Tuhan tidak pernah menghentikan percakapan saat kita berkata: “Belum”

Sabtu, 6 Juni 2026 - 20:07 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Selamat malam, kawan shalom.click

Chat yang sangat singkat ini sebenarnya menyimpan ruang untuk perenungan.

Teman bertanya, “Bagaimana perekonomianmu saat ini, sudah membaik?” Pertanyaan itu dijawab jujur, “Belum membaik.” Setelah itu percakapan berhenti.

Di satu sisi, mungkin tidak ada yang salah. Bisa jadi teman itu sedang sibuk, atau memang tidak tahu harus menjawab apa. Namun dari peristiwa sederhana itu, ada pelajaran rohani yang menarik.

Ketika kejujuran tidak selalu mendatangkan respons

Banyak orang senang mendengar kabar baik. Tetapi tidak semua orang siap mendengar kenyataan yang belum baik.

Padahal dalam kehidupan, tidak setiap musim adalah musim panen. Ada musim menabur, menunggu, bahkan bertahan.

Firman Tuhan berkata:

“Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis.” (Roma 12: 15)

Ayat ini mengajarkan bahwa kasih tidak berhenti pada bertanya. Kasih hadir ketika mau ikut merasakan keadaan orang lain, baik suka maupun duka.

Allah tidak berhenti saat mendengar “belum”

Yang lebih menguatkan adalah kenyataan bahwa Tuhan tidak seperti manusia yang terkadang kehabisan kata-kata.

Ketika kita berkata kepada Tuhan: “Tuhan, keadaan saya belum membaik.”

Dia tidak meninggalkan percakapan itu.

Justru sering kali dari kata “belum” itulah Tuhan memulai karya-Nya.

Dalam Alkitab, banyak tokoh hidup dalam masa “belum”:

Abraham belum memiliki anak.

Yusuf belum melihat mimpinya tergenapi.

Daud belum menjadi raja.

Lazarus belum bangkit dari kubur.

Tetapi Tuhan bekerja di dalam masa “belum” itu.

“Belum” bukan berarti “Tidak Akan”

Ada perbedaan besar antara belum dan tidak akan.

“Belum” berarti proses masih berlangsung. “Belum” berarti Tuhan masih bekerja. “Belum” berarti cerita belum selesai.

Firman Tuhan mengingatkan:

“Segala sesuatu ada masanya, untuk apa pun di bawah langit ada waktunya.” (Pengkhotbah 3: 1)

Mungkin perekonomian belum membaik. Mungkin usaha belum berkembang. Mungkin doa belum terjawab seperti yang diharapkan.

Namun selama Tuhan masih memberi napas kehidupan, selalu ada kemungkinan bagi-Nya untuk membuka jalan yang baru.

Perenungan untuk shalom.click

Ketika manusia berhenti bertanya setelah mendengar keadaan kita belum baik, Tuhan tidak pernah menghentikan percakapan-Nya dengan kita.

Dia tetap mendengar. Dia tetap memperhatikan. Dia tetap bekerja.

Karena itu, jangan malu mengatakan kondisi yang sebenarnya. Kejujuran di hadapan Tuhan sering kali menjadi awal dari pemulihan yang sejati.

Penyebar: shalom.click | Ingot Simangunsong

Berita Terkait

Luka di hati gak akan SEMBUH kalau terus DISEMBUNYIKAN
Saat kebenaran dipelintir, jangan sampai hatimu ikut terbalik
Sekejap saja, Tuhan…
“Jangan cuma CEPAT NGETIK, tapi CEPAT DENGERIN!”
Damai yang tidak bergantung pada keadaan
Haruskah aku terus mengasihi orang yang terus menyakitiku?
Ketika AIB menjadi TONTONAN: Apa yang sedang terjadi dengan HATI MANUSIA?
Tetap mendengar suara Tuhan di tengah bangsa yang gelisah
Berita ini 13 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 22:56 WIB

Luka di hati gak akan SEMBUH kalau terus DISEMBUNYIKAN

Jumat, 31 Juli 2026 - 15:35 WIB

Saat kebenaran dipelintir, jangan sampai hatimu ikut terbalik

Selasa, 28 Juli 2026 - 22:07 WIB

Sekejap saja, Tuhan…

Senin, 27 Juli 2026 - 06:32 WIB

“Jangan cuma CEPAT NGETIK, tapi CEPAT DENGERIN!”

Sabtu, 25 Juli 2026 - 15:23 WIB

Damai yang tidak bergantung pada keadaan

Berita Terbaru

SULUH ZAMAN

Korupsi berawal dari hati yang tidak pernah puas

Selasa, 4 Agu 2026 - 06:37 WIB

RENUNGAN

Tuhan, Malam ini duduklah bersamaku

Selasa, 4 Agu 2026 - 00:20 WIB