Uzia 16 tahun jadi raja. Tuhan bikin dia kuat, terkenal, menang perang.
Benteng dibangun. Ladang digarap. Sumur digali. Rakyat sejahtera. 2 Tawarikh 26:5-15
Tapi ayat 16 bilang: “Setelah ia menjadi kuat, ia menjadi tinggi hati, sehingga ia berubah setia…”
Awalnya dia tanya Tuhan lewat Zakharia. Akhirnya dia ngusir imam, bakar ukupan sendiri. Mahkota bikin dia lupa: dia cuma pipa.

Pemimpin hari ini mirip Uzia versi update…
Awalnya janji “jaga ciptaan, sejahterakan rakyat”. Hutan dijaga, harga stabil, yang lemah dipeluk.
Tapi lama-lama kuasa jadi candu. Hutan jadi proyek. Rakyat jadi angka. Ciptaan Tuhan jadi bahan baku.
Bukan nggak pinter. Bukan nggak mampu. Tapi “tinggi hati”. Lupa tanya Sumber. Lupa jadi saluran.
Tuhan nggak cari pemimpin sempurna. Tuhan cari pemimpin yang tetap jadi pipa…
Pipa nggak ngaku punya air. Pipa cuma ngalirin. Pipa nggak minta disembah. Pipa cuma nunduk.
Kalau Uzia berhenti bakar ukupan di Bait Allah… mungkin kusta nggak nyentuh dahinya. 2 Tawarikh 26:19-21
Pemimpin hari ini kalau berhenti “bakar ukupan sendiri”… mungkin rakyat nggak jadi korban.
Ayat kunci:
2 Tawarikh 26:5 – “Ia mencari Allah selama Zakharia hidup. Selama ia mencari TUHAN, Allah membuat segala usahanya berhasil.”
Kalimat kunci renungan:
“Mahkota paling berat bukan saat dipakai. Tapi saat bikin pemakainya lupa… dia cuma pipa, bukan Sumber.”
Penyebar: shalom.click | Kiran Karin









