“CELAKALAH gembala-gembala Israel yang menggembalakan dirinya sendiri! Bukankah seharusnya para gembala menggembalakan domba-dombanya?” (Yehezkiel 34: 2).
SALAH satu krisis terbesar yang sedang melanda berbagai bangsa saat ini bukanlah semata-mata persoalan ekonomi, politik, atau teknologi, melainkan krisis keteladanan.
Banyak orang mengejar jabatan, tetapi melupakan integritas.
Kekuasaan dipandang sebagai alat untuk memperoleh keuntungan pribadi, bukan sebagai amanat untuk melayani.
Fenomena seperti ini tidak hanya terjadi pada zaman modern.
Berabad-abad yang lalu, Tuhan sudah menegur para pemimpin Israel melalui Nabi Yehezkiel.
Mereka disebut sebagai gembala yang gagal menjalankan tugasnya.
Bukannya melindungi domba, mereka justru memanfaatkan domba demi kepentingan sendiri.
Mereka menikmati hasilnya, tetapi mengabaikan tanggung jawabnya.
Firman Tuhan menggambarkan bahwa para gembala itu memakan yang terbaik, mengenakan pakaian dari bulu domba, tetapi tidak menguatkan yang lemah, tidak mengobati yang sakit, tidak mencari yang hilang, bahkan memerintah dengan keras dan kejam.
Akibatnya, umat tercerai-berai dan menjadi mangsa berbagai ancaman.
Bukankah gambaran ini terasa begitu dekat dengan realitas masa kini?
Tidak sedikit pemimpin yang sibuk membangun citra, tetapi mengabaikan karakter.
Ada yang pandai berbicara tentang pengabdian, tetapi lemah dalam kejujuran.
Ada pula yang rajin mencari popularitas, tetapi enggan memikul tanggung jawab ketika rakyat menghadapi kesulitan.
Di tengah derasnya arus media sosial, pencitraan sering kali lebih dihargai daripada keteladanan.
Jabatan menjadi simbol kehormatan, sementara integritas dianggap tidak lagi penting.
Padahal, dalam pandangan Allah, ukuran seorang pemimpin bukanlah seberapa tinggi kursinya, melainkan seberapa setia ia mengemban amanat yang dipercayakan kepadanya.
Teguran Tuhan dalam Yehezkiel 34 sangat keras. Allah sendiri menyatakan bahwa Ia akan melawan para gembala yang menyalahgunakan kepercayaan-Nya.
Jabatan bukanlah perlindungan dari penghakiman Tuhan. Sebaliknya, semakin besar tanggung jawab seseorang, semakin besar pula pertanggungjawabannya di hadapan Allah.
Prinsip ini berlaku bukan hanya bagi pejabat negara, tetapi juga bagi pemimpin gereja, pelayan masyarakat, orangtua, guru, bahkan setiap orang yang diberi kepercayaan memimpin orang lain.
Kepemimpinan sejati selalu dimulai dari karakter, bukan dari posisi.
Yesus Kristus kemudian memperlihatkan teladan yang sangat berbeda.
Ia menyebut diri-Nya sebagai Gembala yang Baik, yang memberikan nyawa-Nya bagi domba-domba-Nya.
Ia tidak memanfaatkan pengikut-Nya demi kepentingan pribadi, tetapi mengorbankan diri-Nya demi keselamatan mereka.
Di situlah integritas mencapai puncaknya: keselarasan antara perkataan, tindakan, dan hati.
Dunia mungkin mengagungkan kekuasaan, tetapi Kerajaan Allah meninggikan karakter. Dunia memandang keberhasilan dari jabatan yang diraih, sedangkan Tuhan melihat kesetiaan dalam menjalankan panggilan.
Kiranya setiap kita, apa pun posisi yang dipercayakan kepada kita, tidak menjadi pemimpin yang mengejar kehormatan, melainkan menjadi pribadi yang menghadirkan keteladanan.
Sebab pada akhirnya, bukan seberapa tinggi jabatan kita yang akan dikenang, melainkan seberapa besar integritas kita ketika menjalankan amanat Tuhan.
Renungan:
Jabatan dapat diberikan oleh manusia, tetapi integritas hanya dapat dipelihara oleh hati yang takut akan Tuhan.
Ketika integritas lebih rendah daripada jabatan, kehancuran hanya tinggal menunggu waktu.
Namun ketika integritas menjadi dasar kepemimpinan, nama Tuhan dimuliakan dan banyak orang mengalami berkat.
Penyebar: Shalom.click | Ingot Simangunsong









