DI zaman media sosial, setiap orang memiliki ruang untuk menyampaikan pendapat.
Hanya dengan beberapa sentuhan di layar ponsel, sebuah komentar, unggahan, atau pesan dapat menyebar kepada ribuan orang dalam hitungan detik.
Sayangnya, kemudahan ini sering kali membuat banyak orang lupa bahwa setiap kata memiliki dampak yang besar.
Yakobus mengingatkan bahwa lidah memang kecil, tetapi mampu menimbulkan akibat yang sangat besar.
Lidah dapat menjadi alat untuk memuliakan Tuhan, namun juga dapat melukai sesama.
Di era digital, “lidah” bukan hanya perkataan yang diucapkan, melainkan juga setiap tulisan, komentar, unggahan, dan pesan yang kita bagikan.
Sebagai pengikut Kristus, kita dipanggil untuk menjadi terang, termasuk di dunia maya.
Jangan mudah terpancing menyebarkan berita yang belum tentu benar, ikut menghina orang lain, atau membalas kebencian dengan kata-kata kasar.
Sebaliknya, setiap tulisan hendaknya membawa damai, menguatkan yang lemah, menyampaikan kebenaran dengan kasih, dan menjadi kesaksian tentang karakter Kristus.
Sebelum menekan tombol “kirim” atau “bagikan”, marilah bertanya kepada diri sendiri: Apakah ini benar? Apakah ini membangun? Apakah ini memuliakan Tuhan?
Bila jawabannya tidak, lebih baik menahan diri daripada melukai banyak orang.
Kiranya melalui perkataan dan tulisan kita, nama Tuhan dimuliakan, sesama diberkati, dan dunia melihat kasih Kristus yang nyata melalui kehidupan kita.
Doa:
Tuhan Yesus, ajarlah kami mengendalikan lidah, perkataan, dan setiap tulisan kami.
Biarlah apa yang kami ucapkan maupun bagikan di media sosial menjadi berkat, membawa damai, dan memuliakan nama-Mu.
Jauhkan kami dari fitnah, kebencian, dan perkataan yang melukai sesama.
Dalam nama Yesus kami berdoa. Amin.
Penyebar: Shalom.click | Ingot Simangunsong









