DI setiap zaman, kekuasaan selalu memiliki daya tarik yang besar.
Banyak orang mengejarnya, mempertahankannya, bahkan rela mengorbankan kebenaran demi mempertahankan posisi yang dimiliki.
Namun sejarah juga menunjukkan bahwa ketika kekuasaan tidak lagi disertai rasa takut kepada Tuhan, maka kekuasaan itu mudah berubah menjadi kesombongan, ketidakadilan, dan penindasan.
Mazmur 2 menggambarkan bagaimana bangsa-bangsa dan para penguasa dunia bersekongkol melawan Tuhan.
Mereka merasa mampu menentukan jalan hidup mereka sendiri tanpa campur tangan Sang Pencipta.
Pemazmur menulis, “Marilah kita memutuskan belenggu-belenggu mereka dan membuang tali-tali mereka dari pada kita!” (Mazmur 2: 3).
Sikap ini menunjukkan keinginan manusia untuk melepaskan diri dari otoritas Allah dan menjadikan dirinya sebagai pusat segala keputusan.
Fenomena yang sama masih dapat ditemukan pada zaman sekarang.
Ketika jabatan dianggap lebih penting daripada moralitas, ketika kekuasaan dipakai untuk melayani kepentingan pribadi atau kelompok tertentu, dan ketika suara hati dibungkam demi keuntungan politik, maka sesungguhnya manusia sedang berjalan di jalur yang sama dengan para penguasa yang digambarkan dalam Mazmur 2.
Kekuasaan tanpa takut akan Tuhan sering kali melahirkan kesombongan.
Seseorang mulai merasa dirinya tidak tersentuh hukum, tidak memerlukan nasihat, dan tidak perlu mempertanggungjawabkan tindakannya kepada siapa pun.
Padahal Alkitab berulang kali mengingatkan bahwa tidak ada satu pun penguasa yang berada di luar pengawasan Allah.
Jabatan boleh tinggi, pengaruh boleh besar, tetapi semuanya bersifat sementara.
Lebih berbahaya lagi, kesombongan kekuasaan dapat berubah menjadi penindasan.
Ketika hati nurani tidak lagi dipimpin oleh takut akan Tuhan, rakyat dapat diperlakukan hanya sebagai alat untuk mempertahankan kekuasaan.
Keadilan dikorbankan, kebenaran dipelintir, dan mereka yang lemah menjadi korban.
Inilah sebabnya mengapa Alkitab menempatkan rasa takut akan Tuhan sebagai fondasi utama dalam memimpin.
Mazmur 2 tidak berhenti pada peringatan, tetapi juga memberikan nasihat yang sangat relevan bagi para pemimpin dan siapa saja yang memiliki otoritas.
“Beribadahlah kepada TUHAN dengan takut dan ciumlah kaki-Nya dengan gemetar.”
Pesan ini mengingatkan bahwa kekuasaan sejati harus tunduk kepada Allah.
Seorang pemimpin yang takut akan Tuhan akan lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan, lebih rendah hati dalam menerima kritik, dan lebih sungguh-sungguh memperjuangkan keadilan.
Dalam kehidupan sehari-hari, kekuasaan tidak selalu berbentuk jabatan politik.
Orang tua memiliki kuasa dalam keluarga, pemimpin gereja memiliki pengaruh atas jemaat, guru memiliki otoritas di sekolah, dan setiap orang memiliki ruang kepemimpinan tertentu dalam hidupnya.
Karena itu pesan Mazmur 2 berlaku bagi kita semua. Semakin besar kepercayaan yang diberikan, semakin besar pula tanggung jawab untuk menggunakannya sesuai kehendak Tuhan.
Dunia membutuhkan pemimpin yang bukan hanya cerdas dan kuat, tetapi juga takut akan Tuhan.
Sebab ketika rasa hormat kepada Allah hilang, kekuasaan mudah berubah menjadi alat kesombongan.
Namun ketika hati tetap tunduk kepada Tuhan, kekuasaan dapat menjadi sarana untuk menghadirkan keadilan, kesejahteraan, dan damai sejahtera bagi banyak orang.
Pertanyaan Refleksi: Apakah otoritas dan pengaruh yang Tuhan percayakan kepada kita telah digunakan untuk melayani sesama dan memuliakan Tuhan, atau justru untuk meninggikan diri sendiri?
Doa:
Tuhan, jagalah hati kami agar tidak mabuk oleh kekuasaan dan kedudukan.
Ajar kami untuk selalu takut akan Engkau, sehingga setiap kepercayaan yang kami terima dapat dipakai untuk melayani, membangun, dan menghadirkan keadilan bagi sesama. Amin.
Penyebar: Shalom.click | Ingot Simangunsong









