Gendongan Bapa itu bikin masalah nggak bikin kita jatuh.
Anak yang digendong nggak mikir “gimana caranya jalan”. Dia cuma mikir “aman ada di dada Bapa“.
Yang bisa kita sampaikan ke rakyat semesta: berhenti pura-pura kuat…
Nggak semua beban harus kita pikul. Ada beban yang memang tugas Bapa.
Beras bisa habis. Kerjaan bisa seret. Tapi gendongan nggak pernah copot.
Yesaya bilang “sampai masa tuamu Aku tetap Dia“. Artinya: krisis 2026, krisis 2030, krisis pensiun… Dia masih gendong.
Ayat kunci:
Yesaya 46: 4 – “Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu.”
Kalimat kunci:
“Kalau dompetmu kosong, ingat: kamu digendong Tuhan yang nggak pernah kosong.”
Penyebar: shalom.click | Ingot Simangunsong









