“Ketika pemimpin kehilangan hikmat: Apa kata Alkitab?”

Rabu, 1 Juli 2026 - 04:54 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JIKA kita memperhatikan kehidupan publik, memang ada kalanya sebagian pemimpin mengeluarkan pernyataan yang terasa emosional, saling menyerang, kurang bijaksana, atau tidak mencerminkan etika kepemimpinan.

Namun, penting juga untuk tidak menggeneralisasi bahwa semua pemimpin seperti itu.

Ada juga banyak pemimpin yang tetap menjaga integritas dan tutur kata.

Yang menarik, Alkitab justru banyak mencatat situasi serupa.

Sejak zaman dahulu, Tuhan sudah memperingatkan bahwa pemimpin yang kehilangan hikmat akan membawa dampak buruk bagi rakyat.

Beberapa contoh:

Yesaya 3:12
“Hai umat-Ku! Para pemimpinmu adalah penyesat, dan jalan yang kaulalui dikacaukan mereka.”

Ayat ini menunjukkan bahwa ketika pemimpin tidak lagi dipimpin oleh kebenaran, rakyat ikut merasakan akibatnya.

Pengkhotbah 10: 16-17

“Celakalah negeri yang rajanya masih muda… Berbahagialah negeri yang rajanya berasal dari kaum bangsawan dan pemimpin-pemimpinnya makan pada waktunya karena kekuatan dan bukan karena kemabukan.”

Maksudnya bukan soal usia, tetapi tentang kedewasaan, pengendalian diri, dan tanggung jawab seorang pemimpin.

Amsal 29: 2
“Jika orang benar bertambah banyak, bersukacitalah rakyat, tetapi jika orang fasik memerintah, berkeluhkesahlah rakyat.”

Yakobus 3: 17
“Hikmat yang dari atas adalah pertama-tama murni, selanjutnya pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik…”

Ayat ini menjadi standar bagi setiap orang yang memimpin, baik di pemerintahan, gereja, keluarga, maupun organisasi.

Yang lebih penting lagi, Alkitab mengajarkan agar umat Tuhan tidak hanya sibuk mengkritik, tetapi juga mendoakan para pemimpin.

Dalam 1 Timotius 2: 1-2, Rasul Paulus mengajak agar doa dipanjatkan bagi raja-raja dan semua pembesar supaya masyarakat dapat hidup tenang dan tenteram.

Jadi, jika hari ini kita melihat ucapan atau perilaku pemimpin yang jauh dari nilai keberadaban, respons orang percaya seharusnya adalah tetap berani menyuarakan kebenaran dengan kasih, tidak ikut menyebarkan kebencian, dan terus mendoakan agar Tuhan mengaruniakan hikmat kepada para pemimpin.

Sebab, seperti dikatakan dalam Amsal 15: 1:
“Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas membangkitkan marah.”

Kiranya ayat ini bukan hanya menjadi nasihat bagi para pemimpin, tetapi juga bagi kita semua.

Pemimpin yang besar bukan diukur dari kerasnya suara, melainkan dari hikmat, kerendahan hati, dan kemampuannya membangun, bukan memecah belah.

Penyebar: Shalom.click | Ingot Simangunsong 

Berita Terkait

Memenangkan hati yang gelisah dengan Tuhan
RENUNGAN PAGI, Jangan berhenti mengetuk
Merdeka bukan berarti semau gue
Di muka Tuhan Yesus, betapa hina diriku
Ketika MATA menjadi JENDELA HATI
Tuhan merdekakanlah kami…
Pengharapan di tengah-tengah penderitaan
Bersabar dalam penderitaan: Tuhan tidak pernah terlambat
Berita ini 11 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 13 September 2026 - 19:55 WIB

Memenangkan hati yang gelisah dengan Tuhan

Rabu, 2 September 2026 - 05:22 WIB

RENUNGAN PAGI, Jangan berhenti mengetuk

Senin, 24 Agustus 2026 - 09:49 WIB

Merdeka bukan berarti semau gue

Senin, 24 Agustus 2026 - 03:17 WIB

Di muka Tuhan Yesus, betapa hina diriku

Jumat, 21 Agustus 2026 - 06:29 WIB

Ketika MATA menjadi JENDELA HATI

Berita Terbaru

SULUH ZAMAN

Yesus, Roti kehidupan sejati

Jumat, 16 Okt 2026 - 12:34 WIB

SULUH ZAMAN

Karena kita telah lebih dahulu dikasihi

Jumat, 2 Okt 2026 - 07:43 WIB