SEDIKIT catatan terlebih dahulu: dalam tradisi Kristen, Sirakh (Yesus bin Sirakh) umumnya tidak disebut sebagai nabi.
Ia dikenal sebagai seorang ahli hikmat (scribe/sage) yang menulis kitab kebijaksanaan, yaitu Kitab Sirakh (Ecclesiasticus) sekitar abad ke-2 SM.
Kitab ini termasuk dalam kitab Deuterokanonika, yang diakui oleh Gereja Katolik dan Ortodoks, tetapi tidak termasuk dalam kanon Perjanjian Lama sebagian besar gereja Protestan.
Nats: “PERMULAAN hikmat ialah takut akan Tuhan; hikmat diciptakan bersama orang-orang beriman dalam kandungan.” (Sirakh 1: 14)
DI tengah dunia yang semakin mengagungkan kepintaran, prestasi, dan kekayaan, Yesus bin Sirakh mengingatkan bahwa sumber hikmat sejati bukanlah kecerdasan manusia, melainkan hati yang menghormati Tuhan.
Hikmat tidak hanya terlihat dari banyaknya pengetahuan, tetapi dari cara seseorang hidup dalam kebenaran, kejujuran, dan kasih.
Yesus bin Sirakh mengajarkan bahwa orang yang takut akan Tuhan akan belajar mengendalikan lidahnya, berlaku adil kepada sesama, menghormati orang tua, serta rendah hati dalam setiap keberhasilan.
Hikmat selalu menghasilkan kehidupan yang membawa damai, bukan kesombongan.
Ajaran ini tetap relevan hingga hari ini.
Di tengah derasnya arus informasi, orang percaya dipanggil bukan sekadar menjadi pintar, tetapi menjadi bijaksana.
Dunia membutuhkan lebih banyak pribadi yang mengambil keputusan berdasarkan nilai-nilai Tuhan, bukan semata-mata keuntungan pribadi.
Marilah kita memohon agar Tuhan memenuhi hati kita dengan hikmat-Nya, sehingga setiap perkataan, keputusan, dan tindakan menjadi kesaksian yang memuliakan nama-Nya.
Sebab ketika kita berjalan dalam hikmat Tuhan, hidup kita akan menjadi berkat bagi banyak orang.
Doa:
Tuhan, ajarlah kami memiliki hati yang takut akan Engkau agar kami hidup dalam hikmat-Mu setiap hari.
Tolong kami mengambil keputusan yang benar, mengasihi sesama, dan memuliakan nama-Mu melalui seluruh kehidupan kami. Amin.
Penyebar: Shalom.click | Ingot Simangunsong









