KENAPA kopi nggak ada di Alkitab?
Karena konteks sejarah. Kopi baru menyebar ke dunia Arab lewat Yaman sekitar abad 15, lalu ke Eropa abad 17.
Zaman Alkitab, minuman panas belum ada budayanya. Yang ada anggur, air, susu, madu.
Tapi nggak disebut bukan berarti nggak relevan. Alkitab pakai pola “prinsip kekal + contoh lokal”. Contoh lokalnya anggur, prinsip kekalnya: semua yang Tuhan kasih boleh dinikmati dengan ucapan syukur, asal nggak jadi berhala dan nggak merusak diri – 1 Timotius 4: 4-5, 1 Korintus 6: 12.
Perenungan dari secangkir kopi pakai lensa Alkitab
Kopi itu hasil kerja dan kesabaran.
Biji kopi harus ditanam, dirawat bertahun-tahun, dipetik, disangrai, digiling.
Mirip Efesus 2: 10 – “kita ini buatan Allah, diciptakan untuk melakukan pekerjaan baik”. Kopi ngingetin kalau hal baik butuh proses, nggak instan.
Kopi bisa membangun persekutuan
Di Timur Tengah zaman dulu, orang duduk lama di kedai kopi ngobrol, sama kayak orang Yahudi duduk makan bareng.
Roma 12: 13 bilang “hiduplah dalam persekutuan”. Kopi bisa jadi sarana sederhana buat duduk, dengar, dan nguatin sesama.
Kopi ngingetin soal batas
Kopi enak kalau pas. Kebanyakan bikin jantung deg-degan, nggak bisa tidur, gelisah.
Itu cerminan Amsal 25: 16, 27: 27 – “madupun, makanlah sekedarnya”. Segala sesuatu yang baik pun bisa jadi nggak baik kalau kebablasan.
Kopi punya aroma yang menyebar
Sekali diseduh, aromanya mengisi ruangan. Paulus bilang kita ini “bau harum Kristus” di 2 Korintus 2:15.
Pertanyaannya: hidup kita, waktu ‘disentuh api’ masalah, yang keluar itu aroma Kristus atau aroma komplain?
Jadi buat kamu gimana?
Kopi itu netral. Tuhan nggak melarang kamu nikmatin secangkir kopi pagi. Yang Dia minta: jangan sampai kopi yang ngatur harimu, tapi biar Dia yang ngatur.
Bisa jadi tiap nyeduh kopi, kamu pakai itu buat jeda 2 menit: tarik napas, syukur, serahin hari ini ke Tuhan. Dari yang tadinya cuma kafein, jadi perenungan.
Penyebar: shalom.click | Ebenezer









