DICERITAKAN bahwa Raja Midas mendapat kesempatan meminta satu anugerah dari dewa Dionysus. Karena sangat mencintai kekayaan, Midas meminta agar apa pun yang disentuhnya berubah menjadi emas.
Awalnya ia sangat gembira. Pohon, batu, kursi, bahkan istananya berubah menjadi emas. Namun kegembiraan itu tidak berlangsung lama.
Ketika hendak makan dan minum, makanan dan minumannya juga berubah menjadi emas.
Dalam beberapa versi cerita, bahkan putrinya yang sangat dikasihi ikut berubah menjadi patung emas ketika disentuhnya.
Saat itulah Midas menyadari bahwa apa yang dianggap sebagai berkat ternyata berubah menjadi kutuk.
Ia memiliki emas melimpah, tetapi kehilangan hal-hal yang membuat hidup bermakna.
Relevansinya dengan kehidupan masa kini
Walaupun hanya mitologi, pesan cerita ini sangat relevan.
Banyak orang mengejar:
Kekayaan tanpa batas.
Jabatan tanpa batas.
Kekuasaan tanpa batas.
Popularitas tanpa batas.
Sering kali seseorang begitu fokus mengumpulkan “emas” sehingga kehilangan:
Kesehatan.
Keluarga.
Persahabatan.
Integritas.
Kedamaian batin.
Hubungan dengan Tuhan.
Tidak sedikit orang yang akhirnya memiliki banyak harta tetapi hidup dalam kesepian, ketakutan, atau konflik.
Apakah keserakahan berdampak pada diri sendiri?
Tentu, bahkan sering kali dampak pertama keserakahan justru dirasakan oleh pelakunya sendiri.
Keserakahan dapat:
Membuat seseorang tidak pernah merasa cukup.
Menghilangkan rasa syukur.
Mendorong tindakan yang melanggar hukum atau moral.
Merusak hubungan dengan sesama.
Menimbulkan kecemasan karena takut kehilangan apa yang dimiliki.
Menghancurkan reputasi dan masa depan.
Dalam banyak kasus korupsi, misalnya, seseorang yang awalnya hidup berkecukupan akhirnya kehilangan jabatan, nama baik, kebebasan, bahkan keluarganya karena tidak mampu mengendalikan keinginan untuk terus menambah “emas”.
Alkitab juga mengingatkan hal yang serupa:
“Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang.” (1 Timotius 6: 10)
Firman Tuhan tidak mengatakan bahwa uang itu jahat, tetapi cinta uang yang berlebihan dapat menjerumuskan manusia.
Dan dalam Amsal 15: 27 tertulis:
“Siapa loba akan keuntungan gelap mengacaukan rumah tangganya.”
Renungan untuk kita
Kisah Raja Midas mengajarkan bahwa kekayaan adalah alat, bukan tujuan hidup. Ketika harta menjadi tuan atas hati manusia, manusia dapat kehilangan hal-hal yang jauh lebih berharga daripada emas.
Mungkin pertanyaan yang perlu kita renungkan bukanlah, “Berapa banyak yang sudah saya miliki?” melainkan, “Apakah saya masih mampu bersyukur atas apa yang telah Tuhan percayakan?”
Sebab orang yang selalu merasa kurang akan tetap miskin di tengah kelimpahan, sedangkan orang yang bersyukur dapat merasakan kekayaan sejati bahkan dalam kesederhanaan.
Kiranya Tuhan menolong kita memiliki hati yang mampu berkata seperti Rasul Paulus:
“Aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan.” (Filipi 4: 11)
Karena sesungguhnya kekayaan terbesar bukanlah apa yang ada di tangan kita, melainkan apa yang ada di dalam hati kita:
Hati yang mengenal Tuhan.
Hati yang bersyukur.
Hati yang mengasihi sesama.
Hati yang tetap setia ketika diberkati maupun ketika diuji.
Untuk pembaca shalom.click, pesan singkatnya dapat dirangkum demikian:
“Keserakahan mengubah berkat menjadi beban, tetapi rasa syukur mengubah apa yang kita miliki menjadi kecukupan.”
Penyebar: shalom.click | Ebenezer









