DI zaman ini, kita tidak kekurangan orang yang pandai berbicara.
Setiap hari masyarakat disuguhi berbagai pernyataan dari para pemimpin, tokoh publik, pejabat, politisi, hingga para figur yang memiliki pengaruh di media sosial.
Namun, di balik derasnya arus kata-kata itu, muncul satu pertanyaan penting: masihkah lidah menjadi alat untuk menyatakan kebenaran?
Tidak sedikit pernyataan yang berubah-ubah sesuai kepentingan. Hari ini berkata A, esok berkata B. Janji disampaikan dengan penuh keyakinan, tetapi pelaksanaannya tidak pernah terlihat.
Fakta dipoles sedemikian rupa hingga masyarakat sulit membedakan mana yang benar dan mana yang sekadar narasi.
Akibatnya, kebingungan meluas dan kepercayaan publik semakin terkikis.
Fenomena ini sebenarnya bukan hal baru. Yakobus telah mengingatkan jemaat sejak ribuan tahun lalu bahwa lidah adalah anggota tubuh yang kecil, tetapi sanggup membawa dampak yang sangat besar.
Seperti kemudi kecil yang mengarahkan kapal besar, demikian pula lidah dapat menentukan arah kehidupan seseorang maupun sebuah komunitas.
Lidah juga diibaratkan api yang mampu membakar hutan yang luas apabila tidak dikendalikan.
Yakobus bahkan menegaskan bahwa dari mulut yang sama tidak seharusnya keluar pujian kepada Allah sekaligus perkataan yang penuh dusta, fitnah, atau tipu daya.
Mata air yang baik tidak mungkin memancarkan air tawar dan air pahit pada saat yang sama.
Orang percaya dipanggil untuk memiliki integritas, sehingga ucapan selaras dengan hati dan perbuatannya.
Krisis kejujuran dalam perkataan bukan hanya persoalan para pemimpin negara.
Ia juga dapat menjangkiti keluarga, gereja, dunia usaha, bahkan kehidupan pribadi.
Ketika suami dan istri saling menyembunyikan kebenaran, kepercayaan akan retak.
Ketika pemimpin gereja berkata tidak sesuai kenyataan, kesaksian gereja akan tercemar.
Ketika masyarakat terbiasa menyebarkan informasi yang belum tentu benar, kebohongan menjadi budaya yang merusak kehidupan bersama.
Firman Tuhan mengajak kita memulai perubahan dari diri sendiri.
Sebelum mengkritik ucapan orang lain, setiap orang percaya perlu bertanya: apakah perkataan saya dapat dipercaya? Apakah saya berbicara demi kebenaran atau demi keuntungan pribadi? Apakah kata-kata saya membawa damai atau justru memperkeruh keadaan?
Dunia sedang haus akan orang-orang yang berani berkata benar, meskipun tidak populer.
Kejujuran mungkin tidak selalu menguntungkan dalam jangka pendek, tetapi itulah fondasi kepercayaan yang akan bertahan lama.
Integritas tidak dibangun melalui pidato yang indah, melainkan melalui keselarasan antara perkataan, hati, dan tindakan.
Sebagai pengikut Kristus, kita dipanggil menjadi terang, termasuk melalui perkataan kita.
Biarlah setiap ucapan menjadi sumber pengharapan, bukan kebingungan; menjadi saksi kebenaran, bukan alat manipulasi.
Sebab pada akhirnya, bukan banyaknya kata yang akan diingat orang, melainkan sejauh mana kata-kata itu dapat dipercaya.
“Demikian juga lidah, walaupun suatu anggota kecil dari tubuh, namun dapat memegahkan perkara-perkara yang besar.” (Yakobus 3: 5)
Kiranya Tuhan menolong kita untuk menjaga lidah tetap berada di bawah kendali Roh Kudus, sehingga setiap perkataan memuliakan Allah dan membangun sesama, di tengah zaman yang semakin kehilangan kejujuran.
Penyebar: Shalom.click | Ingot Simangunsong









