“TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.” – Mazmur 23: 1
BAYANGIN kamu nyeduh kopi pagi ini.
Air panas dituang ke bubuk kopi. Kalau airnya dingin, nggak ada rasa yang keluar. Kalau apinya terlalu besar, kopi jadi pahit gosong.
Sama kayak hidup kita
Api masalah dan tekanan itu perlu, biar karakter dan iman kita keluar. Tapi kalau nggak dikontrol Gembala, kita jadi gosong, pahit, dan kering.
Mazmur 23 bilang Dia yang menuntun kita ke padang rumput hijau dan air yang tenang. Dia yang ngatur suhu hidup kita.

Aroma kopi menyebar pelan-pelan
Kita nggak bisa maksa orang langsung suka kopi. Tapi aromanya yang jujur dan hangat bikin orang penasaran.
Hidup orang percaya juga gitu. 2 Korintus 2: 15 bilang kita ini “bau harum Kristus”.
Nggak perlu teriak-teriak. Cukup hidup yang tenang, jujur, dan penuh syukur—aroma itu nyebar sendiri.
Kopi paling enak diminum pelan-pelan, sambil duduk
Zaman sekarang semua serba cepat. Tapi Mazmur 23: 2 bilang, “Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang.”
Secangkir kopi bisa jadi undangan buat berhenti 3 menit. Tarik napas. Ingat: “Aku nggak kekurangan apa-apa, karena Gembalaku nggak pernah tidur.”
Jadi, saat kamu pegang cangkir kopi, ingat 3 hal ini:
1. Ada api di hidupmu? Percaya Gembala tahu batasnya.
2. Hidupmu beraroma apa hari ini?
3. Udah duduk tenang bareng Dia belum?
Penyebar: shalom.click | Ingot Simangunsong









