Permata Yasfis dan Sardis: Tuhan yang Kudus, Mengasihi, dan Selalu Ingat Anak-Nya

Minggu, 26 Juli 2026 - 05:50 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Nats: Wahyu 4: 3

“Dan Dia yang duduk di atas takhta itu, tampaknya bagaikan permata yasfis dan sardis…”

KALAU disuruh menggambarkan Tuhan, kira-kira pakai kata apa?

Yohanes sampai kehabisan kata. Saat melihat kemuliaan Allah di atas takhta, ia memilih menggambarkannya dengan dua permata yang sangat berharga: yasfis dan sardis.

Menariknya, dua permata ini bukan muncul begitu saja.

Di Perjanjian Lama, kedua batu ini juga ada di tutup dada Imam Besar (efod). Sardis adalah batu pertama yang melambangkan suku Ruben, anak sulung Yakub.

Nama Ruben berarti, “Lihatlah, seorang anak!” Sebuah pengingat bahwa Allah melihat dan mengingat umat-Nya.

Sedangkan yasfis merupakan batu terakhir yang melambangkan suku Benyamin, anak bungsu Yakub.

Benyamin berarti, “Anak tangan kanan.”

Dalam Alkitab, tangan kanan sering menjadi lambang kehormatan, kemenangan, dan kuasa.

Seolah-olah Tuhan sedang berkata, “Aku mengenal umat-Ku dari yang pertama sampai yang terakhir. Tidak ada satu pun yang terlupakan.”

Keren, ya?

Di dalam Wahyu, dua batu itu kembali muncul mengelilingi takhta Allah.

Pesannya jelas: Allah yang memimpin dunia adalah Allah yang sama, yang tetap setia pada janji-Nya sejak dulu sampai selama-lamanya.

Buat kita hari ini, maknanya sederhana tapi dalam.

Mungkin kamu merasa hidupmu biasa-biasa saja.

Mungkin kamu merasa Tuhan sedang diam. Atau mungkin kamu berpikir, “Apa Tuhan masih ingat aku?

Jawabannya: Iya!

Tuhan yang duduk di atas takhta masih melihatmu.

Dia tetap memegang hidupmu. Kekudusan-Nya digambarkan dalam kilau yasfis, sementara kasih dan kesetiaan-Nya terpancar melalui sardis.

Jadi, jangan cuma terpukau oleh kilau dunia yang cepat pudar.

Pandanglah Tuhan yang kemuliaan-Nya tidak pernah redup.

Saat mata kita tertuju kepada-Nya, hati kita akan dipenuhi pengharapan baru.

Karena di hadapan Raja segala raja, kita bukan orang yang terlupakan.

Kita adalah anak-anak yang dikasihi-Nya, dari awal sampai akhir.

Kiranya renungan ini mengingatkan kita bahwa takhta Allah tidak hanya memancarkan kemuliaan, tetapi juga kasih dan kesetiaan-Nya yang tidak pernah berubah. Amin.

Penyebar: Shalom.click | Kiran Karin

Berita Terkait

Jangan main-main dengan KEPERCAYAAN RAKYAT
Tuhan tidak pernah terlambat
Ketika AIB KELUARGA menjadi KONSUMSI PUBLIK: Apa kata Firman Tuhan?
“Ketika pemimpin kehilangan hikmat: Apa kata Alkitab?”
Belajar dari Abram: Ketika Mengalah Justru Membuka Jalan Berkat
Seberapa pentingkah penghargaan atas perbuatan baik kita kepada sesama?
Ketika malam menjadi tempat berserah
Saat handphone diam, hati belajar mendengar
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 26 Juli 2026 - 05:50 WIB

Permata Yasfis dan Sardis: Tuhan yang Kudus, Mengasihi, dan Selalu Ingat Anak-Nya

Sabtu, 25 Juli 2026 - 03:08 WIB

Jangan main-main dengan KEPERCAYAAN RAKYAT

Jumat, 24 Juli 2026 - 15:05 WIB

Tuhan tidak pernah terlambat

Selasa, 21 Juli 2026 - 23:09 WIB

Ketika AIB KELUARGA menjadi KONSUMSI PUBLIK: Apa kata Firman Tuhan?

Rabu, 1 Juli 2026 - 04:54 WIB

“Ketika pemimpin kehilangan hikmat: Apa kata Alkitab?”

Berita Terbaru

NAFAS KASIH

Damai yang tidak bergantung pada keadaan

Sabtu, 25 Jul 2026 - 15:23 WIB

RENUNGAN

Jangan main-main dengan KEPERCAYAAN RAKYAT

Sabtu, 25 Jul 2026 - 03:08 WIB

RENUNGAN

Tuhan tidak pernah terlambat

Jumat, 24 Jul 2026 - 15:05 WIB