ALKITAB memang nggak nyebut kata “hutan” secara spesifik di banyak ayat, tapi dari awal sampai akhir ada penegasan kuat soal 2 hal, yakni: “Manusia itu pengurus ciptaan, bukan pemilik,” dan “Kalau ciptaan dirusak, ada konsekuensinya.”
Ini garis besarnya:
Alkitab menegaskan hutan dan alam harus dijaga karena semua milik Tuhan.
Manusia ditunjuk sebagai pengurus, bukan penjarah
“Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut… atas segala binatang yang merayap di bumi” – Kejadian 1: 28
Kata “taklukkan” dan “berkuasalah” dalam konteks Alkitab artinya memelihara, menjaga, mengelola dengan tanggung jawab.
Kayak seorang pelayan yang diberi kunci rumah majikan. Kalau dia rusak-rusak rumah itu, dia ingkar tugas.

Tanah dan hutan milik Tuhan, kita cuma penggarap
“Bumi serta segala isinya adalah milik TUHAN” – Mazmur 24:1
“Tanah itu jangan dijual mutlak, karena Akulah pemilik tanah itu, sedang kamu orang asing dan pendatang bagi-Ku” – Imamat 25:23
Jadi merusak hutan sembarangan itu sama aja merusak milik Tuhan, bukan cuma “sumber daya” kita.
Seluruh ciptaan ikut bersukacita kalau manusia benar
“Biarlah padang dan segala yang ada di atasnya bersorak-sorak, biarlah segala pohon di hutan bersorak-sorai” – Mazmur 96: 12
Artinya ada hubungan: ketaatan manusia → pemulihan alam. Ketidaktaatan → alam ikut menderita.
Alkitab cukup tegas soal dampak pengrusakan hutan dan alam
Kerusakan alam jadi dampak dosa manusia.
“Tanah menjadi cemar karena penduduknya, sebab mereka melanggar undang-undang, mengubah ketetapan dan mengingkari perjanjian abadi” – Yesaya 24: 5.
“Sebab oleh karena kamu, tanah menjadi terkutuk… semak duri dan rumput duri yang akan dihasilkannya bagimu” – Kejadian 3: 17-18
Waktu manusia rusak, tanah ikut merespons. Di konteks agraris dulu, hutan gundul = banjir, tanah tandus, gagal panen.
Pengrusakan sengaja akan dihukum
“Sebab mereka yang merusak bumi akan Engkau binasakan” – Wahyu 11: 18
Ini ayat terakhir yang paling tegas. Kata “merusak” di sini dari kata Yunani _diaphtheiro_ = menghancurkan, membusukkan. Jadi Tuhan nggak netral soal perusakan lingkungan.
Contoh konkret: pohon dan hutan dilindungi dalam hukum Musa.
“Apabila engkau mengepung suatu kota… janganlah kau merusakkan pohon-pohonnya dengan mengayunkan kapak kepadanya” – Ulangan 20: 19-20.
Bahkan waktu perang, pohon buah dilarang ditebang. Kalau perang aja dilarang, apalagi merusak untuk serakah.
Alasannya jelas: “Bukankah pohon di padang itu manusia?” – artinya pohon itu sumber hidup, jangan dimusnahkan.
Singkatnya:
Alkitab nggak kasih izin “eksploitasi habis-habisan”. Dia kasih mandat “kelola dengan takut akan Tuhan”.
Kalau hutan dirusak, dampaknya bukan cuma ekonomi: tanah jadi tandus, air rusak, manusia menderita, dan itu dipandang Tuhan sebagai dosa terhadap ciptaan-Nya.
Penyebar: Shalom.click | Kiran Karin









