BAB V: KETIKA SUNYI LEBIH MEMBUNUH DARIPADA GELAP

Minggu, 31 Mei 2026 - 13:16 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

KEBEBALANKU membawaku ke lembah yang lebih gelap. Lembah di mana aku putuskan untuk berjalan lebih jauh lagi meninggalkan Terang. Aku pikir di sana ada damai. Ternyata di sana lebih sunyi.”

LARI. Dari mezbah pertama yang kucemari, aku masuk ke mezbah kedua yang kubangun di atas pasir.

Aku percaya bisikan peramal. Perempuan itu bilang: “Kau akan tinggalkan istrimu, tinggalkan tiga anakmu. Lalu kau akan temukan perempuan yang sebenarnya jodohmu.”

Aku percaya dusta. Karena dusta lebih nyaman daripada kebenaran. Aku benarkan ramalan itu dengan kakiku. Aku genapi dengan kebebalanku.

Selesaikah masalahku? Tidak. Pelarian bukan pintu keluar. Pelarian adalah pintu masuk ke lembah yang lebih dalam. Ke nestapa yang lebih tajam. Ke sunyi yang lebih membunuh.

Dan semua pintu itu, aku yang buka sendiri. Di dunia baru yang kupikir “terang”, aku temukan minyak untuk apiku: UANG.

Uang memberiku kebebasan palsu. Kebebasan untuk membeli tiket ke semua kamar najis.

Aku masuk ke episode paling menjijikkan dalam kamus suami: Perselingkuhan. Yang kulakukan bukan cuma selingkuh. Aku menyalibkan hati perempuan yang tidur di sampingku. Dia menangis. Dia meradang. Dia mengutuk namaku.

Dan dia benar. Aku memang terkutuk. Ulangan 27: 20

Kabar itu sampai ke telinga Bapakku. Lelaki tua yang membesarkanku, yang memberangkatkanku sebagai pengantin dari rumahnya… hatinya hancur dihantam palu Godam bernama anak sulungnya.

Vonis dijatuhkan di meja makan keluarga, tanpa aku hadir: “dia bukan lagi anakku. Haram kakinya injak rumah ini. Coret namanya dari warisan.”

Kabar vonis itu sampai ke telingaku. Dingin. Tapi tidak mencairkan es di hatiku. Tidak meruntuhkan tembok egoku.

Aku tidak pulang. Tidak sujud. Tidak minta ampun. Aku pilih terus berjalan. Memeluk egoku di dalam gelap.

Sampai satu sore, kabar lain datang: Mamak sakit. Terbaring sendiri. Tak berdaya di ruang tamu rumah yang haram kudatangi.

Aku datang. Sembunyi-sembunyi. Malam-malam. Bersama anak-anakku. Kudorong pintu. Mamak tergeletak. Tapi begitu dengar langkahku, dia bangkit. Berdiri. Kupeluk tubuh yang dulu melahirkanku.

Tubuh yang sekarang tinggal tulang. Lalu dia berbisik di telingaku. Bisikan paling dingin yang pernah masuk ke liang hatiku: “Kau datang terlambat, Nak. Bukan Mamak lagi yang di tubuh ini. Mamak sudah tidak lagi merasakan bagian mana yang sakit.”

Mati rasa. Itu warisan terakhir Mamak untuk anak durhakanya. Dia tidak lagi bisa merasakan sakit fisik… karena sakit hatinya karenaku sudah membunuh semua sarafnya.

Seminggu kemudian. HP bergetar. WA dari adik bungsu. Satu baris. Tajam.

Final: “Mamak sudah meninggal. Kau tidak perlu datang melihat. Itu pesan Bapak.”

Aku tidak diijinkan pulang. Bahkan untuk mengubur perempuan yang 9 bulan mengandungku.

Hukuman Nabal paling sempurna: Diusir dari kematian ibunya sendiri.

Malam itu aku berdiri. Jauh. Bersembunyi di balik pohon.Menatap rumah masa kecilku.

Tenda duka sudah berdiri. Menelan halaman sampai ke badan jalan. Lampu 1000 watt menyala. Terang. Tapi buatku, itu malam paling gelap.

Di ujung gang, bendera merah berkibar. Menertawakan anak sulung yang jadi sampah.

Aku tidak bisa masuk. Tidak bisa cium keningnya. Tidak bisa bisik “Maaf, Mak”.

Yang bisa kulakukan hanya satu, dari kegelapan: “Selamat jalan, Mamakku. Maafkan aku tak dapat melihat dan mengantarkanmu…”

Air mataku jatuh ke tanah. Tanah yang haram kuinjak. Malam itu aku kubur dua orang: Mamakku… dan sisa terakhir dari hati nuraniku.

Catatan: Tulisan ini, karya dari Ingot Simangunsong, penanggungjawab Mediaonline shalom.click, yang akan disajikan bersambung dan jika Tuhan Yesus memberkati, akan diterbitkan dalam  bentuk buku saku dengan judul: “Tuhan bersabda: ‘Akulah Jalan’, sebuah catatan tentang aku yang salah jalan”.

Penyebar: shalom.click | Ingot Simangunsong

Berita Terkait

BAB IX: SERU — INJIL dari boncengan dan batu bata mentah
Sodom dan Gomora: Bukan sekadar kisah kota yang hancur
Diberkati untuk menjadi berkat: tata kelola iman dalam mengelola Anugerah Tuhan
Pergantian ≠ Pertobatan, Korupsi sistemik dilawan dengan liturgi meja
BAB VIII: ENJOY, PA — INJIL DARI KACA SPION 
Bab VII: “HALELUYA DARI LORONG”
BAB VI: KETIKA SABDA LAHIR DARI MULUT ANAK 2 TAHUN
Tentang hutan, manusia diberi kuasa bukan semena-mena
Berita ini 9 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 12 Juni 2026 - 08:24 WIB

BAB IX: SERU — INJIL dari boncengan dan batu bata mentah

Kamis, 11 Juni 2026 - 19:08 WIB

Sodom dan Gomora: Bukan sekadar kisah kota yang hancur

Minggu, 7 Juni 2026 - 12:05 WIB

Diberkati untuk menjadi berkat: tata kelola iman dalam mengelola Anugerah Tuhan

Jumat, 5 Juni 2026 - 09:39 WIB

Pergantian ≠ Pertobatan, Korupsi sistemik dilawan dengan liturgi meja

Kamis, 4 Juni 2026 - 09:29 WIB

BAB VIII: ENJOY, PA — INJIL DARI KACA SPION 

Berita Terbaru

SULUH ZAMAN

Warga Surga di tengah dunia yang kehilangan arah

Rabu, 17 Jun 2026 - 07:28 WIB

NAFAS KASIH

Ketika Jiwa dan Roh kembali berpelukan

Selasa, 16 Jun 2026 - 20:42 WIB

SULUH ZAMAN

Saat CACI MAKI mengalahkan HIKMAT

Senin, 15 Jun 2026 - 16:51 WIB

NAFAS KASIH

Tak ada Air Mata yang sia-sia di hadapan Tuhan

Minggu, 14 Jun 2026 - 22:40 WIB