Apa itu Deuterokanonika?

Sabtu, 18 Juli 2026 - 05:01 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

DEUTEROKANONIKA adalah istilah yang digunakan untuk menyebut beberapa kitab dalam Perjanjian Lama yang diterima sebagai bagian dari Alkitab oleh Gereja Katolik dan Gereja Ortodoks, tetapi tidak diakui sebagai kitab kanonik oleh sebagian besar Gereja Protestan.

Kata Deuterokanonika berasal dari bahasa Yunani:

Deutero = kedua

Kanon = ukuran atau daftar kitab yang diakui sebagai Firman Tuhan

Jadi, Deuterokanonika berarti “kitab-kitab yang masuk ke dalam kanon pada tahap kedua”, bukan berarti nilainya lebih rendah, melainkan pengakuannya terjadi melalui proses yang lebih panjang.

Kitab-kitab Deuterokanonika meliputi:

Tobit

Yudit

Kebijaksanaan Salomo

Yesus bin Sirakh (Sirakh/Eklesiastikus)

Barukh

1 Makabe

2 Makabe

Tambahan pada Kitab Ester

Tambahan pada Kitab Daniel (Doa Azarya, Nyanyian Tiga Pemuda, Susana, Bel dan Naga)

Mengapa ada perbedaan?

Perbedaan ini berakar pada sejarah.

Gereja Katolik menerima kitab-kitab tersebut sebagai bagian dari Perjanjian Lama.

Pengakuan resminya ditegaskan dalam Konsili Trente sebagai tanggapan terhadap perdebatan pada masa Reformasi.

Sebagian besar Gereja Protestan mengikuti kanon Alkitab Ibrani, sehingga kitab-kitab Deuterokanonika tidak dimasukkan sebagai kitab kanonik.

Namun, beberapa edisi Alkitab Protestan tetap mencetaknya di bagian tersendiri sebagai bacaan yang bermanfaat secara historis dan rohani.

Apakah kitab-kitab itu berguna?

Ya. Terlepas dari perbedaan pandangan mengenai status kanonnya, kitab-kitab Deuterokanonika memberikan banyak informasi tentang kehidupan umat Yahudi pada masa antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.

Di dalamnya juga terdapat ajaran tentang hikmat, kesetiaan kepada Allah, doa, keberanian, dan pengharapan.

Jadi, jika di Alkitabmu ada bagian Deuterokanonika, itu berarti Alkitab tersebut memuat kitab-kitab yang diterima oleh tradisi Katolik (dan juga Ortodoks), sementara banyak gereja Protestan menganggapnya sebagai kitab apokrif atau kitab yang berguna untuk dibaca, tetapi bukan bagian dari kanon Kitab Suci.

Reformasi Abad ke-16

Pada masa Reformasi abad ke-16, Martin Luther menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Jerman.

Ketika menyusun Perjanjian Lama, ia mengikuti kanon Alkitab Ibrani, yang berisi 39 kitab dan tidak memasukkan kitab-kitab Deuterokanonika.

Alasan utamanya antara lain:

Mengikuti kanon Yahudi. Luther berpendapat bahwa Perjanjian Lama sebaiknya mengikuti kitab-kitab yang diterima oleh komunitas Yahudi sebagai Kitab Suci.

Beberapa ajaran dianggap tidak sejalan dengan pemahamannya.

Misalnya, dalam 2 Makabe 12: 43–45 terdapat kisah tentang doa bagi orang yang telah meninggal.

Ayat ini sering dijadikan salah satu dasar dalam tradisi Katolik mengenai doa bagi arwah.

Luther menilai ajaran seperti ini tidak selaras dengan pemahamannya tentang keselamatan oleh iman.

Kitab-kitab tersebut ditulis dalam bahasa Yunani.

Sebagian besar Deuterokanonika terdapat dalam versi Yunani Perjanjian Lama yang dikenal sebagai Septuaginta, bukan dalam kumpulan kitab berbahasa Ibrani yang digunakan sebagai kanon Yahudi.

Namun, penting diketahui bahwa Martin Luther tidak benar-benar “membuang” kitab-kitab itu.

Dalam Alkitab terjemahannya, ia tetap mencetak Deuterokanonika di bagian tersendiri dengan keterangan bahwa kitab-kitab tersebut “baik dan berguna untuk dibaca”, tetapi tidak disamakan dengan Kitab Suci yang menjadi dasar utama ajaran.

Seiring waktu, banyak penerbit Alkitab Protestan kemudian tidak lagi mencetak bagian Deuterokanonika, terutama karena alasan praktis dan biaya pencetakan.

Akibatnya, banyak orang mengira Luther menghapus kitab-kitab tersebut, padahal awalnya ia masih menyertakannya sebagai bagian terpisah.

Sementara itu, Gereja Katolik tetap mempertahankan Deuterokanonika sebagai bagian dari kanon Alkitab.

Pada Konsili Trente, gereja menegaskan kembali bahwa kitab-kitab tersebut adalah Kitab Suci yang diilhami Allah.

Jadi, perbedaan antara Alkitab Protestan dan Katolik bukan karena ada pihak yang sengaja menambah atau mengurangi Firman Tuhan, melainkan karena keduanya mengikuti tradisi kanon yang berbeda yang telah berkembang sejak masa gereja mula-mula.

Hal yang paling penting adalah bahwa semua orang percaya, baik Protestan maupun Katolik, sama-sama mengakui bahwa keselamatan ada di dalam Yesus Kristus.

Perbedaan mengenai kanon Perjanjian Lama tidak mengubah inti Injil tentang kasih karunia Allah melalui kematian dan kebangkitan Kristus.

Kiranya penjelasan ini menambah pemahaman dan semakin mendorong kita untuk mencintai Firman Tuhan serta mempelajarinya dengan hati yang rendah.

Penyebar: Shalom.click | Ebenezer

Berita Terkait

Gereja jangan cuma bicara, bumi juga butuh dijaga
Yesaya 40: 31 tentang kekuatan baru
Allah kota benteng kita
Ketika sebuah postingan menjadi tempat seseorang mencari penguatan
PT Hydra Media Indonesia perluas Jaringan Fiber Optik, Dukung Siantar makin terkoneksi
5 tanda bahwa Tuhan Yesus sangat peduli kepada kita
Paduan Suara Gereja yang menginspirasi Dunia: Ketika Pujian menjangkau Bangsa-Bangsa
Jangan minder dengan yang kecil, Tuhan bisa membuatnya berdampak besar
Berita ini 21 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 11 September 2026 - 12:50 WIB

Gereja jangan cuma bicara, bumi juga butuh dijaga

Kamis, 3 September 2026 - 07:16 WIB

Yesaya 40: 31 tentang kekuatan baru

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 07:18 WIB

Allah kota benteng kita

Jumat, 21 Agustus 2026 - 23:07 WIB

Ketika sebuah postingan menjadi tempat seseorang mencari penguatan

Rabu, 12 Agustus 2026 - 14:30 WIB

PT Hydra Media Indonesia perluas Jaringan Fiber Optik, Dukung Siantar makin terkoneksi

Berita Terbaru

SULUH ZAMAN

Yesus, Roti kehidupan sejati

Jumat, 16 Okt 2026 - 12:34 WIB

SULUH ZAMAN

Karena kita telah lebih dahulu dikasihi

Jumat, 2 Okt 2026 - 07:43 WIB