SELAMAT pagi, kawan Shalom.click.
DI tengah kemajuan zaman, ketika teknologi berkembang begitu pesat dan informasi bergerak dalam hitungan detik, kita justru sering menyaksikan kenyataan yang menyedihkan: hati manusia tidak selalu bertumbuh seiring dengan kecanggihan akalnya.
Ketika seseorang tega menghakimi, melukai, bahkan menghilangkan nyawa sesamanya, sesungguhnya ia sedang mengambil hak yang bukan miliknya.
Sebab hak hidup bukanlah milik manusia untuk diberikan ataupun dicabut sesuka hati. Hak hidup adalah anugerah dari Tuhan Sang Pencipta.
Firman Tuhan mengingatkan:
“Akulah yang mematikan dan yang menghidupkan.”
— Ulangan 32:39
Ayat ini menegaskan bahwa kehidupan berada dalam kedaulatan Tuhan. Tidak ada manusia yang memiliki otoritas mutlak atas hidup orang lain.
Peristiwa kekerasan yang berujung pada hilangnya nyawa sesama menjadi tanda bahwa ada sesuatu yang sedang sakit dalam kehidupan masyarakat.
Bukan hanya persoalan hukum, tetapi juga persoalan hati. Ketika amarah lebih cepat muncul daripada kasih, ketika penghakiman lebih mudah dilakukan daripada memahami, ketika kerumunan lebih suka menghukum daripada menolong, maka yang sedang mengalami krisis bukanlah teknologi, melainkan kemanusiaan.
Ironisnya, di era digital saat ini manusia dapat berkomunikasi dengan siapa saja di seluruh dunia, tetapi sering gagal membangun dialog dengan orang yang ada di dekatnya.
Teknologi berkembang, tetapi pengendalian diri tidak selalu ikut berkembang. Informasi melimpah, tetapi kebijaksanaan semakin langka. Jaringan semakin luas, tetapi hati semakin sempit.
Kejadian-kejadian tragis yang terjadi di berbagai tempat seharusnya menjadi alarm bagi kita semua.
Kemajuan sebuah peradaban tidak diukur dari kecanggihan alat yang dimiliki, melainkan dari seberapa tinggi penghargaan terhadap martabat manusia.
Ketika nyawa manusia menjadi murah, ketika kekerasan dianggap jalan keluar, dan ketika rasa takut mulai mengalahkan rasa aman, maka sesungguhnya ada yang perlu diperbaiki dalam cara kita memandang sesama.
Tuhan menciptakan manusia menurut gambar dan rupa-Nya. Karena itu, setiap nyawa memiliki nilai yang tak ternilai.
Tidak ada manusia yang begitu rendah sehingga pantas diperlakukan tanpa belas kasihan, dan tidak ada manusia yang begitu tinggi sehingga berhak menentukan hidup mati sesamanya.
Kiranya peristiwa-peristiwa yang menyayat hati ini tidak hanya menjadi berita yang berlalu, tetapi menjadi cermin untuk bertanya kepada diri sendiri: apakah kita sedang menabur kasih atau kebencian, membangun perdamaian atau memperbesar permusuhan?
Sebab dunia tidak menjadi lebih aman hanya karena teknologi semakin maju. Dunia menjadi lebih aman ketika manusia kembali menghormati Tuhan, menghargai sesama, dan menyadari bahwa setiap kehidupan adalah milik Sang Pencipta.
“Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.” (Matius 5: 9)
Penyebar: Shalom.click | Ebenezer & Kiran









