“LAKUKANLAH segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan, supaya kamu tiada beraib dan tiada bernoda, sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat ini, sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia, sambil berpegang pada firman kehidupan.”
DI zaman media sosial, setiap orang seolah berlomba menjadi yang paling didengar.
Opini dilontarkan tanpa dipikirkan, perdebatan berubah menjadi permusuhan, dan kebisingan informasi memenuhi ruang kehidupan kita setiap hari.
Ironisnya, orang percaya pun kadang ikut larut dalam arus tersebut.
Bukannya menghadirkan damai, justru ikut memperkeruh suasana melalui kata-kata yang kasar, cemoohan, atau penyebaran informasi yang belum tentu benar.
Rasul Paulus menulis kepada jemaat di Filipi agar mereka hidup berbeda.
Ia tidak meminta mereka meninggalkan dunia, tetapi menjadi terang di tengah dunia yang gelap.
Terang tidak bekerja dengan suara yang paling keras, melainkan dengan kehadiran yang memberi arah.
Menjadi terang bukan berarti selalu memenangkan perdebatan. Menjadi terang berarti menunjukkan karakter Kristus: rendah hati, sabar, jujur, dan penuh kasih.
Dunia sedang kekurangan teladan seperti itu. Banyak orang mampu berbicara, tetapi sedikit yang mampu mendengar. Banyak yang cepat menghakimi, tetapi lambat mengasihi.
Yesus sendiri tidak dikenal karena kegaduhan-Nya, melainkan karena kasih-Nya.
Ketika dihina, Ia tidak membalas. Ketika difitnah, Ia tetap setia pada kehendak Bapa.
Salib menjadi bukti bahwa kasih lebih kuat daripada kebencian, dan pengampunan lebih berkuasa daripada dendam.
Gereja di Indonesia menghadapi tantangan yang sama. Di tengah polarisasi politik, perbedaan suku, agama, dan budaya, gereja dipanggil menjadi pembawa damai.
Kesaksian gereja tidak terutama diukur dari seberapa keras suaranya, tetapi dari seberapa nyata kasihnya.
Ketika jemaat saling menghormati, melayani tanpa pamrih, dan menjadi sahabat bagi masyarakat, Injil sedang diberitakan dengan sangat kuat.
Orang percaya juga perlu bijak menggunakan media digital. Tidak semua hal harus dikomentari. Tidak semua provokasi harus ditanggapi.
Kadang-kadang, diam yang penuh hikmat lebih nyaring daripada seribu komentar yang emosional.
Sebelum menekan tombol “kirim” atau “bagikan”, tanyakanlah: Apakah ini membangun? Apakah ini benar? Apakah ini memuliakan Kristus?
Filipi 2 mengingatkan bahwa terang tidak lahir dari kegaduhan, tetapi dari kehidupan yang bersih dan tidak bercela.
Dunia mungkin tidak selalu membaca Alkitab, tetapi dunia membaca kehidupan orang percaya setiap hari.
Refleksi
Di tengah dunia yang semakin bising, Tuhan tidak memanggil kita menjadi gema dari kebisingan itu.
Ia memanggil kita menjadi terang yang menuntun, garam yang memberi rasa, dan saksi yang memancarkan kasih Kristus.
Kiranya melalui perkataan, sikap, unggahan media sosial, keputusan, dan cara kita memperlakukan sesama, orang-orang dapat melihat Kristus hidup di dalam kita.
“Jangan menjadi bagian dari kebisingan dunia. Jadilah terang yang menuntun dunia kepada Kristus.”
Penyebar: Shalom.click | Ingot Simangunsong









