Ketika Pajak Menjadi Beban: Belajar dari Raja Rehabeam dan Suara Para Nabi

Selasa, 4 Agustus 2026 - 15:58 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pajak Bukan Masalah, Ketidakadilanlah yang Menjadi Persoalan

PAJAK merupakan bagian dari kehidupan bernegara.

Melalui pajak, pemerintah membiayai pembangunan, pendidikan, kesehatan, infrastruktur, dan berbagai pelayanan publik.

Namun, persoalan muncul ketika rakyat merasa beban yang mereka tanggung semakin berat, sementara manfaat yang dirasakan tidak sebanding.

Pergumulan seperti ini ternyata bukan hanya terjadi pada zaman modern.

Alkitab juga mencatat sebuah peristiwa ketika kebijakan yang dianggap memberatkan rakyat justru memicu perpecahan sebuah kerajaan.

Raja Rehabeam Mengabaikan Suara Rakyat

Setelah Raja Salomo wafat pada abad ke-10 sebelum Masehi, putranya, Raja Rehabeam, naik takhta.

Rakyat datang memohon agar beban kerja paksa dan pungutan yang telah diberlakukan pada masa Salomo diringankan.

Alih-alih mendengar suara rakyat, Rehabeam mengikuti nasihat para pemuda di sekelilingnya.

Ia bahkan menyatakan akan membuat beban rakyat semakin berat.

Keputusan itu memicu perpecahan Kerajaan Israel.

Sepuluh suku memisahkan diri, sementara hanya Yehuda dan Benyamin yang tetap bersama Rehabeam (1 Raja-raja 12).

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa seorang pemimpin perlu memiliki hati yang mau mendengar, bukan hanya kekuasaan untuk memerintah.

Para Nabi Menyerukan Keadilan

Di tengah berbagai ketidakadilan sosial, para nabi tampil menyampaikan suara Allah.

Nabi Amos mengecam mereka yang menindas orang miskin dan mengambil keuntungan dari penderitaan rakyat.

Yesaya mengkritik pemimpin yang membuat aturan yang merugikan kaum lemah.

Mikha mengingatkan bahwa Allah menghendaki manusia berlaku adil, mencintai kasih setia, dan hidup dengan rendah hati.

Suara para nabi bukanlah ajakan untuk memberontak.

Mereka justru mengingatkan bahwa pemerintahan yang kuat harus berdiri di atas keadilan, kejujuran, dan kepedulian terhadap rakyat.

Relevansi bagi bangsa-bangsa saat ini

Setiap negara memiliki sistem perpajakan yang berbeda, dan pajak tetap menjadi sumber penting bagi pembangunan.

Namun, kisah Alkitab mengajarkan bahwa kebijakan publik perlu dijalankan dengan memperhatikan rasa keadilan.

Ketika masyarakat menyampaikan aspirasi mengenai beban ekonomi, pemerintah perlu mendengarkan dengan bijaksana.

Di sisi lain, masyarakat juga diajak menyampaikan kritik secara damai, bertanggung jawab, dan sesuai dengan hukum.

Pemimpin yang mau mendengar akan lebih mudah membangun kepercayaan.

Sebaliknya, jika suara rakyat diabaikan, hubungan antara pemerintah dan masyarakat dapat semakin renggang.

Gereja dan Tokoh Agama Memiliki Tanggung Jawab Moral

Para nabi pada zaman Alkitab tidak diam ketika melihat ketidakadilan.

Demikian pula pada masa kini, para pemimpin agama memiliki tanggung jawab moral untuk terus menyuarakan nilai-nilai keadilan, kejujuran, kepedulian kepada kaum lemah, serta penggunaan kekuasaan yang bertanggung jawab.

Suara kenabian bukanlah suara politik praktis, melainkan panggilan moral agar kehidupan bersama berjalan sesuai dengan nilai-nilai kebenaran dan kemanusiaan.

Penutup

Kisah Raja Rehabeam menunjukkan bahwa sebuah bangsa tidak hanya membutuhkan pemimpin yang kuat, tetapi juga pemimpin yang mau mendengar.

Pajak dapat menjadi alat untuk membangun kesejahteraan bersama apabila dikelola secara adil, transparan, dan berpihak pada kepentingan seluruh rakyat.

Firman Tuhan mengingatkan bahwa kekuasaan tanpa keadilan akan melahirkan perpecahan, sedangkan kepemimpinan yang rendah hati dan mau mendengar akan membawa damai bagi bangsa.

Itulah pesan yang tetap relevan bagi setiap zaman.

Penyebar: Shalom.click | Ingot Simangunsong

Berita Terkait

Lagi Ikutin Tuhan… atau Cuma Ngikutin Ego?
Harapan di Tengah Tekanan Ekonomi
Korupsi berawal dari hati yang tidak pernah puas
Generasi Digital: Bijak Menggunakan Teknologi sebagai Alat Kemuliaan Tuhan
Suara Rakyat adalah Suara Tuhan? Benarkah atau sekadar Slogan Politik?
Ketika kebencian mudah menyebar, orang percaya dipanggil menebar damai
Ketika perbedaan menjadi berkat
Salib Kasih Tarutung: Jejak Sejarah Berdirinya Monumen Iman di Tanah Batak
Berita ini 7 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 5 Agustus 2026 - 21:28 WIB

Lagi Ikutin Tuhan… atau Cuma Ngikutin Ego?

Rabu, 5 Agustus 2026 - 10:36 WIB

Harapan di Tengah Tekanan Ekonomi

Selasa, 4 Agustus 2026 - 15:58 WIB

Ketika Pajak Menjadi Beban: Belajar dari Raja Rehabeam dan Suara Para Nabi

Senin, 3 Agustus 2026 - 10:44 WIB

Generasi Digital: Bijak Menggunakan Teknologi sebagai Alat Kemuliaan Tuhan

Senin, 3 Agustus 2026 - 05:46 WIB

Suara Rakyat adalah Suara Tuhan? Benarkah atau sekadar Slogan Politik?

Berita Terbaru

SULUH ZAMAN

Lagi Ikutin Tuhan… atau Cuma Ngikutin Ego?

Rabu, 5 Agu 2026 - 21:28 WIB

SULUH ZAMAN

Harapan di Tengah Tekanan Ekonomi

Rabu, 5 Agu 2026 - 10:36 WIB

RENUNGAN

Tidak mungkin melayani dua tuan

Rabu, 5 Agu 2026 - 04:28 WIB