Nats: “Celakalah mereka yang menyebut yang jahat itu baik dan yang baik itu jahat, yang mengubah kegelapan menjadi terang dan terang menjadi kegelapan...” (Yesaya 5: 20).
DI tengah derasnya arus informasi, manusia semakin mudah memperoleh berita, tetapi semakin sulit membedakan mana yang benar dan mana yang menyesatkan.
Media sosial memungkinkan setiap orang menjadi penyebar informasi dalam hitungan detik.
Sayangnya, kecepatan sering kali mengalahkan ketelitian.
Hoaks, fitnah, manipulasi fakta, dan narasi yang dibangun demi kepentingan tertentu dapat membentuk opini publik tanpa didasarkan pada kebenaran.
Fenomena ini sesungguhnya bukan hal baru.
Nabi Yesaya telah menegur bangsanya ketika nilai-nilai moral dibalikkan.
Yang jahat dipuji, sementara yang benar justru disalahkan.
Kebenaran menjadi relatif karena manusia lebih memilih apa yang menguntungkan dirinya daripada apa yang berkenan kepada Allah.
Kondisi tersebut juga dapat terlihat dalam kehidupan sehari-hari.
Kejujuran kadang dianggap sebagai kelemahan, sedangkan kelicikan dipandang sebagai kecerdikan.
Integritas sering dikorbankan demi popularitas, keuntungan ekonomi, atau ambisi politik.
Ketika hati nurani dibungkam, masyarakat perlahan kehilangan arah.
Firman Tuhan mengingatkan bahwa kebenaran bukanlah sesuatu yang ditentukan oleh suara mayoritas atau tren zaman.
Kebenaran berasal dari Allah yang tidak berubah.
Karena itu, orang percaya dipanggil untuk menguji setiap informasi dengan hikmat, tidak mudah terprovokasi, tidak ikut menyebarkan kabar yang belum terverifikasi, dan tetap berani menyuarakan kebenaran dengan kasih.
Menjadi pembela kebenaran memang tidak selalu mudah.
Ada kalanya orang yang jujur justru disalahpahami atau mengalami tekanan.
Namun, Tuhan memanggil umat-Nya untuk tetap setia.
Terang akan tetap bersinar sekalipun kegelapan berusaha menutupinya.
Kiranya gereja dan setiap orang percaya menjadi saksi Kristus yang menghadirkan kejujuran, integritas, dan kasih di tengah dunia yang semakin haus akan kebenaran.
Sebab hanya kebenaran Allah yang sanggup memerdekakan manusia dan membawa kehidupan.
Refleksi: Apakah saya lebih mudah mempercayai informasi yang sesuai dengan keinginan saya, atau saya sungguh-sungguh mencari kebenaran menurut Firman Tuhan?
Doa:
Tuhan, berikanlah aku hati yang mencintai kebenaran, hikmat untuk membedakan yang benar dari yang salah, serta keberanian untuk hidup jujur di mana pun Engkau menempatkanku.
Jadikan aku pembawa terang-Mu di tengah dunia yang sering mengaburkan kebenaran. Dalam nama Yesus Kristus. Amin.
Penyebar: Shalom.click | Ebenezer









