“SIAPA menutupi pelanggaran, mengejar kasih, tetapi siapa membangkit-bangkit perkara, menceraikan sahabat yang karib.” (Amsal 17: 9)
MEDIA sosial telah mengubah cara manusia menyampaikan pendapat.
Dahulu, konflik keluarga diselesaikan di ruang tamu atau melalui percakapan yang penuh air mata.
Kini, tidak sedikit persoalan keluarga justru dibawa ke ruang publik melalui unggahan, video, atau siaran langsung.
Perdebatan yang ramai diperbincangkan antara pengacara Hotman Paris Hutapea dan anak-anaknya menjadi salah satu contoh bagaimana persoalan pribadi dapat dengan cepat menjadi konsumsi jutaan orang.
Terlepas dari siapa yang benar atau salah, peristiwa ini mengingatkan kita bahwa kemajuan teknologi tidak selalu diikuti dengan kedewasaan dalam mengelola emosi.
Alkitab mengajarkan bahwa kasih tidak bersukacita karena kesalahan orang lain, melainkan karena kebenaran (1 Korintus 13: 6).
Tuhan juga memanggil setiap orang percaya untuk berhati-hati dalam menggunakan perkataan, sebab lidah memiliki kuasa untuk membangun maupun menghancurkan (Amsal 18: 21).
Membuka aib keluarga di ruang publik mungkin menghadirkan perhatian dan dukungan sesaat.
Namun, luka yang ditinggalkan sering kali jauh lebih dalam daripada manfaat yang diperoleh.
Reputasi rusak, hubungan retak, dan kepercayaan sulit dipulihkan.
Sebagai orang percaya, kita dipanggil menjadi pembawa damai, bukan penyebar pertikaian.
Bila terjadi konflik, penyelesaiannya seharusnya mengutamakan dialog, pengampunan, dan kerendahan hati, bukan perlombaan mencari pembenaran di hadapan publik.
Marilah kita menggunakan media sosial sebagai sarana menyebarkan kasih, pengharapan, dan kebenaran.
Sebab dunia tidak membutuhkan lebih banyak pertengkaran yang dipertontonkan, tetapi lebih banyak teladan tentang rekonsiliasi, pengampunan, dan kasih Kristus yang memulihkan.
Refleksi:
Sebelum menekan tombol “unggah”, tanyakanlah pada diri sendiri: Apakah yang saya bagikan akan membawa damai, atau justru memperdalam luka?
Penyebar: Shalom.click | Ingot Simangunsong









