Ketika AIB menjadi TONTONAN: Apa yang sedang terjadi dengan HATI MANUSIA?

Selasa, 21 Juli 2026 - 15:54 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

DI era media sosial, kita semakin sering menyaksikan persoalan pribadi dipertontonkan di ruang publik.

Perselisihan keluarga, pertengkaran antarsaudara, hingga membuka aib orang terdekat kini menjadi konsumsi banyak orang.

Yang dahulu diselesaikan dengan dialog, kini sering disampaikan melalui unggahan yang dapat dilihat jutaan mata.

Fenomena ini bukan sekadar perubahan cara berkomunikasi, tetapi juga mencerminkan kondisi hati manusia.

Alkitab telah lama mengingatkan bahwa pada akhir zaman kasih banyak orang akan menjadi dingin (Matius 24: 12).

Ketika kasih memudar, rasa hormat, pengampunan, dan keinginan untuk menjaga sesama juga ikut memudar.

Firman Tuhan mengajarkan hal yang berbeda. Amsal 10: 12 berkata, “Kebencian menimbulkan pertengkaran, tetapi kasih menutupi segala pelanggaran.”

Ayat ini tidak berarti membenarkan dosa atau menutupi kejahatan yang harus diproses secara hukum, tetapi mengajarkan agar kita tidak menjadikan kelemahan orang lain sebagai bahan tontonan, ejekan, atau sarana balas dendam.

Rasul Paulus juga mengingatkan, “Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun” (Efesus 4: 29).

Prinsip ini tentu berlaku pula bagi apa yang kita tuliskan di media sosial.

Setiap unggahan seharusnya menjadi sarana membangun, bukan menghancurkan.

Membuka aib keluarga di ruang publik sering kali lahir dari hati yang terluka.

Namun luka tidak akan sembuh jika dibalas dengan mempermalukan orang lain.

Sebaliknya, luka akan dipulihkan melalui kejujuran, pengampunan, pertobatan, dan penyelesaian yang benar.

Sebagai orang percaya, kita dipanggil menjadi pembawa damai, bukan penyebar konflik.

Dunia mungkin memberi tepuk tangan kepada mereka yang paling berani mengungkap aib orang lain, tetapi Tuhan berkenan kepada mereka yang memakai hikmat, menjaga perkataan, dan mengusahakan pendamaian.

Kiranya setiap orang percaya bijaksana menggunakan media sosial.

Jangan sampai jari kita lebih cepat daripada kasih kita, dan jangan sampai keinginan menjadi viral membuat kita kehilangan karakter sebagai murid Kristus.

Penyebar: Shalom.click | Ebenezer 

Berita Terkait

PESAN September — Hari ke-6: Tuhan tetap menjadi kekuatanku
PESAN SEPTEMBER — Hari ke-5, Tetap percaya, meski belum mengerti
PESAN SEPTEMBER — HARI KE-3: Tetap bersukacita, meski keadaan belum berubah
PESAN SEPTEMBER — hari ke-2: “Tetaplah bertumbuh, meski belum terlihat”
Mendengar suara Remaja: REST sebagai Ruang Pemulihan
Mazmur 150 pasal dan makna “Sela”: Ketika Tuhan mengajak kita berhenti sejenak
DEPRESI bukan berarti kurang iman: Ketika jiwa terasa berat, Apakah Tuhan masih ada?
Luka di hati gak akan SEMBUH kalau terus DISEMBUNYIKAN
Berita ini 13 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 6 September 2026 - 08:57 WIB

PESAN September — Hari ke-6: Tuhan tetap menjadi kekuatanku

Sabtu, 5 September 2026 - 06:48 WIB

PESAN SEPTEMBER — Hari ke-5, Tetap percaya, meski belum mengerti

Kamis, 3 September 2026 - 10:29 WIB

PESAN SEPTEMBER — HARI KE-3: Tetap bersukacita, meski keadaan belum berubah

Kamis, 20 Agustus 2026 - 17:50 WIB

Mendengar suara Remaja: REST sebagai Ruang Pemulihan

Kamis, 20 Agustus 2026 - 06:21 WIB

Mazmur 150 pasal dan makna “Sela”: Ketika Tuhan mengajak kita berhenti sejenak

Berita Terbaru

NAFAS KASIH

PESAN September — Hari ke-6: Tuhan tetap menjadi kekuatanku

Minggu, 6 Sep 2026 - 08:57 WIB

LENTERA FAKTA

PESAN SEPTEMBER — HARI ke-4: “Belajar menunggu waktu Tuhan”

Jumat, 4 Sep 2026 - 03:28 WIB

KABAR BAIK HARI INI

Yesaya 40: 31 tentang kekuatan baru

Kamis, 3 Sep 2026 - 07:16 WIB