Ketika bahasa tidak lagi mempersatukan

Sabtu, 18 Juli 2026 - 20:50 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

DI tengah derasnya arus informasi, kita sering menyaksikan perdebatan yang tak berkesudahan.

Pernyataan para pejabat, pemimpin, maupun tokoh intelektual kerap menimbulkan tafsir yang berbeda-beda.

Yang satu berbicara, yang lain menyanggah.

Masyarakat pun dibuat bingung, bahkan kehilangan kepercayaan.

Pertanyaannya, apakah ini sekadar persoalan komunikasi, atau ada sesuatu yang lebih mendasar?

Alkitab mencatat kisah Menara Babel (Kejadian 11: 1–9). Banyak orang mengingatnya sebagai peristiwa ketika Allah mengacaukan bahasa manusia.

Namun, jika dicermati lebih dalam, akar persoalannya bukanlah bahasa, melainkan hati manusia yang dipenuhi kesombongan.

Mereka ingin membangun nama bagi diri sendiri tanpa mengindahkan kehendak Allah.

Bahasa yang kacau hanyalah akibat. Penyebab utamanya adalah hati yang tidak lagi berpusat kepada Tuhan.

Bukankah kondisi itu masih dapat kita lihat pada zaman ini?

Kita mungkin menggunakan bahasa yang sama, tetapi belum tentu memiliki semangat yang sama untuk mencari kebenaran dan melayani sesama.

Ketika kepentingan pribadi, kelompok, atau kekuasaan lebih diutamakan, komunikasi berubah menjadi alat pembenaran, bukan sarana membangun pengertian.

Karena itu, persoalan zaman ini bukan sekadar “kekacauan bahasa”, melainkan kekacauan cara berpikir dan orientasi hidup.

Kepandaian tanpa hikmat dapat melahirkan keputusan yang membingungkan.

Jabatan tanpa integritas dapat mengikis kepercayaan. Ilmu pengetahuan tanpa kerendahan hati dapat menjauhkan manusia dari kebenaran.

Firman Tuhan mengingatkan, “Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN” (Amsal 9: 10).

Hikmat ilahi menolong manusia bukan hanya berbicara dengan benar, tetapi juga berpikir benar, bertindak benar, dan mengutamakan kepentingan bersama.

Tulisan ini bukan untuk menghakimi siapa pun. Justru, kisah Babel menjadi cermin bagi kita semua.

Sebelum menilai orang lain, kita diajak bertanya kepada diri sendiri: apakah perkataan kita membawa kejelasan atau kebingungan? Apakah keputusan kita lahir dari hikmat atau sekadar ambisi?

Bangsa ini membutuhkan lebih banyak pemimpin yang rendah hati, cendekiawan yang bijaksana, dan masyarakat yang mengedepankan dialog yang jujur.

Ketika hati kembali berpusat kepada Tuhan, bahasa tidak lagi menjadi alat perpecahan, melainkan jembatan yang menghubungkan sesama.

Suluh Zaman mengingatkan kita bahwa terang perubahan tidak dimulai dari megahnya menara yang dibangun manusia, melainkan dari hati yang mau dibentuk oleh hikmat Allah.

 

Penyebar: Shalom.click | Ingot Simangunsong

Berita Terkait

Jangan takut, Tuhan ada bersamamu
Ketika Gereja dipanggil hadir di tengah krisis kemanusiaan dunia
BELALANG tidak punya Raja, tapi tahu cara bersatu
Lagi Ikutin Tuhan… atau Cuma Ngikutin Ego?
Harapan di Tengah Tekanan Ekonomi
Ketika Pajak Menjadi Beban: Belajar dari Raja Rehabeam dan Suara Para Nabi
Korupsi berawal dari hati yang tidak pernah puas
Generasi Digital: Bijak Menggunakan Teknologi sebagai Alat Kemuliaan Tuhan
Berita ini 12 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 28 Agustus 2026 - 06:58 WIB

Jangan takut, Tuhan ada bersamamu

Rabu, 19 Agustus 2026 - 10:55 WIB

Ketika Gereja dipanggil hadir di tengah krisis kemanusiaan dunia

Selasa, 11 Agustus 2026 - 12:11 WIB

BELALANG tidak punya Raja, tapi tahu cara bersatu

Rabu, 5 Agustus 2026 - 21:28 WIB

Lagi Ikutin Tuhan… atau Cuma Ngikutin Ego?

Rabu, 5 Agustus 2026 - 10:36 WIB

Harapan di Tengah Tekanan Ekonomi

Berita Terbaru

RENUNGAN

RENUNGAN PAGI, Jangan berhenti mengetuk

Rabu, 2 Sep 2026 - 05:22 WIB

KABAR BAIK HARI INI

Allah kota benteng kita

Sabtu, 29 Agu 2026 - 07:18 WIB

SULUH ZAMAN

Jangan takut, Tuhan ada bersamamu

Jumat, 28 Agu 2026 - 06:58 WIB

LENTERA FAKTA

Mengikut Yesus keputusanku: Ketika tidak ada jalan untuk kembali

Selasa, 25 Agu 2026 - 05:22 WIB