SELAMAT pagi, kawan Shalom.click.
BEBERAPA waktu lalu, ketika handphone yang biasa menemani aktivitas sehari-hari mendadak bermasalah, saya sempat merasakan sesuatu yang mungkin juga pernah dialami banyak orang: seolah ada ruang kosong yang tiba-tiba terbuka.
Komunikasi terasa terhambat, informasi tidak lagi mengalir secepat biasanya, dan rutinitas yang selama ini bergantung pada layar kecil itu mendadak berubah.
Namun di tengah ketidaknyamanan itu, muncul sebuah pertanyaan sederhana: bagaimana dahulu kita menjalani hidup sebelum handphone menjadi bagian yang nyaris tak terpisahkan dari keseharian?
Generasi yang pernah hidup di masa telepon rumah dan pager tentu masih mengingatnya. Bahkan tidak semua keluarga memiliki telepon.
Namun anehnya, hubungan antarmanusia tetap terjalin hangat. Janji pertemuan ditepati, sahabat saling mencari jika ada yang tidak hadir, dan warung-warung sederhana menjadi ruang percakapan yang penuh tawa serta cerita.
Saat itu, komunikasi memang tidak secepat sekarang, tetapi perhatian terasa lebih nyata.
Orang tidak hanya mengirim pesan, melainkan datang berkunjung. Tidak sekadar memberi tanda suka, tetapi menyatakan kepedulian dengan kehadiran.
Teknologi tentu adalah anugerah. Melalui handphone, jarak dapat dipersingkat dan informasi dapat diakses dalam hitungan detik.
Namun tanpa disadari, teknologi juga dapat membuat kita merasa terhubung dengan banyak orang, sementara hubungan yang sesungguhnya justru perlahan menjauh.
Mungkin sesekali kita perlu belajar berhenti sejenak. Bukan memusuhi teknologi, melainkan mengingat bahwa kehidupan tidak sepenuhnya bergantung pada sinyal dan baterai.
Ketika layar redup, bisa jadi itulah saatnya mata kita kembali memandang sesama. Ketika notifikasi berhenti berbunyi, mungkin Tuhan sedang mengajak kita mendengar suara-suara yang selama ini terabaikan.
Firman Tuhan mengingatkan:
“Karena itu nasihatilah seorang akan yang lain dan saling membangunlah kamu seperti yang memang kamu lakukan.” (1 Tesalonika 5:11)
Nasihat itu tidak hanya dapat dilakukan melalui pesan singkat atau media sosial, tetapi juga melalui kunjungan, sapaan hangat, dan kehadiran yang tulus. Sebab kasih tidak hanya membutuhkan kata-kata, melainkan juga perjumpaan.
Siapa tahu, suatu hari dunia digital mengalami gangguan besar dan semua perangkat komunikasi mendadak terdiam. Akankah kita masih mampu membangun relasi, menyapa tetangga, dan mengunjungi sahabat seperti dahulu?
Pertanyaan itu mungkin layak direnungkan.
Saat Anda membaca tulisan ini, mungkin bukan handphone yang sedang rusak. Bisa jadi justru hubungan dengan seseorang yang mulai retak karena terlalu lama tidak disapa.
Mungkin sudah waktunya menghubungi mereka. Atau lebih baik lagi, datang berkunjung.
Karena pada akhirnya, teknologi hanyalah alat. Sementara kasih, perhatian, dan persaudaraan adalah nilai yang harus terus dirawat.
Dan seperti setiap langkah yang baik, marilah kita memulainya dengan doa, lalu menutupnya juga dengan doa.
Bagaimana dengan ceritamu, kawan Shalom.click? Apakah pernah ada momen ketika handphone terdiam, tetapi justru hatimu menjadi lebih hidup?
Penyebar: Shalom.click | Ingot Simangunsong









