Bacaan Firman: Kejadian 13: 1-18
DALAM kehidupan, perselisihan sering kali berawal dari keinginan untuk memiliki lebih banyak.
Tanah, jabatan, kekuasaan, bahkan pengaruh, kerap menjadi alasan manusia saling berebut hingga melupakan nilai persaudaraan.
Kejadian 13 menghadirkan kisah yang sangat menarik. Abram dan Lot sama-sama diberkati Tuhan.
Ternak mereka bertambah banyak sehingga negeri tempat mereka tinggal tidak lagi mampu menampung keduanya.
Para gembala mereka mulai bertengkar memperebutkan padang rumput dan sumber air.
Yang menarik, Abram adalah pihak yang memiliki hak lebih besar. Ia lebih tua, pemimpin rombongan, dan orang yang pertama menerima janji Allah.
Namun, Abram tidak menggunakan hak itu untuk memaksakan kehendaknya.
Sebaliknya ia berkata kepada Lot:
“Janganlah kiranya ada perkelahian antara aku dan engkau… Bukankah seluruh negeri ini terbuka bagimu? Baiklah berpisah saja dariku.” (Kejadian 13: 8-9).
Abram memberikan kesempatan kepada Lot untuk memilih lebih dahulu. Lot memilih Lembah Yordan yang tampak subur dan menjanjikan keuntungan.
Sementara Abram menerima bagian yang tersisa tanpa protes.
Dari sudut pandang manusia, Abram tampak “kalah”. Namun dari sudut pandang iman, justru setelah Lot berpisah, Tuhan kembali meneguhkan janji-Nya kepada Abram dan menjanjikan seluruh negeri itu bagi keturunannya (Kejadian 13: 14-17).
Relevansi bagi Kehidupan Saat Ini
Kisah Abram sangat relevan dengan situasi dunia saat ini.
Di berbagai tempat, kita menyaksikan bagaimana kekuasaan digunakan untuk memaksakan kehendak demi menguasai wilayah, sumber daya, atau kepentingan tertentu.
Ambisi sering kali mengalahkan dialog, sementara kekuatan dipakai untuk membungkam yang lemah.
Prinsip “siapa kuat dia menang” perlahan menggantikan semangat keadilan dan penghormatan terhadap sesama.
Abram menunjukkan jalan yang berbeda. Ia percaya bahwa berkat Tuhan tidak bergantung pada seberapa besar wilayah yang berhasil direbut, tetapi pada kesetiaan kepada Allah.
Karena itu ia memilih damai daripada konflik, persaudaraan daripada pertikaian, dan iman daripada keserakahan.
Mengalah bukan berarti lemah. Dalam banyak keadaan, mengalah demi kebenaran justru menunjukkan kedewasaan rohani.
Damai sering kali lebih bernilai daripada kemenangan yang diperoleh melalui pemaksaan.
Sebagai orang percaya, kita dipanggil untuk menjadi pembawa damai di tengah dunia yang semakin mudah terpecah oleh kepentingan.
Kita boleh memperjuangkan hak, tetapi jangan sampai kehilangan kasih. Kita boleh memiliki kuasa, tetapi jangan menggunakannya untuk menindas.
Pada akhirnya, berkat sejati bukan lahir dari apa yang berhasil kita kuasai, melainkan dari penyertaan Tuhan atas hidup yang rendah hati dan taat kepada-Nya.
Refleksi: Apakah dalam kehidupan ini saya lebih sering memaksakan kehendak demi keuntungan pribadi, atau bersedia menempuh jalan damai seperti yang dicontohkan Abram?
Doa: Tuhan, ajarlah kami memiliki hati seperti Abram, yang lebih mengutamakan damai daripada pertengkaran. Jauhkan kami dari keserakahan dan keinginan untuk memaksakan kehendak. Mampukan kami menjadi pembawa damai, baik dalam keluarga, gereja, masyarakat, maupun bangsa, sehingga melalui hidup kami nama-Mu dimuliakan. Amin.
Penyebar: Shalom.click | Ingot Simangunsong









