Resensi Buku The Ruthless Elimination of Hurry karya John Mark Comer
DI zaman ketika notifikasi ponsel berbunyi tanpa henti, pekerjaan seakan tidak pernah selesai, dan media sosial terus berlomba merebut perhatian, banyak orang merasa hidup semakin sibuk namun semakin kosong.
Kita berlari dari satu aktivitas ke aktivitas lain, tetapi sering kehilangan damai sejahtera yang dijanjikan Tuhan.
Buku The Ruthless Elimination of Hurry (Menyingkirkan Ketergesaan) karya John Mark Comer hadir sebagai suara profetik yang mengingatkan gereja modern akan bahaya yang sering tidak disadari: ketergesaan.
Musuh Rohani yang Tidak Terlihat
Dalam buku ini, Comer mengutip nasihat yang pernah diterima oleh penulis Kristen terkenal Dallas Willard.
Ketika ditanya apa yang paling mengancam kehidupan rohani orang percaya saat ini, jawabannya singkat:
“Kamu harus dengan kejam menyingkirkan ketergesaan dari hidupmu.“
Pesan inilah yang menjadi benang merah seluruh isi buku. Ketergesaan bukan sekadar masalah jadwal yang padat.
Ia adalah kondisi hati yang membuat seseorang sulit mendengar suara Tuhan, sulit menikmati keluarga, bahkan sulit mengasihi sesama dengan tulus.

Salah satu kekuatan buku ini adalah cara penulis membawa pembaca melihat kehidupan Yesus.
Meski melayani banyak orang, Yesus tidak pernah tampak tergesa-gesa. Ia memiliki waktu untuk berdoa, beristirahat, berjalan bersama murid-murid, dan memperhatikan orang-orang yang dianggap tidak penting oleh masyarakat.
Comer mengajak pembaca untuk kembali pada disiplin rohani yang sederhana namun mulai ditinggalkan: keheningan, Sabat, doa, pembacaan Alkitab, dan hidup yang lebih lambat namun lebih bermakna.
Relevan untuk Generasi Digital
Buku ini sangat relevan bagi masyarakat Indonesia saat ini. Banyak orang bangun pagi dengan ponsel di tangan dan tidur malam masih ditemani layar yang menyala. Akibatnya, pikiran terus bekerja tanpa henti, sementara jiwa semakin lelah.
Melalui bahasa yang ringan dan contoh-contoh kehidupan sehari-hari, buku ini membantu pembaca memahami bahwa keberhasilan sejati tidak diukur dari seberapa sibuk kita, melainkan seberapa dekat kita berjalan bersama Tuhan.
Buku ini mengingatkan kita pada firman Tuhan:
“Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah.” (Mazmur 46: 11)
Di tengah dunia yang terus berteriak agar kita bergerak lebih cepat, Tuhan justru mengundang kita untuk berhenti sejenak, mendengar suara-Nya, dan menemukan kembali damai sejahtera yang sejati.
Kesimpulan
The Ruthless Elimination of Hurry bukan sekadar buku tentang manajemen waktu. Buku ini adalah panggilan untuk bertobat dari budaya terburu-buru dan kembali hidup dalam ritme Kerajaan Allah.
Bagi siapa saja yang merasa lelah, kehilangan sukacita, atau kesulitan menemukan waktu bersama Tuhan, buku ini layak menjadi teman perjalanan rohani.
Rating Shalom.click: ⭐⭐⭐⭐⭐ (5/5)
Suluh Hikmat:
“Terkadang langkah iman yang paling penting bukanlah berlari lebih cepat, melainkan berhenti sejenak agar dapat berjalan seirama dengan Tuhan.” 🙏📖✨
Penyebar: Shalom.click | Ebenezer









